FITNESS & HEALTH

Back to School, DBD Masih Jadi Ancaman Serius untuk Anak

A. Firdaus
Sabtu 01 Agustus 2026 / 18:11
Ringkasnya gini..
  • Kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
  • Belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue.
  • Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat.
Jakarta: Memasuki tahun ajaran baru, berbagai perlengkapan sekolah mulai dari tas, seragam, hingga buku pelajaran telah dipersiapkan. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu melindungi anak dari demam berdarah dengue (DBD).

Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59% kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41% berasal dari kelompok usia 5–14 tahun. 

Sementara itu, dalam lima tahun terakhir, kasus dengue paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, yang mencakup 42% dari seluruh kasus pada 2025. Data ini menunjukkan bahwa dengue dapat menyerang berbagai kelompok usia, tetapi dampaknya terhadap anak-anak memerlukan perhatian khusus.

Dimulainya tahun ajaran baru tahun ini berdekatan dengan peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 yang mengusung tema 'Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan'. 

Momentum ini menjadi pengingat bahwa melindungi kesehatan anak merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar, tumbuh kembang, dan masa depan mereka. Upaya tersebut membutuhkan peran bersama keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat.
 

DBD Bukan Penyakit Musiman


Menurut dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten, masih banyak keluarga yang menganggap DBD hanya perlu diwaspadai saat musim hujan. Padahal DBD bukan penyakit musiman. 

"Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin,” jelas dr. Ikhsan. 

Ia menambahkan bahwa DBD disebabkan oleh virus yang terdiri atas empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti.

"Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar," kata dr. Ikhsan.

Dengue juga tidak selalu terlihat. Sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45% anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, dan hampir tiga perempat dari infeksi yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala. 


dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten. Dok. Ist

"Proporsinya bahkan lebih tinggi di Asia Tenggara. Temuan ini mengingatkan kita bahwa risiko DBD dapat berada sangat dekat dengan keluarga tanpa disadari, sehingga pencegahan tidak boleh menunggu sampai ada yang sakit," lanjutnya.

Risiko yang dapat muncul tanpa disadari ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika anak kembali ke sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, termasuk mengikuti kegiatan belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menunggu perjalanan pulang. 

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan hanya di rumah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah. Sekolah dapat berperan dengan memastikan tidak ada wadah atau area yang menjadi tempat genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mendorong siswa dan seluruh warga sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam penerapan 3M Plus.
 

Pernah Terinfeksi Tidak Berarti Kebal


Menurut dr. Ikhsan mengingatkan bahwa pernah terkena DBD tidak membuat seseorang kebal terhadap seluruh serotipe virus dengue. Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. 

"Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga sebelumnya pernah terkena dengue. 

Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk membantu mengatasi gejala, menjaga kondisi pasien, dan mencegah perburukan. 

"Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat. Orang tua juga tidak boleh langsung merasa aman ketika demam anak mulai turun," ucap dr. Ikhsan. 

"Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah demam mereda. Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," tegas dr. Ikhsan.

Sementara itu Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perlindungan anak dari DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. 

“Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak," ucap Andreas.

"Orang tua mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, aktivitas keluarga terganggu, dan muncul biaya yang tidak terduga. Semua orang bisa terinfeksi virus dengue, terlepas dari usia, tempat tinggal, maupun gaya hidupnya," sambungnya. 

Karena itu, perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, termasuk melakukan 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif. 

Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. 

"Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia," tutup Andreas.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH