COMMUNITY
Living Laboratory, Laboratorium Alami yang Bisa Jadi Ruang Belajar
A. Firdaus
Kamis 03 September 2026 / 14:01
- Living laboratory mangrove di Bali dikembangkan Djarum Foundation dan Universitas Udayana.
- keberadaan living laboratory memungkinkan kegiatan konservasi mangrove tidak berhenti setelah bibit ditanam.
- Mutiah berharap konsep living laboratory dapat menjadi bagian dari gerakan konservasi mangrove yang lebih luas di Indonesia.
Denpasar: Upaya menjaga mangrove kini tak lagi cukup hanya dengan menanam bibit. Agar tanaman bisa bertahan dan ekosistemnya terus terjaga, diperlukan pemantauan, penelitian, hingga pengembangan metode konservasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Universitas Udayana mengembangkan living laboratory mangrove di Bali. Kawasan ini dirancang sebagai laboratorium alami yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan riset oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiah Diah Asmara, mengatakan konsep living laboratory menjadi langkah lanjutan dari kegiatan penanaman mangrove yang selama ini dilakukan.
“Harus ada satu langkah di atas penanaman, yaitu satu area yang bisa dilakukan penelitian maupun riset-riset lainnya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa di tempat itu beserta dosen dan civitas akademika,” ujar Mutiah dalam Green Action Mangrove Bali 2026.
Menurut Mutiah, keberadaan living laboratory memungkinkan kegiatan konservasi mangrove tidak berhenti setelah bibit ditanam. Kawasan tersebut justru menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana mangrove tumbuh, menghadapi berbagai tantangan lingkungan, sekaligus menemukan cara agar penanamannya dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Berbeda dengan laboratorium konvensional, living laboratory memanfaatkan lingkungan alami sebagai ruang penelitian. Area mangrove yang telah ditentukan akan menjadi lokasi untuk melakukan pengamatan dan berbagai penelitian secara langsung.
Sebanyak 5.000 bibit mangrove akan ditanam di kawasan tersebut. Selanjutnya, perkembangan bibit akan dipantau selama sekitar enam bulan melalui kegiatan monitoring dan riset bersama Universitas Udayana.
.jpg)
Sekitar 50 mahasiswa melakukan seremoni penanaman 5.000 bibit mangrove. Dok. Ist
“Selama enam bulan ke depan akan dilakukan monitoring, akan dilakukan riset-riset penelitian bersama Universitas Udayana,” jelas Mutiah.
Konsep ini memungkinkan mahasiswa dan peneliti melihat langsung berbagai kondisi yang terjadi di lapangan. Jika terdapat kendala dalam pertumbuhan mangrove, misalnya akibat kondisi perairan maupun gelombang, persoalan tersebut dapat diamati sekaligus dipelajari.
“Ini adalah laboratorium alami dan itu yang terbaik sebetulnya. Karena dampaknya akan terasa langsung. Bentuk kendalanya pun jika ada akan terlihat langsung. Kemudian kita juga mungkin bisa melakukan uji coba dan sebagainya,” tuturnya.
Dengan begitu, living laboratory tidak hanya menjadi tempat untuk mengamati mangrove, tetapi juga dapat menjadi ruang trial and error untuk menemukan pendekatan konservasi yang paling sesuai.
Salah satu tujuan utama pengembangan living laboratory adalah menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung keberlanjutan mangrove.
Berbagai data yang dikumpulkan melalui monitoring dan penelitian diharapkan dapat membantu melihat kondisi tanaman sekaligus lingkungan tempat mangrove tumbuh.
Universitas Udayana juga memiliki perangkat dan sumber daya akademik yang dapat mendukung proses penelitian tersebut. Mulai dari pengukuran klorofil hingga pengamatan kondisi air dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai ekosistem mangrove.
“Universitas Udayana memiliki alat-alat tertentu, misalnya untuk mengukur klorofil, untuk mengecek bagaimana air dan sebagainya. Nah, itu diperlukan sekali,” kata Mutiah.
Data dan hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi mengenai langkah yang paling tepat dalam merawat dan melestarikan mangrove.
Mutiah mengatakan pengembangan living laboratory ini masih berada pada tahap awal. Ke depan, Djarum Foundation bersama Universitas Udayana tengah menyiapkan program agar kawasan tersebut dapat terus berkembang sebagai ruang penelitian.
Artinya, kawasan ini diharapkan tidak hanya digunakan untuk satu kali kegiatan penelitian, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh civitas akademika.
“Sedang disusun suatu program bagaimana supaya lab itu bisa terus berkembang,” ujarnya.
Menurut Mutiah, keberadaan tim yang melakukan monitoring secara rutin menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Dengan pemantauan yang konsisten, perubahan kondisi mangrove dapat diketahui dan ditindaklanjuti melalui penelitian.
Pengembangan living laboratory di Bali juga memiliki alasan tersendiri. Selain memiliki keragaman mangrove, Bali merupakan salah satu destinasi wisata dunia sehingga kawasan pesisirnya memiliki nilai strategis untuk menjadi ruang edukasi dan konservasi.
Program ini merupakan kelanjutan dari upaya Djarum Foundation dalam melakukan penanaman mangrove di berbagai wilayah. Di pesisir pantai utara Jawa Tengah, misalnya, Djarum Foundation telah menanam lebih dari 1,4 juta mangrove.
Namun, kondisi setiap wilayah tentu berbeda. Karena itu, pendekatan berbasis penelitian menjadi penting agar upaya konservasi dapat disesuaikan dengan karakteristik lingkungan setempat.
“Bali ini sangat unik. Salah satunya yang cukup lengkap dari segi varietasnya, kemudian juga ini merupakan showcase-nya Indonesia,” kata Mutiah.
Keberadaan living laboratory di Bali pun diharapkan dapat menjadi contoh bahwa konservasi tidak hanya berbicara soal menanam sebanyak mungkin pohon, tetapi juga tentang memahami ekosistem, mengumpulkan data, melakukan penelitian, dan mencari solusi agar mangrove dapat bertahan dalam jangka panjang.
Mutiah berharap konsep living laboratory dapat menjadi bagian dari gerakan konservasi mangrove yang lebih luas di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga, perguruan tinggi, peneliti, dan berbagai pihak dapat memberikan dampak yang lebih besar jika dilakukan secara konsisten.
“Langkah-langkah kolaborasi seperti ini apabila dilakukan di seluruh penjuru Indonesia tentunya akan membawa dampak yang lumayan besar,” ujarnya.
Pada akhirnya, living laboratory bukan hanya tentang sebuah kawasan untuk menanam dan meneliti mangrove. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar terbuka untuk memahami ekosistem pesisir sekaligus menemukan cara terbaik menjaganya.
“Kami sangat berharap sekali bahwa mangrove ini akan tetap menjadi penjaga pesisir pantai,” pungkas Mutiah.
(FIR)
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Universitas Udayana mengembangkan living laboratory mangrove di Bali. Kawasan ini dirancang sebagai laboratorium alami yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan riset oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiah Diah Asmara, mengatakan konsep living laboratory menjadi langkah lanjutan dari kegiatan penanaman mangrove yang selama ini dilakukan.
“Harus ada satu langkah di atas penanaman, yaitu satu area yang bisa dilakukan penelitian maupun riset-riset lainnya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa di tempat itu beserta dosen dan civitas akademika,” ujar Mutiah dalam Green Action Mangrove Bali 2026.
Menurut Mutiah, keberadaan living laboratory memungkinkan kegiatan konservasi mangrove tidak berhenti setelah bibit ditanam. Kawasan tersebut justru menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana mangrove tumbuh, menghadapi berbagai tantangan lingkungan, sekaligus menemukan cara agar penanamannya dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Berbeda dengan laboratorium konvensional, living laboratory memanfaatkan lingkungan alami sebagai ruang penelitian. Area mangrove yang telah ditentukan akan menjadi lokasi untuk melakukan pengamatan dan berbagai penelitian secara langsung.
Sebanyak 5.000 bibit mangrove akan ditanam di kawasan tersebut. Selanjutnya, perkembangan bibit akan dipantau selama sekitar enam bulan melalui kegiatan monitoring dan riset bersama Universitas Udayana.
.jpg)
Sekitar 50 mahasiswa melakukan seremoni penanaman 5.000 bibit mangrove. Dok. Ist
“Selama enam bulan ke depan akan dilakukan monitoring, akan dilakukan riset-riset penelitian bersama Universitas Udayana,” jelas Mutiah.
Konsep ini memungkinkan mahasiswa dan peneliti melihat langsung berbagai kondisi yang terjadi di lapangan. Jika terdapat kendala dalam pertumbuhan mangrove, misalnya akibat kondisi perairan maupun gelombang, persoalan tersebut dapat diamati sekaligus dipelajari.
“Ini adalah laboratorium alami dan itu yang terbaik sebetulnya. Karena dampaknya akan terasa langsung. Bentuk kendalanya pun jika ada akan terlihat langsung. Kemudian kita juga mungkin bisa melakukan uji coba dan sebagainya,” tuturnya.
Dengan begitu, living laboratory tidak hanya menjadi tempat untuk mengamati mangrove, tetapi juga dapat menjadi ruang trial and error untuk menemukan pendekatan konservasi yang paling sesuai.
Dari Data Lapangan Jadi Rekomendasi
Salah satu tujuan utama pengembangan living laboratory adalah menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung keberlanjutan mangrove.
Berbagai data yang dikumpulkan melalui monitoring dan penelitian diharapkan dapat membantu melihat kondisi tanaman sekaligus lingkungan tempat mangrove tumbuh.
Universitas Udayana juga memiliki perangkat dan sumber daya akademik yang dapat mendukung proses penelitian tersebut. Mulai dari pengukuran klorofil hingga pengamatan kondisi air dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai ekosistem mangrove.
“Universitas Udayana memiliki alat-alat tertentu, misalnya untuk mengukur klorofil, untuk mengecek bagaimana air dan sebagainya. Nah, itu diperlukan sekali,” kata Mutiah.
Data dan hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi mengenai langkah yang paling tepat dalam merawat dan melestarikan mangrove.
Living Laboratory Diharapkan Terus Berkembang
Mutiah mengatakan pengembangan living laboratory ini masih berada pada tahap awal. Ke depan, Djarum Foundation bersama Universitas Udayana tengah menyiapkan program agar kawasan tersebut dapat terus berkembang sebagai ruang penelitian.
Artinya, kawasan ini diharapkan tidak hanya digunakan untuk satu kali kegiatan penelitian, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh civitas akademika.
“Sedang disusun suatu program bagaimana supaya lab itu bisa terus berkembang,” ujarnya.
Menurut Mutiah, keberadaan tim yang melakukan monitoring secara rutin menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Dengan pemantauan yang konsisten, perubahan kondisi mangrove dapat diketahui dan ditindaklanjuti melalui penelitian.
Bali Jadi Ruang Belajar Konservasi Mangrove
Pengembangan living laboratory di Bali juga memiliki alasan tersendiri. Selain memiliki keragaman mangrove, Bali merupakan salah satu destinasi wisata dunia sehingga kawasan pesisirnya memiliki nilai strategis untuk menjadi ruang edukasi dan konservasi.
Program ini merupakan kelanjutan dari upaya Djarum Foundation dalam melakukan penanaman mangrove di berbagai wilayah. Di pesisir pantai utara Jawa Tengah, misalnya, Djarum Foundation telah menanam lebih dari 1,4 juta mangrove.
Namun, kondisi setiap wilayah tentu berbeda. Karena itu, pendekatan berbasis penelitian menjadi penting agar upaya konservasi dapat disesuaikan dengan karakteristik lingkungan setempat.
“Bali ini sangat unik. Salah satunya yang cukup lengkap dari segi varietasnya, kemudian juga ini merupakan showcase-nya Indonesia,” kata Mutiah.
Keberadaan living laboratory di Bali pun diharapkan dapat menjadi contoh bahwa konservasi tidak hanya berbicara soal menanam sebanyak mungkin pohon, tetapi juga tentang memahami ekosistem, mengumpulkan data, melakukan penelitian, dan mencari solusi agar mangrove dapat bertahan dalam jangka panjang.
Menjaga Mangrove dengan Kolaborasi
Mutiah berharap konsep living laboratory dapat menjadi bagian dari gerakan konservasi mangrove yang lebih luas di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga, perguruan tinggi, peneliti, dan berbagai pihak dapat memberikan dampak yang lebih besar jika dilakukan secara konsisten.
“Langkah-langkah kolaborasi seperti ini apabila dilakukan di seluruh penjuru Indonesia tentunya akan membawa dampak yang lumayan besar,” ujarnya.
Pada akhirnya, living laboratory bukan hanya tentang sebuah kawasan untuk menanam dan meneliti mangrove. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar terbuka untuk memahami ekosistem pesisir sekaligus menemukan cara terbaik menjaganya.
“Kami sangat berharap sekali bahwa mangrove ini akan tetap menjadi penjaga pesisir pantai,” pungkas Mutiah.
(FIR)