FITNESS & HEALTH
POV: Niat Hati Pengin Sehat Bugar, tapi Dompet Malah yang Masuk 'ICU'
Yatin Suleha
Kamis 10 September 2026 / 21:42
- Tren active wellness kayak padel, tenis, maraton, sampe Hyrox lagi hype banget dan jadi simbol gaya hidup anak muda perkotaan.
- Tapi di balik konten aesthetic dan tubuh fit, ada tantangan finansial yang lumayan kerasa.
- Ada beberapa tips kelola keuangan hobi secara bijak buat Gen Z dan Millennials.
Jakarta: Tren active wellness kayak padel, tenis, maraton, sampe Hyrox lagi hype banget dan jadi simbol gaya hidup anak muda perkotaan. Tapi di balik konten aesthetic dan tubuh fit, ada tantangan finansial yang lumayan kerasa.
Riset Amar Bank bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” ke 300 responden di Jabodetabek dan kota besar lainnya spill fakta menarik, di antaranya:
Sebanyak 51,9% Gen Z ngaku terang-terangan rela ngorbanin budget nongkrong dan kopi demi hobi wellness. Beda sama Millennials, 52% dari mereka milih ketat sama budget dan rela nunda hobi kalau dananya belum ada.
Sebanyak 28,9% Gen Z nyisihin lebih dari 10% gaji bulanan khusus buat olahraga. Bahkan, 10,6% di antaranya nekat alokasiin di atas 20% gaji sampe ngorbanin tabungan.
Sebanyak 29,8% Gen Z ngaku dana darurat mereka pernah terpakai demi hobi. Sementara itu, 34,2% Millennials juga rentan karena belum punya dana darurat yang aman atau masih bergantung sama pinjaman pas kondisi mendesak.
Marketing Head Amar Bank, Rosalinda Hoesin mengatakan, "Kami melihat semangat generasi muda dalam mengadopsi gaya hidup sehat makin meningkat. Di Amar Bank, kami percaya bahwa kesehatan fisik dan kesadaran finansial harus berjalan berdampingan."

(Riset Amar Bank bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” menerangkan sebanyak 51,9% Gen Z ngaku terang-terangan rela ngorbanin budget nongkrong dan kopi demi hobi wellness. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dalam rilis dari Amar Bank ada beberapa tips kelola keuangan hobi secara bijak buat Gen Z dan Millennials:
Kesadaran finansial Gen Z ternyata cukup tinggi, di mana 63,5% dari mereka memilih menabung terlebih dahulu sebelum melakukan pengeluaran besar.
Agar tidak boncos saat menjalankan hobi olahraga, pastikan total akumulasi dana yang dimasukkan ke dalam tabungan celengan hobi tetap berada di kisaran 10% hingga maksimal 15% dari total pendapatan bulanan, setelah porsi kebutuhan pokok (50%) dan investasi jangka panjang (20%) terpenuhi.
Sebelum tergesa-gesa check-out peralatan olahraga berharga fantastis, biasakan menghitung rasio pemakaiannya terlebih dahulu (Cost-per-Use).
Caranya sederhana, bagilah harga barang dengan estimasi berapa kali barang tersebut akan benar-benar digunakan dalam setahun.
Misalnya: sepatu lari seharga Rp1.5 juta yang dipakai 150 kali setahun hanya berbiaya Rp10.000 per pemakaian, ini adalah keputusan beli yang bijak.
Sebaliknya, sepatu lari plat karbon khusus race seharga Rp2 juta yang hanya dipakai 4 kali setahun berbiaya Rp500 ribu per pemakaian.
Menguji calon barang belanjaan dengan indikator pemakaian nyata membantu kita membedakan secara objektif mana kebutuhan fungsional yang mendukung performa, dan mana yang sekadar dorongan emosional akibat tergiur tren media sosial (FOMO).
Dana darurat tetap harus tersimpan aman minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan. Jika kamu belum memiliki dana darurat yang memadai, kamu perlu segera mempersiapkan fondasi kebutuhan ini.
Jika kamu memang butuh untuk menggunakan alternatif pendanaan lewat pinjaman digital, pastikan untuk menerapkan empat prinsip utama ini:
- Pilih platform pinjaman digital yang legal dan diawasi oleh OJK;
- Batasi total cicilan maksimal 30% dari pendapatan;
- Pastikan pinjaman dialokasikan untuk kebutuhan berdaya guna jangka panjang (seperti pelatihan profesional atau alat keselamatan utama); dan
- Pastikan sumber arus kas pelunasan sudah terhitung matang sebelum bertransaksi.
"Gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang yang sangat baik, namun jangan sampai mengorbankan kesehatan finansial di masa depan," pungkas Rosalinda.
(TIN)
Riset Amar Bank bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” ke 300 responden di Jabodetabek dan kota besar lainnya spill fakta menarik, di antaranya:
- Gen Z rela cut off ngopi
Sebanyak 51,9% Gen Z ngaku terang-terangan rela ngorbanin budget nongkrong dan kopi demi hobi wellness. Beda sama Millennials, 52% dari mereka milih ketat sama budget dan rela nunda hobi kalau dananya belum ada.
- Pengeluaran olahraga "ngasih paham"
Sebanyak 28,9% Gen Z nyisihin lebih dari 10% gaji bulanan khusus buat olahraga. Bahkan, 10,6% di antaranya nekat alokasiin di atas 20% gaji sampe ngorbanin tabungan.
- Dana darurat ikut "bocor alus"
Sebanyak 29,8% Gen Z ngaku dana darurat mereka pernah terpakai demi hobi. Sementara itu, 34,2% Millennials juga rentan karena belum punya dana darurat yang aman atau masih bergantung sama pinjaman pas kondisi mendesak.
Marketing Head Amar Bank, Rosalinda Hoesin mengatakan, "Kami melihat semangat generasi muda dalam mengadopsi gaya hidup sehat makin meningkat. Di Amar Bank, kami percaya bahwa kesehatan fisik dan kesadaran finansial harus berjalan berdampingan."
Solusi finansial yang sehat

(Riset Amar Bank bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” menerangkan sebanyak 51,9% Gen Z ngaku terang-terangan rela ngorbanin budget nongkrong dan kopi demi hobi wellness. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dalam rilis dari Amar Bank ada beberapa tips kelola keuangan hobi secara bijak buat Gen Z dan Millennials:
1. Terapkan budaya save now, spend later
Kesadaran finansial Gen Z ternyata cukup tinggi, di mana 63,5% dari mereka memilih menabung terlebih dahulu sebelum melakukan pengeluaran besar.
2. Patuhi rumus alokasi 10% – 15% untuk lifestyle
Agar tidak boncos saat menjalankan hobi olahraga, pastikan total akumulasi dana yang dimasukkan ke dalam tabungan celengan hobi tetap berada di kisaran 10% hingga maksimal 15% dari total pendapatan bulanan, setelah porsi kebutuhan pokok (50%) dan investasi jangka panjang (20%) terpenuhi.
3. Evaluasi cost-per-use sebelum beli gear olahraga
Sebelum tergesa-gesa check-out peralatan olahraga berharga fantastis, biasakan menghitung rasio pemakaiannya terlebih dahulu (Cost-per-Use).
Caranya sederhana, bagilah harga barang dengan estimasi berapa kali barang tersebut akan benar-benar digunakan dalam setahun.
Misalnya: sepatu lari seharga Rp1.5 juta yang dipakai 150 kali setahun hanya berbiaya Rp10.000 per pemakaian, ini adalah keputusan beli yang bijak.
Sebaliknya, sepatu lari plat karbon khusus race seharga Rp2 juta yang hanya dipakai 4 kali setahun berbiaya Rp500 ribu per pemakaian.
Menguji calon barang belanjaan dengan indikator pemakaian nyata membantu kita membedakan secara objektif mana kebutuhan fungsional yang mendukung performa, dan mana yang sekadar dorongan emosional akibat tergiur tren media sosial (FOMO).
4. Penguatan fondasi dana darurat
Dana darurat tetap harus tersimpan aman minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan. Jika kamu belum memiliki dana darurat yang memadai, kamu perlu segera mempersiapkan fondasi kebutuhan ini.
5. Gunakan pinjaman digital secara bijak
Jika kamu memang butuh untuk menggunakan alternatif pendanaan lewat pinjaman digital, pastikan untuk menerapkan empat prinsip utama ini:
- Pilih platform pinjaman digital yang legal dan diawasi oleh OJK;
- Batasi total cicilan maksimal 30% dari pendapatan;
- Pastikan pinjaman dialokasikan untuk kebutuhan berdaya guna jangka panjang (seperti pelatihan profesional atau alat keselamatan utama); dan
- Pastikan sumber arus kas pelunasan sudah terhitung matang sebelum bertransaksi.
"Gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang yang sangat baik, namun jangan sampai mengorbankan kesehatan finansial di masa depan," pungkas Rosalinda.
(TIN)