COMMUNITY

Bukan Cuma Tanam Mangrove, Ada ‘Living Laboratory’ untuk Anak Muda di Bali

A. Firdaus
Rabu 02 September 2026 / 15:10
Ringkasnya gini..
  • BLDF menanam 5.000 bibit mangrove di Bali sekaligus menghadirkan Living Laboratory Mangrove untuk edukasi dan pelestarian pesisir.
  • Pendekatan living laboratory dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata bagi mahasiswa dan peneliti.
  • BLDF berharap penanaman mangrove dan kehadiran Living Laboratory Mangrove dapat menjadi langkah jangka panjang dalam mendukung rehabilitasi pesisir.
Denpasar: Menanam mangrove bukan sekadar soal memasukkan bibit ke tanah lalu menunggu pohonnya tumbuh. Ada ekosistem yang perlu dipahami, dirawat, sekaligus dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Hal inilah yang coba didorong Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui Green Action Mangrove Bali 2026. Kegiatan yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, pada Rabu 2 September 2026 ini menginisiasi penanaman 5.000 bibit mangrove.

Tak hanya menanam, BLDF juga memperkenalkan fasilitas Living Laboratory Mangrove yang dirancang sebagai ruang belajar langsung mengenai ekosistem pesisir.
 

Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara, civitas akademika, 50 mahasiswa Universitas Udayana, serta konten kreator lingkungan Ananda Priantara.

Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari keterlibatan BLDF dalam pelestarian mangrove di Pemogan.

“Pada tahun 2022 dan 2024, BLDF sebelumnya telah menanam 10.000 bibit mangrove dengan melibatkan lebih dari 40 mahasiswa di Pemogan, Bali. Kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 melanjutkan keterlibatan BLDF di kawasan tersebut dan menjadi bagian dalam mendukung pemulihan kawasan pesisir,” ujar Mutiara.
 

Mangrove Jadi Ruang Belajar


Fasilitas Living Laboratory Mangrove dihadirkan untuk mengubah kawasan mangrove menjadi ruang pembelajaran lapangan. Di sini, konservasi, penelitian, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekowisata bisa berjalan beriringan.

Dengan pendekatan tersebut, kawasan mangrove tidak berhenti sebagai lokasi penanaman bibit. Kawasan ini diharapkan menjadi tempat mahasiswa, peneliti, masyarakat, hingga pengunjung mempelajari bagaimana ekosistem pesisir dikelola secara berkelanjutan.

“Melalui pendekatan ini, mangrove tidak hanya ditanam dan dirawat, tetapi juga dipelajari. Kami berharap kawasan ini dapat menjadi ruang tumbuhnya pengetahuan, kolaborasi, dan inovasi dalam menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan,” kata Mutiara.


Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara. Dok. A. Firdaus/Medcom

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga menilai pendekatan living laboratory dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata bagi mahasiswa dan peneliti.

Menurutnya, kawasan mangrove bisa menjadi ruang penelitian yang terbuka dan kolaboratif. Pengelolaannya pun perlu melihat aspek konservasi, penelitian, edukasi, pemberdayaan masyarakat, hingga potensi ekowisata.

“Pelestarian mangrove perlu bergerak melampaui kegiatan penanaman. Kita juga perlu membangun pengetahuan mengenai cara merawat dan mengelola ekosistem tersebut dalam jangka panjang,” ujar Dewa.
 

Jadi Benteng Alami Pesisir Bali


Keberadaan mangrove punya peran penting bagi kawasan pesisir Bali. Selain menjadi habitat berbagai flora dan fauna, mangrove membantu melindungi garis pantai dan menyimpan karbon.

Kepala UPTD Taman Hutan Raya Ngurah Rai Provinsi Bali I Putu Agus Juliartawan mengatakan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir dari ancaman abrasi.

“Mangrove menjadi salah satu solusi penting untuk mempertahankan bahkan memperluas daratan. Sebab, mangrove memiliki peran strategis yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh infrastruktur buatan manusia,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi sinergi BLDF dalam penanaman 5.000 mangrove di kawasan Pemogan.

Bali sendiri memiliki kawasan mangrove lebih dari 3.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Jembrana, Klungkung, dan Buleleng. Kawasan tersebut menjadi salah satu aset ekologis penting yang mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus pariwisata di Pulau Dewata.
 

Anak Muda Ikut Ambil Peran


Upaya menjaga lingkungan juga tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan generasi muda. Apalagi, media sosial kini menjadi salah satu ruang utama bagi anak muda untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi.

Berdasarkan Statistik Pemuda Indonesia 2025 yang diterbitkan BPS, sebanyak 88,85 persen generasi muda memanfaatkan media sosial.

Melihat peluang tersebut, BLDF turut menggunakan kanal digital melalui akun Instagram @SiapDarling untuk mengemas isu pelestarian lingkungan dalam konten yang lebih dekat dengan generasi muda.


Penanaman Bibit Mangrove bersama Darling Squad. Dok.Ist 

BLDF juga mencatat lebih dari 4.000 mahasiswa aktif tergabung dalam Darling Squad dan telah terlibat dalam berbagai inisiatif lingkungan.

Konten kreator lingkungan Ananda Priantara menilai isu sustainability perlu diterjemahkan ke dalam aksi yang dekat dengan keseharian anak muda. Salah satunya melalui pengalaman langsung di lapangan.

Keterlibatan secara langsung, menurutnya, dapat membantu anak muda memahami persoalan lingkungan sekaligus membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.

Melalui Green Action Mangrove Bali 2026, BLDF berharap penanaman mangrove dan kehadiran Living Laboratory Mangrove dapat menjadi langkah jangka panjang dalam mendukung rehabilitasi pesisir.

Lebih dari sekadar menambah jumlah pohon, kawasan tersebut diharapkan menjadi tempat tumbuhnya pengetahuan, kolaborasi, dan generasi muda yang semakin peduli terhadap masa depan lingkungan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH