FAMILY

5 Cara Hadapi Pasangan yang Sering Lakukan Silent Treatment

Fatha Annisa
Senin 06 Juli 2026 / 18:38
Ringkasnya gini..
  • Silent treatment kerap diberikan ketika seseorang sedang menghadapi masalah dengan pasangannya.
  • Pakar hubungan menjelaskan silent treatment lebih sering memperpanjang kebingungan dan kecemasan.
  • Menurutnya, hubungan yang sehat bukan bebas dari konflik, tetapi dibangun melalui komunikasi.
Jakarta: Hubungan yang bermakna dibangun melalui komunikasi, terutama saat menghadapi momen yang tidak nyaman. Sayangnya, tidak sedikit orang memilih memberikan silent treatment saat menghadapi masalah dengan pasangannya.
 
Silent treatment merupakan perilaku ketika seseorang sengaja mendiamkan, mengabaikan, atau memutus komunikasi dengan orang lain sebagai respons terhadap konflik, kemarahan, atau kekecewaan.
 
Nyatanya, sikap ini kerap kali menimbulkan lebih banyak kecemasan daripada menyelesaikan masalah, sebab salah satu pihak dibiarkan menebak-nebak alih-alih memahami apa yang sebenarnya terjadi.
 
Lantas, apa yang harus dilakukan ketika pasangan memberikan silent treatment? Chandni Gaglani, pakar hubungan sekaligus Head of Aisle, aplikasi kencan di India, membagikan lima cara yang tepat untuk menghadapi situasi tersebut.
 
Baca juga: Bukan soal Ketemu Jodoh, Banyak Pria Menikah saat Merasa Sudah Siap
 

1. Jangan membalas diam dengan diam

Saat seseorang menarik diri secara emosional, naluri yang muncul sering kali adalah ikut menutup diri. Namun, Chandni menyarankan bahwa dalam hubungan yang sehat, salah satu pihak perlu memutus siklus tersebut dengan tenang.
 
Alih-alih bereaksi dengan kemarahan atau bersikap pasif-agresif, cobalah memulai percakapan dengan lembut. Misalnya bertanya, "Aku merasa ada jarak di antara kita. Bisakah kita membicarakan apa yang sedang terjadi?"
 

2. Fokus memahami penyebabnya

Melansir Hindustan Times, berbagai penelitian menunjukkan bahwa silent treatment biasanya merupakan cara bawah sadar seseorang untuk mengatasi rasa kewalahan. Hal ini umum terjadi dalam dinamika hubungan anxious-avoidant, ketika salah satu pasangan menutup diri untuk menenangkan emosinya sendiri.
 
Untuk mengatasinya, sebaiknya tunggu hingga konflik benar-benar mereda, lalu bahas dengan tenang pola yang mendasarinya, kenali titik-titik buta (blind spots), dan cari tahu bagaimana cara bekerja sama dengan lebih baik jika situasi serupa terjadi lagi.
 
Pemicu yang berkaitan dengan pola keterikatan (attachment triggers) tidak akan hilang hanya karena berganti pasangan. Karena itu, Chandni menekankan pentingnya melakukan pengembangan diri atau mengikuti konseling pasangan.
 
Baca juga: Parfum Lokal yang Wanginya Bikin Cowokmu Auto Nanya: “Pakai Apa Sih?”

 

3. Bahas polanya

Memberi ruang sesekali dalam hubungan adalah hal yang sehat. Namun, jika silent treatment terus berulang, hal itu akan menciptakan ketidakstabilan emosional, dan ketidakkonsistenan tersebut perlahan dapat merusak kepercayaan dalam hubungan.
 
Jika komunikasi selalu menghilang setiap kali menghadapi masalah, pola tersebut perlu dibicarakan secara terbuka sejak dini.
 

4. Jelaskan apa yang dibutuhkan

Banyak orang beranggapan pasangannya "seharusnya sudah tahu" apa yang menyakiti mereka. Padahal, kejelasan sangatlah penting.
 
Mengatakan sesuatu sesederhana, "Aku tidak masalah jika kita mengambil jeda, tetapi benar-benar didiamkan membuatku terluka secara emosional," dapat membantu membangun batasan dan ekspektasi yang lebih sehat dalam hubungan.

 
Baca juga: Sering Tak Disadari, Ini 8 Tanda Si Dia Adalah Jodohmu

 

5. Ketahui kapan diam berubah menjadi ketidakhadiran emosional

Chandni menjelaskan konflik adalah hal yang wajar dalam setiap hubungan, tidak setiap fase sulit berarti hubungan itu tidak sehat.
 
Namun, jika seseorang terus menghindari komunikasi, tanggung jawab, hingga kehadiran emosional meski sudah berkali-kali diajak berdiskusi, hal itu bisa menjadi tanda adanya ketidakcocokan.
 
Ketika hal tersebut sudah terjadi, maka pelaku hubungan perlu membicarakannya, bahkan mengakhiri hubungan apabila memang tidak bisa diperbaiki lagi.
 
Menurut Chandni, hubungan yang paling kuat bukanlah hubungan yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan hubungan di mana kedua belah pihak sama-sama bersedia berkomunikasi untuk melewati konflik tersebut.

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)

MOST SEARCH