FITNESS & HEALTH
Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Kenali Risiko PM10 dan PM2.5
A. Firdaus
Jumat 11 September 2026 / 07:28
- Kenali bahaya PM10 dan PM2.5 serta cara melindungi kesehatan paru.
- Abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam.
- Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas.
Tangerang: Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin, 7 September 2026 pagi, abu pada lapisan permukaan hingga sekitar 15.000 kaki terpantau meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu. BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena paparan abu dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan partikel halus yang terhirup. Menurut dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan.
"Bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin,” jelas dr. Sondang.
Abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam, sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM).
PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru.
Semakin kecil partikelnya, semakin besar kemungkinannya mencapai saluran napas yang lebih dalam. Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel, tetapi juga konsentrasi di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan individu.
Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Selain pada saluran napas dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit. Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular perlu lebih berhati-hati karena dapat lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.
(FIR)
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin, 7 September 2026 pagi, abu pada lapisan permukaan hingga sekitar 15.000 kaki terpantau meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu. BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena paparan abu dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan partikel halus yang terhirup. Menurut dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan.
"Bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin,” jelas dr. Sondang.
Mengenal PM10 dan PM2.5
Abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam, sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM).
PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru.
Semakin kecil partikelnya, semakin besar kemungkinannya mencapai saluran napas yang lebih dalam. Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel, tetapi juga konsentrasi di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan individu.
Paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Selain pada saluran napas dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit. Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular perlu lebih berhati-hati karena dapat lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.
(FIR)