FAMILY
Bukan soal Ketemu Jodoh, Banyak Pria Menikah saat Merasa Sudah Siap
A. Firdaus
Rabu 24 Juni 2026 / 10:09
- Dalam banyak kasus, komitmen muncul ketika seseorang merasa hidupnya sudah cukup stabil.
- Ketika merasa sudah siap untuk menetap, pria cenderung membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan.
- Perjalanan menuju komitmen tidak selalu ditentukan oleh siapa yang hadir dalam hidup seseorang.
Jakarta: Banyak orang mengira keputusan seorang pria untuk menikah, sepenuhnya ditentukan oleh siapa pasangan yang ditemuinya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesiapan pribadi sering kali memiliki peran, yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menemukan sosok yang dianggap ideal.
Dalam banyak kasus, komitmen muncul ketika seseorang merasa hidupnya sudah cukup stabil, dan siap memasuki fase baru. Tanda-tanda kesiapan ini, sering kali terlihat dari perubahan kecil dalam gaya hidup dan cara berpikir.
Seseorang mulai lebih teratur, lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, memikirkan masa depan dengan lebih serius, serta mulai memilih hal-hal yang memberikan manfaat jangka panjang, dibandingkan kesenangan sesaat.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa bagi banyak pria, komitmen lebih sering berkaitan dengan waktu dan kondisi kehidupan, daripada sekadar pesona pasangan.
Ketika merasa sudah siap untuk menetap, pria cenderung membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan, yang sedang bersamanya saat itu, selama hubungan tersebut dinilai sehat dan sesuai dengan nilai yang dimiliki. Dengan kata lain, kesiapan sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan, daripada pencarian sosok yang dianggap sempurna.
Menurut Jon Patrick Hatcher, M.A., adalah penulis buku 101 Cara Mengatasi Kecemasan Remaja dan Keluarga keputusan tersebut biasanya berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, seperti karier yang mulai stabil, kondisi finansial yang lebih mapan, atau munculnya keinginan untuk membangun keluarga dan memiliki anak. Faktor-faktor inilah, yang sering menjadi pendorong utama seseorang melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, kondisi ini juga memiliki sisi lain. Sejumlah penelitian menemukan bahwa peluang pria untuk menikah pertama kali, cenderung menurun setelah memasuki akhir usia 30-an.
Bukan karena keinginan untuk memiliki pasangan menghilang, tetapi karena pola hidup yang sudah terbentuk membuat banyak orang, semakin nyaman dengan rutinitas dan kemandirian yang dimiliki.
Seiring bertambahnya usia, kebebasan dalam mengatur waktu, kebiasaan hidup yang sudah mapan, serta kenyamanan menjalani kehidupan sendiri sering kali membuat komitmen, dipandang sebagai perubahan besar yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Akibatnya, keputusan untuk menikah menjadi lebih selektif dibandingkan saat usia yang lebih muda.
Perjalanan menuju komitmen tidak selalu ditentukan oleh siapa yang hadir dalam hidup seseorang, tetapi juga oleh kapan seseorang merasa benar-benar siap. Karena bagi banyak pria, pernikahan bukan hanya soal menemukan orang yang tepat, melainkan juga tentang berada pada waktu yang tepat dalam hidupnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dalam banyak kasus, komitmen muncul ketika seseorang merasa hidupnya sudah cukup stabil, dan siap memasuki fase baru. Tanda-tanda kesiapan ini, sering kali terlihat dari perubahan kecil dalam gaya hidup dan cara berpikir.
Seseorang mulai lebih teratur, lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, memikirkan masa depan dengan lebih serius, serta mulai memilih hal-hal yang memberikan manfaat jangka panjang, dibandingkan kesenangan sesaat.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa bagi banyak pria, komitmen lebih sering berkaitan dengan waktu dan kondisi kehidupan, daripada sekadar pesona pasangan.
Ketika merasa sudah siap untuk menetap, pria cenderung membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan, yang sedang bersamanya saat itu, selama hubungan tersebut dinilai sehat dan sesuai dengan nilai yang dimiliki. Dengan kata lain, kesiapan sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan, daripada pencarian sosok yang dianggap sempurna.
Menurut Jon Patrick Hatcher, M.A., adalah penulis buku 101 Cara Mengatasi Kecemasan Remaja dan Keluarga keputusan tersebut biasanya berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, seperti karier yang mulai stabil, kondisi finansial yang lebih mapan, atau munculnya keinginan untuk membangun keluarga dan memiliki anak. Faktor-faktor inilah, yang sering menjadi pendorong utama seseorang melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, kondisi ini juga memiliki sisi lain. Sejumlah penelitian menemukan bahwa peluang pria untuk menikah pertama kali, cenderung menurun setelah memasuki akhir usia 30-an.
Bukan karena keinginan untuk memiliki pasangan menghilang, tetapi karena pola hidup yang sudah terbentuk membuat banyak orang, semakin nyaman dengan rutinitas dan kemandirian yang dimiliki.
Seiring bertambahnya usia, kebebasan dalam mengatur waktu, kebiasaan hidup yang sudah mapan, serta kenyamanan menjalani kehidupan sendiri sering kali membuat komitmen, dipandang sebagai perubahan besar yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Akibatnya, keputusan untuk menikah menjadi lebih selektif dibandingkan saat usia yang lebih muda.
Perjalanan menuju komitmen tidak selalu ditentukan oleh siapa yang hadir dalam hidup seseorang, tetapi juga oleh kapan seseorang merasa benar-benar siap. Karena bagi banyak pria, pernikahan bukan hanya soal menemukan orang yang tepat, melainkan juga tentang berada pada waktu yang tepat dalam hidupnya.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)