FITNESS & HEALTH

Awas Ancaman 'Pandemi Senyap' Resistensi Obat, Pfizer Dorong Akses Kesehatan Lebih Gercep

Yatin Suleha
Selasa 28 Juli 2026 / 16:51
Ringkasnya gini..
  • Resistensi antimikroba alias AMR/antimicrobial resistance kini jadi ancaman kesehatan serius buat dunia dan Indonesia.
  • AMR ini kejadian pas bakteri berubah jadi kebal sama antibiotik.
  • WHO bahkan memperkirakan kalau di tahun 2019 ada 1,27 juta kematian langsung akibat AMR.
Jakarta: Resistensi antimikroba alias AMR/antimicrobial resistance kini jadi ancaman kesehatan serius buat dunia dan Indonesia, nih. Sering disebut sebagai pandemi senyap karena dampaknya gak kelihatan tapi mematikan.

AMR ini kejadian pas bakteri berubah jadi kebal sama antibiotik. Makanya, masalah ini udah merenggut puluhan ribu nyawa di Indonesia dan jutaan jiwa di seluruh dunia.

Kalau gak ditangani dengan bener, dampaknya bakal makin parah tiap tahun. WHO bahkan memperkirakan kalau di tahun 2019 ada 1,27 juta kematian langsung akibat AMR, dan angkanya bisa melonjak sampai 10 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2050 nanti. 
 
Selain bikin angka kematian naik, AMR juga nambah risiko komplikasi dan masalah kesehatan lainnya dan dapat menambah beban terhadap sistem kesehatan secara keseluruhan.

Ancaman AMR di Indonesia juga udah makin nyata banget, lho. Berdasarkan data Global Research on Antimicrobial Resistance (GRAM) tahun 2021, ada sekitar 36.500 kematian yang langsung disebabkan oleh AMR, dan sekitar 147.000 kematian lainnya yang berkaitan dengan masalah ini.

Golongan lansia jadi salah satu kelompok yang paling rentan kena dampaknya, di mana GRAM mencatat ada 61.500 kematian di usia lanjut pada tahun itu. 

Makanya, isu AMR ini benar-benar jadi PR bersama yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh semua pihak yang terlibat.

“Pada beberapa kasus, khususnya di unit perawatan intensif, infeksi oleh bakteri resisten dapat secara signifikan membatasi pilihan terapi yang tersedia," buka dr. Dicky Teguh Santoso, Country Medical Lead Pfizer Indonesia. 

"Kondisi ini dapat meningkatkan kompleksitas penanganan pasien dan menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan opsi pengobatan yang sesuai dalam menghadapi tantangan AMR yang semakin kompleks,” tambah dr. Dicky. 

Meningkatnya jumlah bakteri yang tidak lagi merespons antibiotik juga menjadi salah satu temuan Pfizer ATLAS (Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance). 

Menganalisis 245.326 sampel bakteri yang berhasil diambil dan dipisahkan dari pasien (isolat klinis) dari rumah sakit di seluruh dunia antara 2020 hingga 2024, Pfizer ATLAS menemukan sebanyak 25,25 persen atau 1 dari 4 bakteri yang teridentifikasi sudah resisten terhadap beberapa kelas antibiotik (multidrug-resistant/MDR). 

Sementara 9,56 persen masuk kategori difficult-to-treat resistant (DTR) alias tidak merespons terapi antibiotik standar sama sekali. 


(Pandemi senyap AMR ancam jutaan jiwa, jadi PR besar bagi seluruh pemangku kepentingan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Adapun sekitar 4.442 isolat klinis teridentifikasi sebagai penghasil enzim metallo-beta-lactamase (MBL) yang mampu merusak sebagian besar antibiotik kelas karbapenem yang kerap diandalkan sebagai pengobatan infeksi berat. 

Lebih dari 24 persen isolat klinis dalam laporan tersebut berasal dari unit perawatan intensif (ICU), tempat pasien paling kritis dirawat. 

“Ketika pasien kritis di unit perawatan intensif terinfeksi bakteri penghasil MBL, pilihan terapi yang tersedia dapat menjadi sangat terbatas," beber dr. Dicky.

"Dalam kondisi ini, beberapa antibiotik yang sebelumnya diharapkan efektif mungkin tidak lagi memberikan respons optimal, hal ini menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperluas akses terhadap inovasi kesehatan yang dapat membantu menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi6,”  tambah dr. Dicky. 

Sebagai mitra kesehatan publik jangka panjang Indonesia, Pfizer menyampaikan bahwa sejalan dengan perkembangan ilmiah global, berbagai pendekatan inovatif terus dikembangkan untuk menghadapi tantangan resistensi antimikroba (AMR), termasuk kombinasi aztreonam dan avibactam yang dirancang khusus untuk melawan infeksi bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotik standar. 

Kombinasi ini bekerja melalui mekanisme dua lapis: aztreonam menyerang bakteri sekaligus tahan secara alami terhadap enzim MBL, sementara avibactam melindungi aztreonam dari enzim resistensi lain yang bisa melemahkan efektivitasnya. 

Pendekatan ini merupakan bagian dari pengembangan ilmiah yang sedang berlangsung untuk menjawab kompleksitas AMR yang terus berkembang.

Didukung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), inovasi kombinasi aztreonam dan avibactam tersebut telah mendapatkan persetujuan Nomor Izin Edar (NIE). 

Kehadiran inovasi tersebut juga sejalan dengan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba 2025-2029 yang telah diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan RI bersama WHO, strategi tersebut dihadirkan untuk mengatasi peningkatan kasus kematian akibat AMR. 

“Kami mengapresiasi peran BPOM dalam mendorong optimalisasi dan efisiensi proses evaluasi berbasis sains, sehingga dapat mendukung percepatan proses secara keseluruhan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Deborah P. Seifert, Cluster President, Malaysia- Indonesia-Singapore-Philippines (MISP) Cluster, International Commercial Division, Pfizer. 

Deborah menjelaskan AMR merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan, terus berkembang, dan sering kali tidak terlihat secara kasat mata namun memberikan dampak nyata terhadap luaran klinis pasien dan sistem kesehatan. 
 
Karena itu, kehadiran inovasi ilmiah untuk menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi, khususnya dalam konteks infeksi akibat bakteri resisten, memerlukan dukungan dan kolaborasi berkelanjutan antara industri, regulator, tenaga kesehatan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan di Indonesia. 

“Sebagai perusahaan yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan inovasi, Pfizer berkomitmen untuk terus mendukung sistem kesehatan melalui kemitraan yang berkelanjutan dan berfokus pada peningkatan akses terhadap intervensi berbasis bukti ilmiah," ungkap Deborah.

"Upaya bersama ini merupakan tanggung jawab kolektif untuk memastikan pasien memiliki akses terhadap pilihan terapi yang sesuai dan tepat waktu, serta untuk meminimalkan kesenjangan perlindungan, khususnya bagi kelompok rentan dalam menghadapi tantangan AMR,” pungkas Deborah.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH