FITNESS & HEALTH
Protein Maxxing 101: Worth It Gak Sih, atau Cuma 'Racun' Tren?
Mia Vale
Rabu 17 Juni 2026 / 12:38
- Media sosial memang jago banget mengubah hal simpel jadi tren ekstrem, salah satunya yang lagi viral sekarang: "Protein Maxxing."
- Protein Maxxing adalah praktik mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi secara konsisten untuk mendapatkan manfaat kesehatan dan estetika maksimal.
- Protein maxxing beneran seworth itu atau cuma ngetren aja? Simak selengkapnya.
Jakarta: Media sosial memang jago banget mengubah hal simpel jadi tren ekstrem, salah satunya yang lagi viral sekarang: "Protein Maxxing."
Tren ini ngajak orang buat konsumsi protein dalam jumlah gila-gilaan—mulai dari bubuk protein sampai camilan khusus—sambil memangkas habis karbohidrat dari pola makan sehari-hari.
Banyak fitness influencer yang bilang ini rahasia utama buat otot kekar dan lemak hilang. Tapi, benarkah begitu?
Ternyata, para ahli medis punya pendapat lain. Pihak dari Colorado State University College of Health and Human Sciences justru kasih peringatan keras.
Mereka bilang kalau pendekatan ekstrem kayak gini sebenarnya enggak perlu buat orang awam. Bahkan, kalau keterusan, ini berisiko bikin kerusakan organ permanen, terutama pada ginjal.
Jadi, sebenarnya apa sih protein maxxing ini dan kenapa bisa jadi sebegitu viralnya?
.jpg)
(Protein Maxxing adalah praktik mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi secara konsisten untuk mendapatkan manfaat kesehatan dan estetika maksimal. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Ide inti di balik tren "protein maxxing" cukup sederhana, protein itu baik, jadi mengonsumsinya sebanyak mungkin pasti lebih baik lagi.
Bahkan menukil keterangan dari laman People, di TikTok dan Instagram, para influencer sering mempromosikan aturan praktis yang viral (1 gram protein per pon berat badan), menjanjikan pertumbuhan otot yang besar, performa atletik puncak, dan penurunan lemak tanpa usaha.
Pada kenyataannya, biologi manusia tidak bekerja seperti itu, dan hanya dengan mengonsumsi satu nutrisi secara berlebihan tidak akan memicu transformasi fisik secara otomatis.
Untuk memberi ruang bagi semua protein ekstra ini, tren tersebut sering mendorong orang untuk sepenuhnya menghilangkan karbohidrat, menggantinya dengan protein hewani berat, lemak, atau protein batangan yang sangat diproses.
Memanfaatkan tren ini, pemasar makanan mulai menempelkan label "tinggi protein" pada segala hal, mulai dari kue hingga air minum kemasan.
Ini menciptakan semacam efek halo kesehatan, menipu pembeli bahan makanan sehari-hari untuk berpikir bahwa mencapai angka protein yang tinggi adalah satu-satunya ukuran sebenarnya dari diet sehat, bahkan ketika produk itu sendiri sangat diproses.
Anne Kamwila, seorang Analis Kebijakan Kesehatan, menjelaskan di Health Yahoo kalau secara metabolisme, tubuh kita enggak membangun otot cuma dengan asal nambah asupan protein.
Protein memang penting banget untuk perbaikan jaringan, hormon, dan sistem imun. Tapi, ada batas maksimal seberapa banyak protein yang bisa diserap tubuh untuk jadi otot.
Menurut Mayo Clinic, kebutuhan orang dewasa yang enggak aktif itu sekitar 0,8 g/kg berat badan, sedangkan untuk orang yang aktif, Stanford Medicine menyarankan kisaran 1,2–1,6 g/kg berat badan.
Kalau kamu konsumsi protein jauh melebihi angka tersebut, tubuh enggak akan bisa memprosesnya jadi otot. Protein yang berlebih ini justru bakal dibakar jadi energi atau malah disimpan sebagai lemak.
Jadi, ingat ya: otot itu enggak bakal terbentuk cuma dari banyak-banyakan makan daging. Kamu tetap butuh latihan beban yang konsisten dan asupan kalori yang pas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Tren ini ngajak orang buat konsumsi protein dalam jumlah gila-gilaan—mulai dari bubuk protein sampai camilan khusus—sambil memangkas habis karbohidrat dari pola makan sehari-hari.
Banyak fitness influencer yang bilang ini rahasia utama buat otot kekar dan lemak hilang. Tapi, benarkah begitu?
Ternyata, para ahli medis punya pendapat lain. Pihak dari Colorado State University College of Health and Human Sciences justru kasih peringatan keras.
Mereka bilang kalau pendekatan ekstrem kayak gini sebenarnya enggak perlu buat orang awam. Bahkan, kalau keterusan, ini berisiko bikin kerusakan organ permanen, terutama pada ginjal.
Jadi, sebenarnya apa sih protein maxxing ini dan kenapa bisa jadi sebegitu viralnya?
Mengapa "protein maxxing" begitu populer?
.jpg)
(Protein Maxxing adalah praktik mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi secara konsisten untuk mendapatkan manfaat kesehatan dan estetika maksimal. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Ide inti di balik tren "protein maxxing" cukup sederhana, protein itu baik, jadi mengonsumsinya sebanyak mungkin pasti lebih baik lagi.
Bahkan menukil keterangan dari laman People, di TikTok dan Instagram, para influencer sering mempromosikan aturan praktis yang viral (1 gram protein per pon berat badan), menjanjikan pertumbuhan otot yang besar, performa atletik puncak, dan penurunan lemak tanpa usaha.
Pada kenyataannya, biologi manusia tidak bekerja seperti itu, dan hanya dengan mengonsumsi satu nutrisi secara berlebihan tidak akan memicu transformasi fisik secara otomatis.
Untuk memberi ruang bagi semua protein ekstra ini, tren tersebut sering mendorong orang untuk sepenuhnya menghilangkan karbohidrat, menggantinya dengan protein hewani berat, lemak, atau protein batangan yang sangat diproses.
Memanfaatkan tren ini, pemasar makanan mulai menempelkan label "tinggi protein" pada segala hal, mulai dari kue hingga air minum kemasan.
Ini menciptakan semacam efek halo kesehatan, menipu pembeli bahan makanan sehari-hari untuk berpikir bahwa mencapai angka protein yang tinggi adalah satu-satunya ukuran sebenarnya dari diet sehat, bahkan ketika produk itu sendiri sangat diproses.
Kata sains tentang tren diet
Anne Kamwila, seorang Analis Kebijakan Kesehatan, menjelaskan di Health Yahoo kalau secara metabolisme, tubuh kita enggak membangun otot cuma dengan asal nambah asupan protein.
Protein memang penting banget untuk perbaikan jaringan, hormon, dan sistem imun. Tapi, ada batas maksimal seberapa banyak protein yang bisa diserap tubuh untuk jadi otot.
Baca Juga :
Tahu vs Tempe, Mana yang Lebih Kaya Protein?
Menurut Mayo Clinic, kebutuhan orang dewasa yang enggak aktif itu sekitar 0,8 g/kg berat badan, sedangkan untuk orang yang aktif, Stanford Medicine menyarankan kisaran 1,2–1,6 g/kg berat badan.
Kalau kamu konsumsi protein jauh melebihi angka tersebut, tubuh enggak akan bisa memprosesnya jadi otot. Protein yang berlebih ini justru bakal dibakar jadi energi atau malah disimpan sebagai lemak.
Jadi, ingat ya: otot itu enggak bakal terbentuk cuma dari banyak-banyakan makan daging. Kamu tetap butuh latihan beban yang konsisten dan asupan kalori yang pas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)