FITNESS & HEALTH

Cuaca Makin Ekstrem, Anak-anak Lebih Rentan Kena DBD dan Diare

A. Firdaus
Kamis 11 Juni 2026 / 10:15
Ringkasnya gini..
  • Kenaikan suhu bumi dan perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tropis,
  • Peningkatan suhu global menyebabkan wilayah tropis semakin meluas.
  • Perubahan iklim memengaruhi keseimbangan antara lingkungan, manusia, dan agen penyebab penyakit.
Jakarta: Perubahan iklim ternyata bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan anak. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa kenaikan suhu bumi dan perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tropis, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga diare pada anak.

Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, menjelaskan bahwa perubahan kondisi lingkungan membuat vektor pembawa penyakit, seperti nyamuk, lebih mudah berkembang biak dan memperluas wilayah penyebarannya.

Menurutnya, peningkatan suhu global menyebabkan wilayah tropis semakin meluas. Dampaknya, daerah yang sebelumnya tidak banyak ditemukan kasus DBD kini mulai mengalami peningkatan kasus.
 
“Secara global maupun lokal, peningkatan suhu bumi akan menyebabkan daerah tropis semakin luas. Karena perubahan suhu ini, sekarang daerah-daerah yang dulu tidak kenal demam berdarah mulai muncul kasusnya,” ujar Dr. Riyadi dalam seminar media IDAI memperingati Hari Lingkungan Hidup melansir Antara.
 

Suhu naik, nyamuk makin mudah berkembang


Dr. Riyadi menjelaskan bahwa nyamuk pembawa penyakit seperti DBD dan malaria sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Saat suhu meningkat, nyamuk dapat hidup lebih lama dan berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk mereka tempati.

Selain itu, perubahan pola hujan juga menjadi faktor penting. Curah hujan yang tinggi menciptakan lebih banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.

“Kalau curah hujan tinggi, biasanya risiko demam berdarah meningkat karena banyak genangan yang menjadi tempat nyamuk berkembang,” jelasnya.
 

Risiko diare ikut meningkat


Tak hanya penyakit yang ditularkan nyamuk, perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan kasus diare pada anak. Cuaca ekstrem yang memicu banjir dan mengganggu sistem sanitasi dapat menyebabkan kualitas air bersih menurun.

Ketika akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi terganggu, risiko penyebaran penyakit berbasis air menjadi lebih tinggi. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa.

Dr. Riyadi menambahkan bahwa perubahan iklim memengaruhi keseimbangan antara lingkungan, manusia, dan agen penyebab penyakit. Akibatnya, pola penyebaran berbagai penyakit infeksi ikut berubah.

“Patogennya jadi pindah, host-nya menjadi rentan karena terpapar, kemudian faktor pembawanya juga bisa tumbuh dan berkembang biak di tempat tersebut,” katanya.
 

Perlu upaya pencegahan bersama


IDAI menilai pengendalian dampak perubahan iklim harus berjalan beriringan dengan peningkatan akses air bersih, perbaikan sanitasi, edukasi kesehatan, serta upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.

Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air secara rutin, memastikan ketersediaan air bersih, serta membiasakan pola hidup sehat dinilai penting untuk melindungi anak-anak dari ancaman penyakit yang semakin dipengaruhi perubahan iklim.

“Kalau iklim berubah, penyakit yang sensitif terhadap lingkungan juga akan berubah pola penyebarannya. Anak-anak menjadi kelompok yang paling perlu kita lindungi,” tutup Dr. Riyadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH