FAMILY
Pentingnya Dukungan Orang Tua Mengenali Potensi Anak
Elang Riki Yanuar
Selasa 06 Oktober 2026 / 13:08
- Prestasi anak tidak hanya ditentukan nilai akademis karena setiap anak memiliki potensi berbeda yang perlu dikenali orang tua.
- Dokter Shyrien Amalina menilai orang tua berperan penting mengamati minat dan kemampuan anak untuk menentukan dukungan yang tepat.
- Dukungan nutrisi dan pendampingan orang tua menjadi bagian penting dalam membantu anak mengembangkan potensi di bidang yang mereka kuasai.
Jakarta: Prestasi anak tidak selalu bisa dilihat dari nilai rapor atau kemampuan akademis. Setiap anak memiliki potensi berbeda yang dapat berkembang ketika orang tua mampu mengenali minat, kemampuan, serta karakter mereka sejak dini.
Menurut dokter spesialis anak dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, orang tua memiliki peran penting dalam menemukan bidang yang menjadi kekuatan anak. Dia menilai kemampuan anak tidak seharusnya diukur menggunakan satu standar yang berlaku sama untuk semua.
"Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika, tidak semua anak harus jago fisika. Karena anak itu yang kita bilang kepintaran itu macem-macem. Wih anaknya itu jago banget ngegambar, musiknya keren banget," kata dr. Shyrien.
"Anak-anak dyslexia, itu rata-rata musiknya dan ngegambarnya keren banget. Masa mau kita bilang dia gak pinter? Enggak, dia jenius di bidangnya, dia jenius di bidang musik, dia jenius di bidang menggambar. Jadi IQ tidak sebagai patokan," lanjutnya.
Karena itu, orang tua perlu melihat lebih jauh dari sekadar pencapaian akademis. Kebiasaan anak saat bermain, aktivitas yang membuatnya antusias, hingga hal yang sering diceritakan dapat menjadi petunjuk untuk mengenali potensi mereka.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai kegiatan juga dapat membantu orang tua melihat minat dan kemampuannya. Proses tersebut membutuhkan pendampingan agar anak tetap merasa aman ketika menemukan kesulitan atau mengalami kegagalan.
Dr. Shyrien menilai orang tua menjadi pihak yang paling dekat dengan keseharian anak sehingga memiliki kesempatan besar untuk mengamati perkembangannya.
“Itu semua siapa yang tahu? orang tuanya kan? Orang tuanya yang bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak menilai, tidak mengevaluasi, dia tidak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting (dukungan orang tua terhadap anak),” kata dr. Shyrien.
Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan atau pendidikan anak. Menurut dr. Shyrien, kebutuhan nutrisi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena perkembangan kemampuan anak berkaitan dengan kerja sistem saraf dan fungsi kognitif.
“Tapi itu semua butuh nerve (saraf) yang saling berkomunikasi, persarafan yang saling berkomunikasi dan saling mendukung. Nah itu yang kita penuhi dari nutrisi, memori kognisi yang baik, nah itu yang kita penuhi dari AHA/DHA,” jelasnya.
Perhatian terhadap nutrisi pun dapat berjalan beriringan dengan kebiasaan orang tua dalam mendampingi anak. Terutama pada usia sekolah, asupan sehari-hari menjadi salah satu bagian dari upaya mendukung aktivitas belajar dan tumbuh kembang mereka.
Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, Haruman Rustandi, mengatakan dukungan terhadap anak sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pencapaian tertentu. Salah satu pilihan yang tersedia untuk anak usia 7 hingga 12 tahun adalah Champion, minuman cokelat yang diperkaya DHA dan dilengkapi 10 jenis vitamin.
"Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak, lalu hadir untuk mendukung prosesnya. Kami berharap Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,” ujarnya.
Upaya mengenali keberagaman potensi anak juga diterapkan melalui program Anak Juara Champion (AJC). Program ini memberikan ruang bagi anak untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam berbagai bidang, mulai dari akademis, seni, olahraga, hingga kreativitas digital.
Melalui AJC, pencapaian anak tidak hanya dilihat dari satu jenis kemampuan. Anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keunggulan masing-masing sekaligus mendapatkan apresiasi atas proses yang mereka jalani.
Anak-anak terpilih dalam program tersebut juga berkesempatan mendapatkan Beasiswa Anak Juara Champion. Namun, lebih dari penghargaan, proses mengenali dan mendukung potensi anak tetap membutuhkan peran orang tua dalam keseharian.
(ELG)
Menurut dokter spesialis anak dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, orang tua memiliki peran penting dalam menemukan bidang yang menjadi kekuatan anak. Dia menilai kemampuan anak tidak seharusnya diukur menggunakan satu standar yang berlaku sama untuk semua.
"Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika, tidak semua anak harus jago fisika. Karena anak itu yang kita bilang kepintaran itu macem-macem. Wih anaknya itu jago banget ngegambar, musiknya keren banget," kata dr. Shyrien.
"Anak-anak dyslexia, itu rata-rata musiknya dan ngegambarnya keren banget. Masa mau kita bilang dia gak pinter? Enggak, dia jenius di bidangnya, dia jenius di bidang musik, dia jenius di bidang menggambar. Jadi IQ tidak sebagai patokan," lanjutnya.
Karena itu, orang tua perlu melihat lebih jauh dari sekadar pencapaian akademis. Kebiasaan anak saat bermain, aktivitas yang membuatnya antusias, hingga hal yang sering diceritakan dapat menjadi petunjuk untuk mengenali potensi mereka.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai kegiatan juga dapat membantu orang tua melihat minat dan kemampuannya. Proses tersebut membutuhkan pendampingan agar anak tetap merasa aman ketika menemukan kesulitan atau mengalami kegagalan.
Dr. Shyrien menilai orang tua menjadi pihak yang paling dekat dengan keseharian anak sehingga memiliki kesempatan besar untuk mengamati perkembangannya.
“Itu semua siapa yang tahu? orang tuanya kan? Orang tuanya yang bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak menilai, tidak mengevaluasi, dia tidak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting (dukungan orang tua terhadap anak),” kata dr. Shyrien.
Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan atau pendidikan anak. Menurut dr. Shyrien, kebutuhan nutrisi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena perkembangan kemampuan anak berkaitan dengan kerja sistem saraf dan fungsi kognitif.
“Tapi itu semua butuh nerve (saraf) yang saling berkomunikasi, persarafan yang saling berkomunikasi dan saling mendukung. Nah itu yang kita penuhi dari nutrisi, memori kognisi yang baik, nah itu yang kita penuhi dari AHA/DHA,” jelasnya.
Perhatian terhadap nutrisi pun dapat berjalan beriringan dengan kebiasaan orang tua dalam mendampingi anak. Terutama pada usia sekolah, asupan sehari-hari menjadi salah satu bagian dari upaya mendukung aktivitas belajar dan tumbuh kembang mereka.
Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, Haruman Rustandi, mengatakan dukungan terhadap anak sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pencapaian tertentu. Salah satu pilihan yang tersedia untuk anak usia 7 hingga 12 tahun adalah Champion, minuman cokelat yang diperkaya DHA dan dilengkapi 10 jenis vitamin.
"Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak, lalu hadir untuk mendukung prosesnya. Kami berharap Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,” ujarnya.
Upaya mengenali keberagaman potensi anak juga diterapkan melalui program Anak Juara Champion (AJC). Program ini memberikan ruang bagi anak untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam berbagai bidang, mulai dari akademis, seni, olahraga, hingga kreativitas digital.
Melalui AJC, pencapaian anak tidak hanya dilihat dari satu jenis kemampuan. Anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keunggulan masing-masing sekaligus mendapatkan apresiasi atas proses yang mereka jalani.
Anak-anak terpilih dalam program tersebut juga berkesempatan mendapatkan Beasiswa Anak Juara Champion. Namun, lebih dari penghargaan, proses mengenali dan mendukung potensi anak tetap membutuhkan peran orang tua dalam keseharian.
(ELG)