FITNESS & HEALTH

Anak Demam, Kapan Harus Tetap Tenang atau Langsung ke Dokter

Yatin Suleha
Senin 22 Juni 2026 / 11:58
Ringkasnya gini..
  • Anak demam biasanya bikin Moms langsung auto-panik.
  • Lihat suhu tubuh yang naik, si kecil rewel, atau jadi kurang aktif memang bikin hati enggak tenang, ya.
  • Kapan harus dibawa ke dokter saat anak demam? Simak selengkapnya.
Jakarta: Anak demam biasanya bikin Moms langsung auto-panik. Lihat suhu tubuh yang naik, si kecil rewel, atau jadi kurang aktif memang bikin hati enggak tenang, ya. 

Padahal, enggak semua demam itu pertanda bahaya. Sering kali, ini justru cara alami tubuh buat ngelawan infeksi. 

Tapi, tetap penting buat kita paham kapan harus santai dan kapan harus waspada. Yuk, kenali lagi cara baca suhu tubuh dan tanda-tanda yang harus diperhatikan supaya kita bisa ambil langkah yang tepat buat si kecil.
 
Gejala demam pada bayi dan anak-anak dapat berbeda-beda, tergantung pada usia dan kondisi masing-masing anak.

Dilansir dari Parents, berikut adalah gejala yang dapat muncul meliputi, tetapi tidak terbatas pada.

- Suhu tubuh yang tinggi

- Tangisan yang terus-menerus dan sulit ditenangkan pada bayi baru lahir dan bayi

- Anak tampak lesu secara tidak biasa dan tidak berperilaku seperti biasanya, misalnya terlihat terlalu mengantuk meskipun sudah tidur cukup

- Munculnya ruam tanpa penyebab yang jelas, sakit kepala, nyeri tubuh, kekakuan, atau rasa nyeri lainnya

- Diare atau muntah berlebihan, atau kejang

“Tanda-tanda demam yang umum yang membuat kebanyakan orang tua membawa anak mereka ke dokter, pusat perawatan darurat, atau rumah sakit termasuk suhu tubuh 37,7° Celsius atau lebih tinggi,” kata Shelby House, seorang perawat rawat jalan dari Compass Health Network.

“Orang tua juga akan membawa anak mereka jika anak terlihat kemerahan, tidak makan atau minum dengan baik, dan menjadi lebih rewel,” tambahnya.
 

Bagaimana mengetahui jika anak mengalami demam?



(Laman IDAI mengingatkan, anak yang demam harus segera dibawa ke dokter jika suhu mencapai ≥ 39°C, berlangsung lebih dari 3 hari, atau bayi berusia kurang dari 3 bulan (dengan suhu ≥ 38°C). Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Hasil pengukuran suhu tubuh anak dapat bervariasi tergantung pada lokasi pengukuran. Selain memerhatikan angka suhu, gejala lain juga perlu diperhatikan, seperti kulit yang tampak kemerahan, penurunan aktivitas normal, atau detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.

Karena suhu tubuh setiap orang dapat berbeda dan hasil pengukuran dapat dipengaruhi oleh metode yang digunakan, suhu di atas 37,2° Celsius dapat dianggap sebagai demam ringan.

Namun demikian, penting untuk diketahui bahwa sebagian besar dokter menganggap suhu tubuh di atas 38° Celsius sebagai demam tinggi.
 

Apakah ambang batas demam berubah tergantung pada cara pengukurannya?


Betul karena terdapat beberapa metode untuk mengukur suhu tubuh anak, dan masing-masing metode memiliki ambang batas demam yang berbeda. Pemilihan metode pengukuran sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Berikut penjelasannya:

1. Ketiak: Suhu di atas 37,2° Celsius dianggap sebagai demam. Metode ini dapat digunakan untuk semua usia, terutama anak-anak yang lebih kecil.

2. Telinga: Suhu 38° Celsius atau lebih tinggi dianggap sebagai demam. Metode ini dianjurkan untuk anak berusia enam bulan atau lebih.

 

3. Mulut: Suhu 37,8° Celsius atau lebih tinggi dianggap sebagai demam. Metode ini umumnya digunakan pada anak berusia empat tahun ke atas.

4. Rektal: Metode ini dianggap paling akurat. Suhu 38° Celsius atau lebih tinggi menunjukkan demam dan sering digunakan pada anak berusia tiga tahun ke bawah.

5. Temporal (kening): Pengukuran dilakukan di area kening dan dapat digunakan pada anak berusia empat tahun ke atas. Suhu 38° Celsius atau lebih tinggi dianggap sebagai demam.

 

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH