FAMILY
Bukan Takut Komitmen, Ini Alasan Sebagian Pria Pilih Menikah Lebih Lambat
A. Firdaus
Rabu 24 Juni 2026 / 07:11
- Pandangan tentang pria yang sulit berkomitmen sudah lama menjadi topik pembicaraan.
- Banyak orang beranggapan bahwa pria cenderung menghindari komitmen atau mengalami gamofobia.
- Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa wanita umumnya memiliki tingkat kesiapan berkomitmen, yang lebih tinggi dibandingkan pria.
Jakarta: Tidak semua orang memiliki perjalanan cinta yang sama. Ada yang menemukan pasangan hidup di usia muda, sementara ada juga yang tetap melajang hingga usia yang lebih matang.
Perbedaan ini sering memunculkan pertanyaan, apakah sebagian pria memang takut berkomitmen, atau ada faktor lain yang memengaruhi keputusan untuk menikah?
Pandangan tentang pria yang sulit berkomitmen sudah lama menjadi topik pembicaraan. Tidak jarang pria lajang digambarkan sebagai sosok yang sulit ditebak, senang hidup bebas, dan enggan terikat dalam hubungan jangka panjang. Namun, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Banyak orang beranggapan bahwa pria cenderung menghindari komitmen atau mengalami gamofobia, yaitu ketakutan terhadap pernikahan atau hubungan serius.
Memang, kondisi tersebut bisa terjadi pada sebagian orang karena berbagai alasan, seperti pengalaman buruk di masa lalu, rasa takut kehilangan kebebasan, kesulitan membuka diri secara emosional, atau kekhawatiran memilih pasangan yang tidak tepat.
Meski demikian, tidak semua pria yang belum menikah memiliki ketakutan terhadap komitmen. Dalam banyak kasus, keputusan untuk menetap dalam sebuah hubungan lebih dipengaruhi oleh kesiapan pribadi, dibandingkan sekadar hadirnya pasangan yang tepat.
Dilansir dari Psychology Today, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa wanita umumnya memiliki tingkat kesiapan berkomitmen, yang lebih tinggi dibandingkan pria.
Sementara itu, keinginan untuk menikah pada pria cenderung lebih bervariasi, dan sering kali dipengaruhi oleh kondisi hidup, tujuan pribadi, serta perasaan siap untuk memasuki fase baru dalam kehidupan.
Di sisi lain, pernikahan juga kerap dikaitkan dengan konsep kedewasaan dalam berbagai budaya. Bagi sebagian pria, menikah dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan menuju kehidupan dewasa yang lebih stabil dan bertanggung jawab.
Menurut Jon Patrick Hatcher, M.A., penulis buku 101 Cara Mengatasi Kecemasan Remaja dan Tips Mengatasi Kecemasan di Dunia yang Penuh Ketidakpastian, ada pula tipe pria yang lebih nyaman menjalani hubungan dengan ruang pribadi yang cukup luas.
Mereka cenderung menyukai pasangan yang mandiri, memiliki kehidupan sosial sendiri, serta tidak bergantung sepenuhnya pada hubungan romantis. Bagi kelompok ini, kebebasan dan kemandirian tetap menjadi nilai penting, bahkan ketika sedang menjalin hubungan.
Oleh karena itu, keputusan untuk menikah atau berkomitmen tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Bukan semata-mata soal menemukan pasangan yang tepat, tetapi juga tentang kesiapan emosional, tujuan hidup, dan waktu yang dirasa paling sesuai untuk melangkah ke tahap yang lebih serius.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Perbedaan ini sering memunculkan pertanyaan, apakah sebagian pria memang takut berkomitmen, atau ada faktor lain yang memengaruhi keputusan untuk menikah?
Pandangan tentang pria yang sulit berkomitmen sudah lama menjadi topik pembicaraan. Tidak jarang pria lajang digambarkan sebagai sosok yang sulit ditebak, senang hidup bebas, dan enggan terikat dalam hubungan jangka panjang. Namun, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Banyak orang beranggapan bahwa pria cenderung menghindari komitmen atau mengalami gamofobia, yaitu ketakutan terhadap pernikahan atau hubungan serius.
Memang, kondisi tersebut bisa terjadi pada sebagian orang karena berbagai alasan, seperti pengalaman buruk di masa lalu, rasa takut kehilangan kebebasan, kesulitan membuka diri secara emosional, atau kekhawatiran memilih pasangan yang tidak tepat.
Meski demikian, tidak semua pria yang belum menikah memiliki ketakutan terhadap komitmen. Dalam banyak kasus, keputusan untuk menetap dalam sebuah hubungan lebih dipengaruhi oleh kesiapan pribadi, dibandingkan sekadar hadirnya pasangan yang tepat.
Dilansir dari Psychology Today, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa wanita umumnya memiliki tingkat kesiapan berkomitmen, yang lebih tinggi dibandingkan pria.
Sementara itu, keinginan untuk menikah pada pria cenderung lebih bervariasi, dan sering kali dipengaruhi oleh kondisi hidup, tujuan pribadi, serta perasaan siap untuk memasuki fase baru dalam kehidupan.
Di sisi lain, pernikahan juga kerap dikaitkan dengan konsep kedewasaan dalam berbagai budaya. Bagi sebagian pria, menikah dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan menuju kehidupan dewasa yang lebih stabil dan bertanggung jawab.
Menurut Jon Patrick Hatcher, M.A., penulis buku 101 Cara Mengatasi Kecemasan Remaja dan Tips Mengatasi Kecemasan di Dunia yang Penuh Ketidakpastian, ada pula tipe pria yang lebih nyaman menjalani hubungan dengan ruang pribadi yang cukup luas.
Mereka cenderung menyukai pasangan yang mandiri, memiliki kehidupan sosial sendiri, serta tidak bergantung sepenuhnya pada hubungan romantis. Bagi kelompok ini, kebebasan dan kemandirian tetap menjadi nilai penting, bahkan ketika sedang menjalin hubungan.
Oleh karena itu, keputusan untuk menikah atau berkomitmen tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Bukan semata-mata soal menemukan pasangan yang tepat, tetapi juga tentang kesiapan emosional, tujuan hidup, dan waktu yang dirasa paling sesuai untuk melangkah ke tahap yang lebih serius.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)