Pasangan Selalu Menyalahkan Kamu? Begini Cara Menghadapinya Menurut Psikolog
- Pernah gak, setiap ada masalah dalam hubungan, entah kenapa ujung-ujungnya kamu yang kena?
- Kebiasaan saling menyalahkan bisa membuat hubungan terasa seperti kompetisi.
- Satu orang berusaha membuktikan dirinya benar, sementara yang lain ditempatkan sebagai sumber masalah.
Jakarta: Pernah gak, setiap ada masalah dalam hubungan, entah kenapa ujung-ujungnya kamu yang kena? Telat sedikit disalahkan.
Salah pesan makanan disalahkan. Bahkan ketika masalahnya sebenarnya bukan sepenuhnya karena kamu, tetap saja kamu yang diminta bertanggung jawab.
Kalau pola seperti ini sering terjadi, hubungan tentu bisa terasa melelahkan. Apalagi, niat awalnya cuma ingin menjelaskan keadaan, tetapi percakapan malah berubah menjadi adu argumen soal siapa yang paling salah.
Psikolog klinis Daniel S. Lobel, Ph.D., membahas pola tersebut dalam Psychology Today. Menurutnya, ada orang yang terbiasa mengalihkan kesalahan kepada orang lain karena sulit menerima bahwa dirinya juga bisa melakukan kesalahan.

(Apakah pasangan kamu terus saling menyalahkan? Jika iya, kamu bisa juga berkonsultasi pada psikolog untuk mendapatkan jalan yang terbaik. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kenapa pasangan suka menyalahkan?
Menurut Lobel, sebagian orang bisa merasa sangat rentan ketika harus mengakui kesalahan. Alih-alih menerima tanggung jawab, mereka justru mencari orang lain yang bisa dijadikan penyebab masalah.
Pasangan biasanya menjadi sasaran karena merupakan orang yang paling dekat. Masalahnya, ketika tuduhan tersebut dibantah, orang yang terbiasa mengalihkan kesalahan dapat merasa sedang diserang.
Akibatnya, percakapan yang awalnya cuma membahas satu masalah bisa melebar ke mana-mana. Saling membela diri pun akhirnya membuat konflik semakin panjang.
Jangan sibuk mencari siapa yang salah
Wajar kalau kamu ingin membela diri ketika dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahanmu. Namun, menurut Lobel, terus memperdebatkan siapa yang salah belum tentu membawa hubungan ke jalan keluar.
Ia memberikan contoh pasangan yang menyiapkan makan malam, tetapi makanan tersebut malah gosong. Dalam situasi seperti ini, keduanya bisa saja sibuk memperdebatkan siapa yang menyebabkan makanan gagal.
Padahal, faktanya makanan sudah gosong dan mereka tetap harus memikirkan makan malam. Jadi, memperpanjang debat soal penyebabnya belum tentu memberikan manfaat.
Alihkan pembicaraan ke solusi
Lobel menyarankan pendekatan yang disebut redirection, yaitu mengubah arah pembicaraan dari mencari pihak yang salah menjadi mencari solusi.
Misalnya, ketika makanan sudah gosong, daripada membalas tuduhan dengan tuduhan baru, pasangan bisa mengatakan, “Oke, kita makan di luar saja malam ini. Besok kamu bisa coba masak lagi kalau mau.”
Dengan cara ini, masalah tetap diakui tanpa membuat percakapan berubah menjadi pertandingan untuk menentukan siapa yang paling bersalah.
Dalam contoh yang diberikan Lobel, pasangan juga bisa membantu membereskan oven setelah makan.
Fokusnya bukan lagi mencari pemenang dan pihak yang kalah, melainkan menyelesaikan masalah bersama.
Jangan sampai hubungan jadi ajang menang-kalah
Kebiasaan saling menyalahkan bisa membuat hubungan terasa seperti kompetisi. Satu orang berusaha membuktikan dirinya benar, sementara yang lain ditempatkan sebagai sumber masalah.
Menurut Lobel, pola seperti ini justru dapat memicu kemarahan dan rasa kesal. Sebaliknya, ketika pasangan mengalihkan fokus ke tujuan bersama, konflik bisa berubah menjadi kerja sama.
Namun, redirection bukan berarti kamu harus menerima semua tuduhan atau selalu menjadi pihak yang mengalah
Lobel juga menekankan bahwa perubahan pada orang yang sulit menerima kesalahan membutuhkan waktu dan usaha.
Bagi orang yang merasa sangat sulit mengakui kesalahan, psikoterapi dapat membantu memahami rasa takut terlihat tidak sempurna serta kerentanan yang mungkin berada di balik kebiasaan menyalahkan orang lain.
Jadi, ketika pasangan kembali menyalahkanmu, kamu gak harus selalu masuk ke mode “membuktikan siapa yang benar”
Dalam situasi tertentu, mengubah pertanyaan dari “Siapa yang salah?” menjadi “Sekarang kita bisa melakukan apa?” bisa menjadi langkah yang lebih produktif untuk menghadapi konflik.
Desi Indasari
(TIN)