FITNESS & HEALTH
Keren Abis! Komdigi Spill 16 Pemenang Lomba Artikel & Video Kreatif Kesehatan 2026
Yatin Suleha
Minggu 06 September 2026 / 10:52
- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru saja bagi-bagi apresiasi keren buat 16 pemenang Lomba Artikel dan Video Kreatif Kesehatan 2026.
- Mengusung tema "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat", ajang ini dijadiin wadah seru buat siapa saja buat ikutan spill pesan-pesan kesehatan.
- Antusiasme pesertanya juga gak main-main! Total ada 2.037 karya yang sukses masuk ke meja panitia, yang terdiri dari 1.196 artikel keren dan 841 video kreatif.
Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru saja bagi-bagi apresiasi keren buat 16 pemenang Lomba Artikel dan Video Kreatif Kesehatan 2026. Acara penganugerahannya sendiri udah sukses digelar di Jakarta pada Rabu (2/9/2026) lalu.
Mengusung tema "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat", ajang ini dijadiin wadah seru buat siapa saja—baik masyarakat umum maupun komunitas—buat ikutan spill pesan-pesan kesehatan lewat karya tulis dan video yang informatif, estetik, dan pastinya gampang dipahami banyak orang.
Antusiasme pesertanya juga gak main-main! Total ada 2.037 karya yang sukses masuk ke meja panitia, yang terdiri dari 1.196 artikel keren dan 841 video kreatif dari berbagai daerah di Indonesia, baik dari kategori perorangan maupun komunitas.
Nah, setelah melewati proses kurasi dan penjurian yang ketat banget, akhirnya terpilih 12 pemenang utama plus 4 penerima penghargaan favorit yang berhak membawa pulang total hadiah senilai Rp50 juta.
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kementerian Komdigi, Marroli Jeni Indarto, mengatakan besarnya partisipasi peserta menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap isu kesehatan sekaligus besarnya potensi masyarakat dalam menyebarluaskan informasi kesehatan.
Menurutnya, program kesehatan yang baik perlu didukung komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat secara luas. Informasi tidak cukup hanya disampaikan, tetapi harus bisa dipahami dan mendorong masyarakat untuk bertindak.
"Sebuah karya tidak hanya menang lewat piala. Ia menang ketika dibaca atau ditonton seseorang, lalu membuat orang itu lebih peduli pada kesehatannya sendiri," ujar Marroli.

(Komdigi apresiasi pemenang lomba artikel dan video kreatif kesehatan 2026. Foto: Dok. Kemkomdigi)
Lomba tahun ini mengangkat empat subtema, yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG), Bersama Akhiri Tuberkulosis, Revitalisasi Rumah Sakit, dan Cegah Stunting. Keempat tema tersebut dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan keseharian masyarakat.
Lewat lomba ini, para peserta diajak buat nyampein isu kesehatan dengan cara yang asyik, santai, dan jauh dari kesan kaku. Jadi, informasi kesehatan yang biasanya ribet bisa lebih gampang dipahami publik lewat cerita atau visual yang seru.
Langkah ini sejalan banget sama program Komdigi lewat Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang udah aktif sejak 2017. Fokusnya? Memberikan edukasi seputar gizi, pola hidup sehat, sampai pencegahan stunting buat anak muda.
Menurut Marroli, edukasi kesehatan ini emang harus jalan terus karena hasilnya gak instan. Bekal pengetahuan yang anak muda dapetin sekarang bakal dibawa sampai mereka berkeluarga nanti, bahkan diteruskan ke generasi selanjutnya.
Dari ribuan karya yang masuk, para juri gak cuma ngecek skill teknis peserta aja, Sayang. Substansi, seberapa besar manfaatnya, keakuratan info, kreativitas, sampai cara mereka deliver pesannya juga jadi poin penting.
Kata dr. Ugiadam Farhan Firmansyah—dokter sekaligus influencer kesehatan yang jadi juri kategori artikel—sebuah karya bakal kelihatan menonjol banget kalau nilai kebermanfaatannya benar-benar terasa.
"Apa yang paling bermanfaat atau paling menonjol dalam suatu karya adalah kebermanfaatan. Bagaimana ketika seorang masyarakat awam membaca artikel tersebut, dia mendapatkan suatu manfaat atau daya guna dari apa yang dia baca," ujar Ugiadam.
Pandangan itu juga menjadi salah satu bahan diskusi para juri selama proses penilaian. AN Uyung Pramudiarja, Redaktur Pelaksana detikHealth sekaligus juri kategori artikel, mengatakan masing-masing juri memiliki sudut pandang yang berbeda.
Menurut Uyung, terdapat karya yang unggul dari sisi teknis tetapi masih memiliki persoalan substansi, begitu pula sebaliknya. Karena itu, para juri berupaya menemukan karya yang mampu mengakomodasi berbagai aspek penilaian secara seimbang.
"Dari ketiga point of view itu, kita berusaha untuk mencari titik temunya seperti apa. Ada yang secara teknisnya dia bagus, tapi ternyata secara substansi ada masalah, begitu pun juga sebaliknya. Jadi kita cari titik temunya mana yang paling bisa mengakomodir ketiganya," katanya.
Proses diskusi tersebut justru dinilai penting untuk mendapatkan karya terbaik.
Juri kategori artikel lainnya, Ketua Tim Kerja Hubungan Media dan Kelembagaan, Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Winne Widiantini, SKM, MKM, mengatakan bahwa perbedaan pendapat antardewan juri tersebut justru membuat proses penilaian semakin kaya.
"Ketika kita saling memberikan argumen pada sebuah karya dan berdiskusi dengan juri yang lain, itu rasanya sebuah proses yang sangat bisa dinikmati oleh juri, sehingga akhirnya bisa mendapatkan karya yang benar-benar berkualitas," ujar Winne.

(Komdigi harap karya pemenang terus dukung komunikasi publik kesehatan Indonesia. Foto: Dok. Kemkomdigi)
Beda lagi tantangannya buat kategori video kreatif. Peserta dituntut jago menyampaikan info kesehatan secara singkat dan menarik tanpa bikin pesannya jadi melenceng.
Menurut Satryo Utomo, A.Md. Perfilman dari Kemenkes yang juga jadi juri video kreatif, akurasi informasi kesehatan tetap jadi fondasi nomor satu dalam penilaian.
"Nilai yang paling harus menonjol, harus presisi itu dari sisi kesehatannya. Jadi dari pesan kesehatannya harus benar dulu, paling tidak, baru nanti apakah semua ini bisa dibalut dengan ceritanya. Dan yang pasti juga karena ini lomba video kreatif, jadi dari sisi kreativitas dan juga dari kemasannya," kata Satryo.
Selain akurasi, kekuatan pesan dan alur cerita juga menjadi perhatian dalam menentukan karya terbaik.
Praktisi komunikasi dan media sekaligus juri video kreatif, Mauluddin Anwar, mengatakan karya dengan pesan yang kuat didukung storytelling yang baik memiliki nilai lebih dalam penilaian.
"Ketika sebuah video mengandung unsur yang tertinggi di pesan, kemudian di story, maka itu saya menilai yang terbaik," ujarnya.
Sementara itu, juri video kreatif lainnya yang juga influencer media kreatif, Ajazil Hawaris, melihat kreativitas peserta dalam mengemas isu kesehatan menjadi salah satu keunggulan karya yang masuk.
"Di sini saya melihat video-video mereka kreatif, pandai bagaimana caranya membungkus video itu biar enak didengar oleh masyarakat," kata Ajazil.
Sesuai pedoman lomba, kategori artikel dinilai dari kesesuaian tema, kualitas dan kedalaman materi, kreativitas dan orisinalitas, struktur dan bahasa, serta daya tarik. Sementara video kreatif dinilai dari kekuatan pesan, cerita, serta kreativitas dan pengemasan.
Keberagaman daerah asal peserta turut mewarnai daftar penerima penghargaan Lomba Artikel dan Video Kreatif Kesehatan 2026. Hal ini menunjukkan bahwa semangat menyampaikan pesan kesehatan tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.
Pada kategori Artikel Perorangan, Juara I diraih Rachel Indah Putri Ayu Erlisna melalui karya "Bukan Sekadar Batuk Biasa: Membaca Sinyal Tubuh, Merawat Napas Merdeka". Juara II diraih Salwa Al Hani Hidayah dengan karya "Muda Rasa Lansia; Generasi Z, 'Silent Killer', dan Urgensi CKG". Sementara Juara III diraih Norma Yulisthia melalui "Bagaimana Satu Skrining Kesehatan pada Ibu Hamil Dapat Mengubah Nasib Dua Nyawa".
Untuk kategori Artikel Komunitas, Juara I diraih Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Pemerintah Desa Jatuh, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, melalui karya "Sehat Tanpa Biaya, Layanan Kesehatan Gratis Langsung Ketuk Pintu Warga Desa Jatuh".
Juara II diraih KIM Tukum Mandiri, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dengan karya "TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat". Sementara Juara III diraih FORMASI (Forum Mahasiswa Berprestasi) FKM UINSU melalui "Jangan Tunggu Pasien Datang: Menjemput Kasus untuk Mengakhiri Tuberkulosis".
Pada kategori Video Kreatif Perorangan, Juara I diraih Abdul Wahid Shafauzadi melalui karya "Aku Dulu". Juara II diraih Bertilla Adele Arundhuti melalui "Persidangan Si Paling Sehat", sedangkan Juara III diraih Fidel Raditya Roca melalui "Masyarakat Pelosok Sehat & Kuat".
Sementara itu, kategori Video Kreatif Komunitas dimenangkan Komunitas Video Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Tidar melalui karya "WATES CANDI (Wajib Tabung Zat Besi, Cegah Stunting Sejak Dini)".
Posisi kedua diraih Komunitas Seni My First Movie Tegal dengan "Cegah Stunting dari Rumah", dan posisi ketiga ditempati Komunitas Informasi Masyarakat Bintang Jaya Itah melalui karya "Informasi Tepat, Langkah Sehat".
Empat penghargaan favorit juga diberikan kepada Nieva Elma Widad, KIM Mampie Kabupaten Polewali Mandar, Kanaya Alika Putri Oktaviani, serta KIM Desa Kertosari.
Marroli juga ngerasa bangga banget karena para pemenangnya datang dari berbagai daerah yang beragam. Artinya, kepedulian buat nyebarin info kesehatan itu tumbuh dan hidup di mana-mana, dan masyarakat punya peran besar banget di situ.
Komdigi berharap karya-karya keren ini gak cuma berhenti sampai lombanya selesai aja, Sayang. Sesuai tujuannya, artikel dan video bikinan para peserta ini bisa terus dipakai buat mendukung komunikasi publik pemerintah—mulai dari di-share lewat media sosial, website, kanal digital, acara sosialisasi, sampai dijadiin materi kampanye kesehatan.
Karena pada akhirnya, bagi Komdigi, nilai utama dari sebuah karya itu bukan cuma soal siapa yang jadi juara, tapi seberapa jauh pesan di dalamnya bisa nyampe dan bener-bener ngebantu masyarakat luas.
"Mari kita terus jadikan komunikasi kesehatan sebagai gerakan bersama, karena masyarakat sehat adalah fondasi bagi Indonesia yang kuat dan Indonesia Emas di masa depan," tutup Marroli.
(TIN)
Mengusung tema "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat", ajang ini dijadiin wadah seru buat siapa saja—baik masyarakat umum maupun komunitas—buat ikutan spill pesan-pesan kesehatan lewat karya tulis dan video yang informatif, estetik, dan pastinya gampang dipahami banyak orang.
Antusiasme pesertanya juga gak main-main! Total ada 2.037 karya yang sukses masuk ke meja panitia, yang terdiri dari 1.196 artikel keren dan 841 video kreatif dari berbagai daerah di Indonesia, baik dari kategori perorangan maupun komunitas.
Nah, setelah melewati proses kurasi dan penjurian yang ketat banget, akhirnya terpilih 12 pemenang utama plus 4 penerima penghargaan favorit yang berhak membawa pulang total hadiah senilai Rp50 juta.
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kementerian Komdigi, Marroli Jeni Indarto, mengatakan besarnya partisipasi peserta menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap isu kesehatan sekaligus besarnya potensi masyarakat dalam menyebarluaskan informasi kesehatan.
Menurutnya, program kesehatan yang baik perlu didukung komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat secara luas. Informasi tidak cukup hanya disampaikan, tetapi harus bisa dipahami dan mendorong masyarakat untuk bertindak.
"Sebuah karya tidak hanya menang lewat piala. Ia menang ketika dibaca atau ditonton seseorang, lalu membuat orang itu lebih peduli pada kesehatannya sendiri," ujar Marroli.
Angkat isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari

(Komdigi apresiasi pemenang lomba artikel dan video kreatif kesehatan 2026. Foto: Dok. Kemkomdigi)
Lomba tahun ini mengangkat empat subtema, yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG), Bersama Akhiri Tuberkulosis, Revitalisasi Rumah Sakit, dan Cegah Stunting. Keempat tema tersebut dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan keseharian masyarakat.
Lewat lomba ini, para peserta diajak buat nyampein isu kesehatan dengan cara yang asyik, santai, dan jauh dari kesan kaku. Jadi, informasi kesehatan yang biasanya ribet bisa lebih gampang dipahami publik lewat cerita atau visual yang seru.
Langkah ini sejalan banget sama program Komdigi lewat Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang udah aktif sejak 2017. Fokusnya? Memberikan edukasi seputar gizi, pola hidup sehat, sampai pencegahan stunting buat anak muda.
Menurut Marroli, edukasi kesehatan ini emang harus jalan terus karena hasilnya gak instan. Bekal pengetahuan yang anak muda dapetin sekarang bakal dibawa sampai mereka berkeluarga nanti, bahkan diteruskan ke generasi selanjutnya.
Karya yang bermanfaat, bukan sekadar menarik
Dari ribuan karya yang masuk, para juri gak cuma ngecek skill teknis peserta aja, Sayang. Substansi, seberapa besar manfaatnya, keakuratan info, kreativitas, sampai cara mereka deliver pesannya juga jadi poin penting.
Kata dr. Ugiadam Farhan Firmansyah—dokter sekaligus influencer kesehatan yang jadi juri kategori artikel—sebuah karya bakal kelihatan menonjol banget kalau nilai kebermanfaatannya benar-benar terasa.
"Apa yang paling bermanfaat atau paling menonjol dalam suatu karya adalah kebermanfaatan. Bagaimana ketika seorang masyarakat awam membaca artikel tersebut, dia mendapatkan suatu manfaat atau daya guna dari apa yang dia baca," ujar Ugiadam.
Pandangan itu juga menjadi salah satu bahan diskusi para juri selama proses penilaian. AN Uyung Pramudiarja, Redaktur Pelaksana detikHealth sekaligus juri kategori artikel, mengatakan masing-masing juri memiliki sudut pandang yang berbeda.
Menurut Uyung, terdapat karya yang unggul dari sisi teknis tetapi masih memiliki persoalan substansi, begitu pula sebaliknya. Karena itu, para juri berupaya menemukan karya yang mampu mengakomodasi berbagai aspek penilaian secara seimbang.
"Dari ketiga point of view itu, kita berusaha untuk mencari titik temunya seperti apa. Ada yang secara teknisnya dia bagus, tapi ternyata secara substansi ada masalah, begitu pun juga sebaliknya. Jadi kita cari titik temunya mana yang paling bisa mengakomodir ketiganya," katanya.
Proses diskusi tersebut justru dinilai penting untuk mendapatkan karya terbaik.
Juri kategori artikel lainnya, Ketua Tim Kerja Hubungan Media dan Kelembagaan, Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Winne Widiantini, SKM, MKM, mengatakan bahwa perbedaan pendapat antardewan juri tersebut justru membuat proses penilaian semakin kaya.
"Ketika kita saling memberikan argumen pada sebuah karya dan berdiskusi dengan juri yang lain, itu rasanya sebuah proses yang sangat bisa dinikmati oleh juri, sehingga akhirnya bisa mendapatkan karya yang benar-benar berkualitas," ujar Winne.
Video kreatif harus tetap akurat

(Komdigi harap karya pemenang terus dukung komunikasi publik kesehatan Indonesia. Foto: Dok. Kemkomdigi)
Beda lagi tantangannya buat kategori video kreatif. Peserta dituntut jago menyampaikan info kesehatan secara singkat dan menarik tanpa bikin pesannya jadi melenceng.
Menurut Satryo Utomo, A.Md. Perfilman dari Kemenkes yang juga jadi juri video kreatif, akurasi informasi kesehatan tetap jadi fondasi nomor satu dalam penilaian.
"Nilai yang paling harus menonjol, harus presisi itu dari sisi kesehatannya. Jadi dari pesan kesehatannya harus benar dulu, paling tidak, baru nanti apakah semua ini bisa dibalut dengan ceritanya. Dan yang pasti juga karena ini lomba video kreatif, jadi dari sisi kreativitas dan juga dari kemasannya," kata Satryo.
Selain akurasi, kekuatan pesan dan alur cerita juga menjadi perhatian dalam menentukan karya terbaik.
Praktisi komunikasi dan media sekaligus juri video kreatif, Mauluddin Anwar, mengatakan karya dengan pesan yang kuat didukung storytelling yang baik memiliki nilai lebih dalam penilaian.
"Ketika sebuah video mengandung unsur yang tertinggi di pesan, kemudian di story, maka itu saya menilai yang terbaik," ujarnya.
Sementara itu, juri video kreatif lainnya yang juga influencer media kreatif, Ajazil Hawaris, melihat kreativitas peserta dalam mengemas isu kesehatan menjadi salah satu keunggulan karya yang masuk.
"Di sini saya melihat video-video mereka kreatif, pandai bagaimana caranya membungkus video itu biar enak didengar oleh masyarakat," kata Ajazil.
Sesuai pedoman lomba, kategori artikel dinilai dari kesesuaian tema, kualitas dan kedalaman materi, kreativitas dan orisinalitas, struktur dan bahasa, serta daya tarik. Sementara video kreatif dinilai dari kekuatan pesan, cerita, serta kreativitas dan pengemasan.
Karya terbaik datang dari berbagai daerah
Keberagaman daerah asal peserta turut mewarnai daftar penerima penghargaan Lomba Artikel dan Video Kreatif Kesehatan 2026. Hal ini menunjukkan bahwa semangat menyampaikan pesan kesehatan tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.
Pada kategori Artikel Perorangan, Juara I diraih Rachel Indah Putri Ayu Erlisna melalui karya "Bukan Sekadar Batuk Biasa: Membaca Sinyal Tubuh, Merawat Napas Merdeka". Juara II diraih Salwa Al Hani Hidayah dengan karya "Muda Rasa Lansia; Generasi Z, 'Silent Killer', dan Urgensi CKG". Sementara Juara III diraih Norma Yulisthia melalui "Bagaimana Satu Skrining Kesehatan pada Ibu Hamil Dapat Mengubah Nasib Dua Nyawa".
Untuk kategori Artikel Komunitas, Juara I diraih Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Pemerintah Desa Jatuh, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, melalui karya "Sehat Tanpa Biaya, Layanan Kesehatan Gratis Langsung Ketuk Pintu Warga Desa Jatuh".
Juara II diraih KIM Tukum Mandiri, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dengan karya "TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat". Sementara Juara III diraih FORMASI (Forum Mahasiswa Berprestasi) FKM UINSU melalui "Jangan Tunggu Pasien Datang: Menjemput Kasus untuk Mengakhiri Tuberkulosis".
Pada kategori Video Kreatif Perorangan, Juara I diraih Abdul Wahid Shafauzadi melalui karya "Aku Dulu". Juara II diraih Bertilla Adele Arundhuti melalui "Persidangan Si Paling Sehat", sedangkan Juara III diraih Fidel Raditya Roca melalui "Masyarakat Pelosok Sehat & Kuat".
Sementara itu, kategori Video Kreatif Komunitas dimenangkan Komunitas Video Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Tidar melalui karya "WATES CANDI (Wajib Tabung Zat Besi, Cegah Stunting Sejak Dini)".
Posisi kedua diraih Komunitas Seni My First Movie Tegal dengan "Cegah Stunting dari Rumah", dan posisi ketiga ditempati Komunitas Informasi Masyarakat Bintang Jaya Itah melalui karya "Informasi Tepat, Langkah Sehat".
Empat penghargaan favorit juga diberikan kepada Nieva Elma Widad, KIM Mampie Kabupaten Polewali Mandar, Kanaya Alika Putri Oktaviani, serta KIM Desa Kertosari.
Karya tak berhenti di panggung penghargaan
Marroli juga ngerasa bangga banget karena para pemenangnya datang dari berbagai daerah yang beragam. Artinya, kepedulian buat nyebarin info kesehatan itu tumbuh dan hidup di mana-mana, dan masyarakat punya peran besar banget di situ.
Komdigi berharap karya-karya keren ini gak cuma berhenti sampai lombanya selesai aja, Sayang. Sesuai tujuannya, artikel dan video bikinan para peserta ini bisa terus dipakai buat mendukung komunikasi publik pemerintah—mulai dari di-share lewat media sosial, website, kanal digital, acara sosialisasi, sampai dijadiin materi kampanye kesehatan.
Karena pada akhirnya, bagi Komdigi, nilai utama dari sebuah karya itu bukan cuma soal siapa yang jadi juara, tapi seberapa jauh pesan di dalamnya bisa nyampe dan bener-bener ngebantu masyarakat luas.
"Mari kita terus jadikan komunikasi kesehatan sebagai gerakan bersama, karena masyarakat sehat adalah fondasi bagi Indonesia yang kuat dan Indonesia Emas di masa depan," tutup Marroli.
(TIN)