FITNESS & HEALTH
Makan Bersama hingga Sajikan Variasi Asupan, Pondasi Intelektualitas Anak
A. Firdaus
Sabtu 10 Oktober 2026 / 16:20
- Kecerdasan anak dipengaruhi nutrisi, stimulasi, dan pola asuh.
- Di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua.
- Stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak.
Jakarta: Moms dan Dads, siapa sangka bahwa intelektualitas seorang anak tak hanya dari faktor genetik, melainkan eksternal? Beberapa pakar menjelaskan kaitannya dengan makan bersama dan variasi asupan.
Kecerdasan anak paling optimal berkembang di masa golden period, yaitu sejak masa prenatal (dalam kandungan) hingga sekitar usia 5 tahun. Puncak plastisitas terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan window of opportunity atau "jendela belajar".
Pada periode ini, otak berkembang sangat pesat sehingga pengalaman, stimulasi. nutrisi, dan interaksi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Namun penting dipahami juga bahwa periode penting perkembangan optimal kecerdasan anak tidak berhenti pada usia 2 tahun.
Ratih Ibrahim, M.M., Senior Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua. Keduanya adalah critical period dan sensitive period.
Critical period merujuk pada fase yang relatif lebih spesifik ketika stimulasi atau input tertentu diperlukan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal. Sementara itu sensitive period adalah masa ketika otak dan perilaku sangat responsif terhadap pengalaman tertentu, sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak yang lebih kuat.
"Pada masa sensitive period perkembangan sosial dan emosional, stimulasi kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit," katanya dalam diskusi media bersama Danone di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
"Orang tua dapat mulai dengan merespons emosi anak secara tenang membantu anak memahami perasaannya, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh bagaimana mengelola emosi mengajak anak bermain dan belajar bergantian, membaca buku bersama, mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan tokoh, serta memberi kesempatan anak berinteraksi dan menyelesaikan masalah sesuai usianya," jelas Ratih.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunitv Council (GIC), lebih lanjut menjelaskan bahwa stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak.
"Pencernaan merupakan otak kedua anak. Hal ini disebabkan karena otak dan saluran pencernaan saling terhubung sebagai Gut-Brain Axis (GBA).87,8, di mana nutrisi menjadi asupan kinerja otak dan juga dapat mempengaruhi perilaku serta suasana hati anak," papar dr. Ray.
Namun, penting untuk dipahami bahwa. mikrobiota usus merupakan kunci dari perkembangan Gut-Brain Axis, dimana sepanjang sistem pencernaan merupakan tempat bagi lebih dari 100 triliun mikrobiota saluran cerna, dan pada periode ini adalah golden period untuk perkembangan dan kematangan mikrobiota di saluran cerna.
Orang tua memiliki peran penting dalam pemenuhan makanan si kecil. Bukan hanya soal terpenuhnya Isi Piringku sesuai anjuran Kementerian Kesehatan. Namun, pentingnya mengenalkan kepada anak-anak berbagai variasi makanan.
"Selagi bukan makanan yang dilarang oleh agama masing-masing dan alergi, sangat baik untuk mengajak atau menyajikan anak makanan yang lebih variasi," jelas dr. Ray.
Pencernaan yang sehat merupakan salah satu fondasi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, untuk mendukung potensi anak secara optimal, nutrisi dan kesehatan perlu berjalan bersama dengan stimulasi pengasuhan responsif, dan kesempatan belajar.
Psikolog Ratih lebih lanjut menjelaskan bahwa anak yang terlihat bahagia dan cerdas, ada beberapa benang merah yang terhubung. Salah satunya adalah anak diajak untuk makan bersama.
"Banyak juga peristiwa yang bisa kita ceritakan berakhir di meja makan. Selesai di meja makan, mulai di meja makan, berakhirnya di meja makan," kata Psikolog Ratih.
Ia mengobservasi lingkungan sekitarnya bahwa beberapa keluarga yang ditemuimya berhasil utuh dan memiliki kepercayaan satu sama lain. Hal ini dikarenakan investasi dari hasil makan bersama dengan keluarga.
"Dan anak-anak ini juga akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang happy, karena dia belajar dari orang tuanya. Padahal nanti berhasil dengan pasangannya, saya juga lihat orang aslinya sehat banget," imbuhnya.
(FIR)
Kecerdasan anak paling optimal berkembang di masa golden period, yaitu sejak masa prenatal (dalam kandungan) hingga sekitar usia 5 tahun. Puncak plastisitas terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan window of opportunity atau "jendela belajar".
Pada periode ini, otak berkembang sangat pesat sehingga pengalaman, stimulasi. nutrisi, dan interaksi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Namun penting dipahami juga bahwa periode penting perkembangan optimal kecerdasan anak tidak berhenti pada usia 2 tahun.
Ratih Ibrahim, M.M., Senior Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua. Keduanya adalah critical period dan sensitive period.
Critical period merujuk pada fase yang relatif lebih spesifik ketika stimulasi atau input tertentu diperlukan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal. Sementara itu sensitive period adalah masa ketika otak dan perilaku sangat responsif terhadap pengalaman tertentu, sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak yang lebih kuat.
"Pada masa sensitive period perkembangan sosial dan emosional, stimulasi kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit," katanya dalam diskusi media bersama Danone di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Ki-Ka: Psikolog Ratih Ibrahim - Peneliti sekaligus Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi. Dok. Aulia/Medcom
"Orang tua dapat mulai dengan merespons emosi anak secara tenang membantu anak memahami perasaannya, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh bagaimana mengelola emosi mengajak anak bermain dan belajar bergantian, membaca buku bersama, mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan tokoh, serta memberi kesempatan anak berinteraksi dan menyelesaikan masalah sesuai usianya," jelas Ratih.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunitv Council (GIC), lebih lanjut menjelaskan bahwa stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak.
"Pencernaan merupakan otak kedua anak. Hal ini disebabkan karena otak dan saluran pencernaan saling terhubung sebagai Gut-Brain Axis (GBA).87,8, di mana nutrisi menjadi asupan kinerja otak dan juga dapat mempengaruhi perilaku serta suasana hati anak," papar dr. Ray.
Namun, penting untuk dipahami bahwa. mikrobiota usus merupakan kunci dari perkembangan Gut-Brain Axis, dimana sepanjang sistem pencernaan merupakan tempat bagi lebih dari 100 triliun mikrobiota saluran cerna, dan pada periode ini adalah golden period untuk perkembangan dan kematangan mikrobiota di saluran cerna.
Orang tua memiliki peran penting dalam pemenuhan makanan si kecil. Bukan hanya soal terpenuhnya Isi Piringku sesuai anjuran Kementerian Kesehatan. Namun, pentingnya mengenalkan kepada anak-anak berbagai variasi makanan.
"Selagi bukan makanan yang dilarang oleh agama masing-masing dan alergi, sangat baik untuk mengajak atau menyajikan anak makanan yang lebih variasi," jelas dr. Ray.
Pencernaan yang sehat merupakan salah satu fondasi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, untuk mendukung potensi anak secara optimal, nutrisi dan kesehatan perlu berjalan bersama dengan stimulasi pengasuhan responsif, dan kesempatan belajar.
Berkumpul dan makan bersama di meja makan jadi momen penting
Psikolog Ratih lebih lanjut menjelaskan bahwa anak yang terlihat bahagia dan cerdas, ada beberapa benang merah yang terhubung. Salah satunya adalah anak diajak untuk makan bersama.
"Banyak juga peristiwa yang bisa kita ceritakan berakhir di meja makan. Selesai di meja makan, mulai di meja makan, berakhirnya di meja makan," kata Psikolog Ratih.
Ia mengobservasi lingkungan sekitarnya bahwa beberapa keluarga yang ditemuimya berhasil utuh dan memiliki kepercayaan satu sama lain. Hal ini dikarenakan investasi dari hasil makan bersama dengan keluarga.
"Dan anak-anak ini juga akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang happy, karena dia belajar dari orang tuanya. Padahal nanti berhasil dengan pasangannya, saya juga lihat orang aslinya sehat banget," imbuhnya.
(FIR)