Jakarta: Teman ngajak nongkrong padahal kamu udah capek banget, tetap berangkat. Rekan kerja minta bantuan saat tugasmu sendiri masih numpuk, malah kamu iyain. Giliran pengin nolak, eh, kepikiran terus karena takut dia tersinggung.
Akhirnya, kamu bilang iya bukan karena benar-benar mau, tetapi karena nggak enak kalau harus menolak. Ujung-ujungnya, kamu sendiri yang repot karena waktu dan energi habis buat memenuhi keinginan orang lain.
Kalau sering mengalami hal ini, kamu mungkin punya kecenderungan people-pleasing. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengesampingkan kebutuhan diri sendiri.
Dalam artikel Psychology Today berjudul How to Break the Habit of People-Pleasing, Nicole A. Tetreault, Ph.D., membahas kebiasaan ini dan bagaimana seseorang bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya maupun orang lain.

(Seorang perempuan meluangkan waktu untuk diri sendiri di tengah rutinitas sehari-hari. Foto: AI Generated)
Kenapa bilang nggak rasanya susah banget?
Salah satu alasannya adalah takut mengecewakan orang lain. Kamu mungkin khawatir bakal dianggap egois, nggak peduli, atau malah dijauhi cuma gara-gara menolak satu permintaan.
Makanya, bilang iya terasa lebih aman. Setidaknya, nggak ada konflik yang harus dihadapi saat itu juga.
Masalahnya, kalau terus-terusan begitu, kamu bisa lupa mempertimbangkan apa yang sebenarnya kamu mau. Kamu sibuk menjaga perasaan orang lain, sementara perasaan sendiri malah diabaikan.
Padahal, menolak sesuatu bukan berarti kamu nggak peduli. Bisa aja kamu memang lagi capek, punya prioritas lain, atau sekadar nggak sanggup memenuhi permintaan tersebut.
Jangan-jangan kamu sering nggak enakan?
Coba cek kebiasaanmu sendiri. Apakah kamu sering langsung bilang iya tanpa mikir panjang? Merasa bersalah berlebihan setelah menolak? Atau malah menjelaskan panjang lebar supaya orang lain nggak salah paham?
Kamu juga mungkin sering memikirkan ulang percakapan yang udah lewat karena khawatir ucapanmu bikin seseorang tersinggung.
Kalau relate, coba perhatikan pola tersebut. Ini bukan berarti kamu otomatis seorang people-pleaser, tetapi bisa jadi tanda kalau kamu perlu mulai menetapkan batasan yang lebih jelas.
Gimana caranya belajar bilang nggak?
Tenang, kamu nggak harus langsung jago menolak semua permintaan. Mulai dari kebiasaan kecil, yaitu jangan buru-buru menjawab.
Saat ada yang meminta bantuan, kamu bisa bilang, "Aku cek jadwalku dulu, ya." Dengan begitu, kamu punya waktu buat mempertimbangkan apakah memang sanggup membantu.
Kalau ternyata nggak bisa, sampaikan dengan singkat dan sopan. Misalnya, "Maaf, kali ini aku belum bisa bantu karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan."
Kamu juga nggak perlu merasa wajib memberikan seribu alasan supaya penolakanmu dianggap valid.
Ingat, membantu orang lain itu baik, tetapi bukan berarti kamu harus selalu tersedia setiap saat. Kamu juga punya kebutuhan, waktu, dan energi yang perlu dijaga.
Pada akhirnya, kamu nggak harus selalu bilang iya supaya tetap disukai orang lain. Belajar bilang nggak saat memang nggak sanggup bukan berarti egois. Justru, kamu sedang belajar menghargai diri sendiri tanpa harus berhenti peduli sama orang lain.
Desi I.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News