FAMILY
Game Online Enggak Selalu Jahat, Kuncinya Cuma Perlu Balance!
Yatin Suleha
Minggu 21 Juni 2026 / 21:00
- Main game online sering banget dianggap "musuh" buat anak-anak atau remaja.
- Padahal kalau dimainin dengan bijak dan tetap dalam pengawasan, game enggak selalu buruk, kok.
- Memang wajar kalau orang tua khawatir soal durasi screen time yang kelewat batas atau risiko di dunia maya.
Jakarta: Main game online sering banget dianggap "musuh" buat anak-anak atau remaja. Padahal kalau dimainin dengan bijak dan tetap dalam pengawasan, game enggak selalu buruk, kok.
Sebenarnya, anak-anak tetap bisa dapat sisi positif dari dunia gaming, mulai dari melatih kerja sama tim sampai jadi sarana buat memperluas pergaulan.
Memang wajar kalau orang tua khawatir soal durasi screen time yang kelewat batas atau risiko di dunia maya.
Tapi menurut para ahli, melarang total main game bukan solusi satu-satunya. Kuncinya justru ada di pengaturan waktu, supaya hobi main game tetap seimbang dan nggak mengganggu aktivitas lainnya.
“Hal ini telah membantu menghubungkan anak-anak di saat mereka tidak bisa berkumpul secara langsung, terutama selama pandemi," kata Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies dilansir dari Parents.
"Hal ini juga mengajarkan kerja sama, kesabaran, dan bahkan dapat memperkenalkan anak-anak pada ide dan dunia baru,” tambah Jordan lagi.
Selain menjadi hiburan, dunia game juga mulai membuka peluang pendidikan dan karier. Ron Kerbs, pendiri sekaligus CEO Kidas, menjelaskan bahwa banyak sekolah kini memiliki liga e-sports yang semakin populer, dan bahkan bisa membuka kesempatan beasiswa untuk pendidikan tinggi.
.jpg)
(Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies menekankan pentingnya bagi anak untuk mengenali kapan hobi main game mulai mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Oleh karena itu, pendekatan terbaik bukan melarang sepenuhnya, melainkan membantu anak memahami batas yang sehat dalam bermain game.
“Buat jadwal bermain game yang jelas dan tetapkan batasan waktu. Namun, fleksibilitas juga penting. Terkadang, sesi bermain yang lebih lama bersama teman-teman boleh saja, sementara di hari lain mungkin perlu dipersingkat,” saran Kerbs.
Jordan juga menekankan pentingnya bagi anak untuk mengenali kapan hobi main game mulai mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.
Misalnya saja, kalau waktu tidur berkurang, jarang gerak atau olahraga, perubahan perilaku, sampai hubungan sama teman jadi terganggu gara-gara terlalu asyik nge-game.
Menurutnya, hal itu jadi sinyal kalau anak butuh bantuan buat belajar mengatur diri. Situasi kayak gini sebenarnya wajar banget terjadi, bahkan orang dewasa pun sering mengalaminya.
Di sini peran orang tua tetap krusial, yaitu sebagai pendamping yang membantu anak buat nemuin keseimbangan.
Walaupun mengurangi waktu nge-game kadang terasa berat buat anak, langkah ini justru penting supaya kesehatan mental, fisik, dan kehidupan sosial mereka tetap terjaga dengan baik.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Sebenarnya, anak-anak tetap bisa dapat sisi positif dari dunia gaming, mulai dari melatih kerja sama tim sampai jadi sarana buat memperluas pergaulan.
Memang wajar kalau orang tua khawatir soal durasi screen time yang kelewat batas atau risiko di dunia maya.
Tapi menurut para ahli, melarang total main game bukan solusi satu-satunya. Kuncinya justru ada di pengaturan waktu, supaya hobi main game tetap seimbang dan nggak mengganggu aktivitas lainnya.
“Hal ini telah membantu menghubungkan anak-anak di saat mereka tidak bisa berkumpul secara langsung, terutama selama pandemi," kata Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies dilansir dari Parents.
"Hal ini juga mengajarkan kerja sama, kesabaran, dan bahkan dapat memperkenalkan anak-anak pada ide dan dunia baru,” tambah Jordan lagi.
Selain menjadi hiburan, dunia game juga mulai membuka peluang pendidikan dan karier. Ron Kerbs, pendiri sekaligus CEO Kidas, menjelaskan bahwa banyak sekolah kini memiliki liga e-sports yang semakin populer, dan bahkan bisa membuka kesempatan beasiswa untuk pendidikan tinggi.
.jpg)
(Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies menekankan pentingnya bagi anak untuk mengenali kapan hobi main game mulai mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Oleh karena itu, pendekatan terbaik bukan melarang sepenuhnya, melainkan membantu anak memahami batas yang sehat dalam bermain game.
“Buat jadwal bermain game yang jelas dan tetapkan batasan waktu. Namun, fleksibilitas juga penting. Terkadang, sesi bermain yang lebih lama bersama teman-teman boleh saja, sementara di hari lain mungkin perlu dipersingkat,” saran Kerbs.
Jordan juga menekankan pentingnya bagi anak untuk mengenali kapan hobi main game mulai mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.
Misalnya saja, kalau waktu tidur berkurang, jarang gerak atau olahraga, perubahan perilaku, sampai hubungan sama teman jadi terganggu gara-gara terlalu asyik nge-game.
Menurutnya, hal itu jadi sinyal kalau anak butuh bantuan buat belajar mengatur diri. Situasi kayak gini sebenarnya wajar banget terjadi, bahkan orang dewasa pun sering mengalaminya.
Di sini peran orang tua tetap krusial, yaitu sebagai pendamping yang membantu anak buat nemuin keseimbangan.
Walaupun mengurangi waktu nge-game kadang terasa berat buat anak, langkah ini justru penting supaya kesehatan mental, fisik, dan kehidupan sosial mereka tetap terjaga dengan baik.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)