- Dua mahasiswa Universitas Udayana berbagi pengalaman menanam mangrove di Pemogan, Bali.
- Davis dan Edon justru berpikir sebaliknya. Bagi mereka, menanam hanyalah awal.
- Monitoring atau pemantauan menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan.
Denpasar: Lumpur membasahi kaki. Air pesisir membuat langkah sedikit lebih berat. Namun, bagi Davis Martin Damaledo dan Brameldon Natan Mayaut, kondisi itu justru menjadi bagian paling menarik dari pengalaman mereka.
Hari itu, dua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana tersebut turun langsung ke kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali yang melibatkan pemerintah Provinsi Bali. Mereka bukan sedang mengikuti praktikum di kampus, melainkan ikut menanam mangrove dalam kegiatan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) Green Action Mangrove Bali, Rabu (3/9/2026).
Sebanyak 5.000 bibit mangrove ditanam dalam kegiatan tersebut.
Bagi Davis, pengalaman itu terasa berbeda karena selama ini menjaga lingkungan kerap hanya dibicarakan dari jauh. Kali ini, ia bisa melihat, menyentuh, dan merasakan langsung kondisi ekosistem pesisir.
“Sangat seru bagi saya, terlebih kita langsung berkontak dengan alam. Kita terjun langsung dan merasakan bagaimana menanam mangrove,” ujar Davis saat diwawancarai Medcom.
Basah-basahan bukan masalah. Justru dari sana, ia merasa semakin memahami bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ada tanah yang harus diinjak, bibit yang harus ditanam, dan pengetahuan baru yang didapat dari penjelasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi mangrove.
Bagi Edon, sapaan Brameldon, pengalaman tersebut bahkan menjadi yang pertama baginya. Mahasiswa semester 5 itu mengaku senang bisa sejenak keluar dari rutinitas perkuliahan dan tugas-tugas kampus.
“Ini juga pertama kali saya mengikuti penanaman mangrove. Sangat seru. Akhirnya di tengah kesibukan sebagai mahasiswa dan tugas kuliah, kita bisa aktif juga ikut menjaga alam, bisa refreshing, melihat pemandangan dan vegetasi,” tuturnya.
Namun, semakin jauh berbicara soal mangrove, keduanya menyadari bahwa menanam ternyata bukan bagian tersulit.
Ada anggapan sederhana dalam kegiatan penghijauan: selama bibit sudah masuk ke tanah, berarti pekerjaan selesai.
Davis dan Edon justru berpikir sebaliknya. Bagi mereka, menanam hanyalah awal.
Bibit mangrove yang baru ditanam masih harus menghadapi berbagai tantangan sebelum tumbuh menjadi tanaman dewasa. Tidak semua bibit akan bertahan hidup. Sebagian bisa mati karena kondisi lingkungan, gangguan organisme, pencemaran, maupun berbagai faktor lainnya.
“Orang-orang mungkin beranggapan tanam saja sudah. Padahal sebenarnya tidak. Yang paling penting adalah bagaimana mangrove yang kita tanam itu benar-benar bisa tumbuh, survive,” kata Davis.
.jpg)
Davis dan Edon merupakan salah dua dari 50 mahasiswa Universitas Udayana yang ikut menanam mangrove dalam Green Action Mangrove Bali, Rabu silam. Mereka dijuluki Skuad Darling. Dok. Ist
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang lebih besar.
Sebuah kegiatan penanaman bisa selesai dalam hitungan jam. Foto-foto bisa diambil. Bibit bisa dihitung. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting muncul setelah semua orang pulang: berapa banyak yang benar-benar bertahan hidup?
Davis melihat persoalan tersebut sebagai tantangan dalam berbagai program penghijauan. “Fakta di lapangan banyak yang sekadar menanam, setelah itu ditinggalkan, mati, selesai,” ujarnya.
Edon memiliki pandangan serupa. Menurut dia, aksi lingkungan jangan sampai berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Banyak program yang hanya sekilas untuk menanam dan terlihat sudah peduli. Setelah program selesai, kamera mati dan mereka pergi,” katanya.
Karena itu, monitoring atau pemantauan menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan.
Mangrove yang telah ditanam perlu diperhatikan perkembangannya. Apakah tumbuh dengan baik? Apakah ada tanda penyakit? Apakah ada gangguan yang membuat bibit tidak mampu bertahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi pekerjaan panjang setelah kegiatan penanaman selesai.
Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian, Davis dan Edon melihat persoalan mangrove dari sudut yang sedikit berbeda.
Keduanya mengambil konsentrasi proteksi tanaman. Mereka mempelajari persoalan hama dan penyakit tanaman yang ternyata juga relevan ketika berbicara mengenai keberlangsungan tanaman mangrove.
Davis bahkan berencana melakukan penelitian mengenai kesehatan dan penyakit pada mangrove.
Baginya, penelitian tersebut menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa untuk ikut berkontribusi.
2.jpg)
Tak hanya menanam, ada keberlanjutan setelah aksi pertama dilakukan. Dok. Ist
“Ketika saya melihat ada gejala-gejala atau tanda-tanda penyakit di mangrove, itu berkaitan dengan monitoring tadi. Saya bisa memberikan rekomendasi dalam karya tulis saya,” ujarnya.
Ia berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi salah satu bahan yang membantu pengambilan kebijakan dalam upaya melestarikan mangrove.
Dengan kata lain, kontribusi anak muda tidak harus selalu berupa turun ke lapangan setiap hari.
Ada yang bisa menanam. Ada yang bisa melakukan monitoring. Ada pula yang dapat melakukan penelitian, mengedukasi masyarakat, mengelola sampah, atau menggerakkan komunitas.
Yang penting, ada keberlanjutan setelah aksi pertama dilakukan.
Davis sendiri bukan orang yang asing dengan alam.
Berasal dari Ambon dan telah sekitar dua tahun tinggal di Bali untuk berkuliah, ia mengaku sejak kecil sudah terbiasa dekat dengan lingkungan alam.
Karena itu, melihat persoalan mangrove secara langsung membuatnya merasa prihatin.
Mangrove bukan sekadar tanaman yang berdiri di pinggir pantai. Ekosistem tersebut punya peran penting bagi kawasan pesisir.
Kerusakan mangrove berarti hilangnya salah satu bagian penting dari sistem perlindungan pesisir.
.jpg)
BLDF juga menghadirkan Living Laboratory. Dok. Ist
Dari pengalaman tersebut, Davis melihat bahwa kepedulian lingkungan di kalangan Gen Z memang tidak bisa dipukul rata.
Ada anak muda yang sangat peduli. Ada pula yang mungkin belum merasa isu lingkungan sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.
Namun, menurutnya, kepedulian bisa tumbuh ketika seseorang mau melihat langsung kondisi di sekitarnya.
Edon juga melihat ada perubahan positif di kalangan anak muda.
Di Bali, misalnya, ia melihat semakin banyak gerakan yang mengajak masyarakat mengelola sampah, menanam pohon, hingga melakukan kegiatan pelestarian kawasan pesisir.
“Langkah-langkah kecil itu yang bisa dilakukan Gen Z untuk melestarikan ekosistem lautan kita,” katanya.
Ada satu pesan sederhana yang ingin disampaikan Davis kepada generasi sebayanya: jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia di layar dan lupa dengan lingkungan tempat tinggal.
“Lebih baik sebagai seorang Gen Z kita lebih aware tentang apa yang ada di sekitar kita. Jangan terlalu terfokus pada apa yang ada di layar sehingga kita melupakan lingkungan di mana kita tinggal dan hidup,” ujarnya.
Bentuk kepedulian itu pun tidak harus selalu spektakuler.
Bagi mahasiswa yang tinggal di Bali dan dekat dengan kawasan pesisir, misalnya, menjaga kebersihan lingkungan bisa menjadi langkah sederhana.
Tidak membuang sampah sembarangan adalah tindakan kecil. Namun, ketika dilakukan banyak orang, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Sampah yang masuk ke kawasan pesisir dapat mencemari lingkungan dan mengganggu pertumbuhan mangrove, terutama tanaman yang masih muda.
Edon menambahkan, masyarakat juga tidak harus dipaksa menyukai isu lingkungan. Yang lebih penting adalah memahami mengapa lingkungan perlu dijaga.
“Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai suatu hal yang memang tidak mereka sukai. Tetapi setidaknya minimal kita harus memahami peran pentingnya,” katanya.
Pemahaman tersebut, menurut dia, dapat membuat seseorang berpikir sebelum bertindak.
Sebelum membuang sampah. Sebelum mencemari lingkungan. Sebelum melakukan sesuatu yang dampaknya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Sore mungkin akan datang setelah kegiatan selesai. Para peserta akan meninggalkan kawasan penanaman. Lumpur akan mengering di kaki. Pakaian yang basah akan berganti.
Namun, ribuan bibit mangrove yang ditanam hari itu akan tetap berada di sana.
Mereka akan menghadapi perjalanan yang jauh lebih panjang daripada acara penanamannya sendiri. Bagi Davis dan Edon, di situlah makna sebenarnya dari aksi lingkungan.
Bukan tentang berapa banyak bibit yang berhasil ditanam dalam satu hari, tetapi tentang berapa banyak yang mampu tumbuh dan kelak menjalankan fungsinya bagi pesisir.
“Perlu kita melakukan penanaman dan kita terus kontrol, sehingga bisa memastikan bahwa mangrove yang kita tanam itu bisa tumbuh dan dia bisa melindungi pantai kita,” ujar Edon.
Pada akhirnya, menjaga alam memang tidak selalu membutuhkan aksi besar.
Kadang-kadang, ia dimulai dari langkah sederhana: turun ke lumpur, menanam satu bibit, lalu kembali lagi untuk memastikan bibit itu masih hidup.
Sebab, seperti yang diingatkan Edon, bumi bukan hanya milik manusia.
“Planet ini bukan hanya untuk kita. Di sini ada berbagai spesies flora, fauna, dan lainnya yang bahkan sudah ada jauh sebelum manusia."
(FIR)
Hari itu, dua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana tersebut turun langsung ke kawasan Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali yang melibatkan pemerintah Provinsi Bali. Mereka bukan sedang mengikuti praktikum di kampus, melainkan ikut menanam mangrove dalam kegiatan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) Green Action Mangrove Bali, Rabu (3/9/2026).
Sebanyak 5.000 bibit mangrove ditanam dalam kegiatan tersebut.
Bagi Davis, pengalaman itu terasa berbeda karena selama ini menjaga lingkungan kerap hanya dibicarakan dari jauh. Kali ini, ia bisa melihat, menyentuh, dan merasakan langsung kondisi ekosistem pesisir.
“Sangat seru bagi saya, terlebih kita langsung berkontak dengan alam. Kita terjun langsung dan merasakan bagaimana menanam mangrove,” ujar Davis saat diwawancarai Medcom.
Basah-basahan bukan masalah. Justru dari sana, ia merasa semakin memahami bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ada tanah yang harus diinjak, bibit yang harus ditanam, dan pengetahuan baru yang didapat dari penjelasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi mangrove.
Bagi Edon, sapaan Brameldon, pengalaman tersebut bahkan menjadi yang pertama baginya. Mahasiswa semester 5 itu mengaku senang bisa sejenak keluar dari rutinitas perkuliahan dan tugas-tugas kampus.
“Ini juga pertama kali saya mengikuti penanaman mangrove. Sangat seru. Akhirnya di tengah kesibukan sebagai mahasiswa dan tugas kuliah, kita bisa aktif juga ikut menjaga alam, bisa refreshing, melihat pemandangan dan vegetasi,” tuturnya.
Namun, semakin jauh berbicara soal mangrove, keduanya menyadari bahwa menanam ternyata bukan bagian tersulit.
Ketika Menanam Bukan Akhir dari Segalanya
Ada anggapan sederhana dalam kegiatan penghijauan: selama bibit sudah masuk ke tanah, berarti pekerjaan selesai.
Davis dan Edon justru berpikir sebaliknya. Bagi mereka, menanam hanyalah awal.
Bibit mangrove yang baru ditanam masih harus menghadapi berbagai tantangan sebelum tumbuh menjadi tanaman dewasa. Tidak semua bibit akan bertahan hidup. Sebagian bisa mati karena kondisi lingkungan, gangguan organisme, pencemaran, maupun berbagai faktor lainnya.
“Orang-orang mungkin beranggapan tanam saja sudah. Padahal sebenarnya tidak. Yang paling penting adalah bagaimana mangrove yang kita tanam itu benar-benar bisa tumbuh, survive,” kata Davis.
.jpg)
Davis dan Edon merupakan salah dua dari 50 mahasiswa Universitas Udayana yang ikut menanam mangrove dalam Green Action Mangrove Bali, Rabu silam. Mereka dijuluki Skuad Darling. Dok. Ist
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang lebih besar.
Sebuah kegiatan penanaman bisa selesai dalam hitungan jam. Foto-foto bisa diambil. Bibit bisa dihitung. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting muncul setelah semua orang pulang: berapa banyak yang benar-benar bertahan hidup?
Davis melihat persoalan tersebut sebagai tantangan dalam berbagai program penghijauan. “Fakta di lapangan banyak yang sekadar menanam, setelah itu ditinggalkan, mati, selesai,” ujarnya.
Edon memiliki pandangan serupa. Menurut dia, aksi lingkungan jangan sampai berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Banyak program yang hanya sekilas untuk menanam dan terlihat sudah peduli. Setelah program selesai, kamera mati dan mereka pergi,” katanya.
Karena itu, monitoring atau pemantauan menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan.
Mangrove yang telah ditanam perlu diperhatikan perkembangannya. Apakah tumbuh dengan baik? Apakah ada tanda penyakit? Apakah ada gangguan yang membuat bibit tidak mampu bertahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi pekerjaan panjang setelah kegiatan penanaman selesai.
Belajar dari Apa yang Ada di Depan Mata
Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian, Davis dan Edon melihat persoalan mangrove dari sudut yang sedikit berbeda.
Keduanya mengambil konsentrasi proteksi tanaman. Mereka mempelajari persoalan hama dan penyakit tanaman yang ternyata juga relevan ketika berbicara mengenai keberlangsungan tanaman mangrove.
Davis bahkan berencana melakukan penelitian mengenai kesehatan dan penyakit pada mangrove.
Baginya, penelitian tersebut menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa untuk ikut berkontribusi.
2.jpg)
Tak hanya menanam, ada keberlanjutan setelah aksi pertama dilakukan. Dok. Ist
“Ketika saya melihat ada gejala-gejala atau tanda-tanda penyakit di mangrove, itu berkaitan dengan monitoring tadi. Saya bisa memberikan rekomendasi dalam karya tulis saya,” ujarnya.
Ia berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi salah satu bahan yang membantu pengambilan kebijakan dalam upaya melestarikan mangrove.
Dengan kata lain, kontribusi anak muda tidak harus selalu berupa turun ke lapangan setiap hari.
Ada yang bisa menanam. Ada yang bisa melakukan monitoring. Ada pula yang dapat melakukan penelitian, mengedukasi masyarakat, mengelola sampah, atau menggerakkan komunitas.
Yang penting, ada keberlanjutan setelah aksi pertama dilakukan.
Gen Z dan Hubungan dengan Alam
Davis sendiri bukan orang yang asing dengan alam.
Berasal dari Ambon dan telah sekitar dua tahun tinggal di Bali untuk berkuliah, ia mengaku sejak kecil sudah terbiasa dekat dengan lingkungan alam.
Karena itu, melihat persoalan mangrove secara langsung membuatnya merasa prihatin.
Mangrove bukan sekadar tanaman yang berdiri di pinggir pantai. Ekosistem tersebut punya peran penting bagi kawasan pesisir.
Kerusakan mangrove berarti hilangnya salah satu bagian penting dari sistem perlindungan pesisir.
.jpg)
BLDF juga menghadirkan Living Laboratory. Dok. Ist
Dari pengalaman tersebut, Davis melihat bahwa kepedulian lingkungan di kalangan Gen Z memang tidak bisa dipukul rata.
Ada anak muda yang sangat peduli. Ada pula yang mungkin belum merasa isu lingkungan sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.
Namun, menurutnya, kepedulian bisa tumbuh ketika seseorang mau melihat langsung kondisi di sekitarnya.
Edon juga melihat ada perubahan positif di kalangan anak muda.
Di Bali, misalnya, ia melihat semakin banyak gerakan yang mengajak masyarakat mengelola sampah, menanam pohon, hingga melakukan kegiatan pelestarian kawasan pesisir.
“Langkah-langkah kecil itu yang bisa dilakukan Gen Z untuk melestarikan ekosistem lautan kita,” katanya.
Jangan Sampai Dunia di Layar Mengalahkan Dunia Nyata
Ada satu pesan sederhana yang ingin disampaikan Davis kepada generasi sebayanya: jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia di layar dan lupa dengan lingkungan tempat tinggal.
“Lebih baik sebagai seorang Gen Z kita lebih aware tentang apa yang ada di sekitar kita. Jangan terlalu terfokus pada apa yang ada di layar sehingga kita melupakan lingkungan di mana kita tinggal dan hidup,” ujarnya.
Bentuk kepedulian itu pun tidak harus selalu spektakuler.
Bagi mahasiswa yang tinggal di Bali dan dekat dengan kawasan pesisir, misalnya, menjaga kebersihan lingkungan bisa menjadi langkah sederhana.
Tidak membuang sampah sembarangan adalah tindakan kecil. Namun, ketika dilakukan banyak orang, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Sampah yang masuk ke kawasan pesisir dapat mencemari lingkungan dan mengganggu pertumbuhan mangrove, terutama tanaman yang masih muda.
Edon menambahkan, masyarakat juga tidak harus dipaksa menyukai isu lingkungan. Yang lebih penting adalah memahami mengapa lingkungan perlu dijaga.
“Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai suatu hal yang memang tidak mereka sukai. Tetapi setidaknya minimal kita harus memahami peran pentingnya,” katanya.
Pemahaman tersebut, menurut dia, dapat membuat seseorang berpikir sebelum bertindak.
Sebelum membuang sampah. Sebelum mencemari lingkungan. Sebelum melakukan sesuatu yang dampaknya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Belajar Menjaga Mangrove, Bukan Sekadar Menanam
Sore mungkin akan datang setelah kegiatan selesai. Para peserta akan meninggalkan kawasan penanaman. Lumpur akan mengering di kaki. Pakaian yang basah akan berganti.
Namun, ribuan bibit mangrove yang ditanam hari itu akan tetap berada di sana.
Mereka akan menghadapi perjalanan yang jauh lebih panjang daripada acara penanamannya sendiri. Bagi Davis dan Edon, di situlah makna sebenarnya dari aksi lingkungan.
Bukan tentang berapa banyak bibit yang berhasil ditanam dalam satu hari, tetapi tentang berapa banyak yang mampu tumbuh dan kelak menjalankan fungsinya bagi pesisir.
“Perlu kita melakukan penanaman dan kita terus kontrol, sehingga bisa memastikan bahwa mangrove yang kita tanam itu bisa tumbuh dan dia bisa melindungi pantai kita,” ujar Edon.
Pada akhirnya, menjaga alam memang tidak selalu membutuhkan aksi besar.
Kadang-kadang, ia dimulai dari langkah sederhana: turun ke lumpur, menanam satu bibit, lalu kembali lagi untuk memastikan bibit itu masih hidup.
Sebab, seperti yang diingatkan Edon, bumi bukan hanya milik manusia.
“Planet ini bukan hanya untuk kita. Di sini ada berbagai spesies flora, fauna, dan lainnya yang bahkan sudah ada jauh sebelum manusia."
(FIR)