KKN-T IPB menanam mangrove di kawasan Kampung Sejahtera Nelayan (KSN), Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur. Foto: KKN-T
KKN-T IPB menanam mangrove di kawasan Kampung Sejahtera Nelayan (KSN), Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur. Foto: KKN-T

Bagaimana Mangrove Bisa Jadi Solusi Abrasi Pesisir? Begini Proses Rehabilitisainya

Ilham Pratama Putra • 26 Agustus 2026 16:18
Ringkasnya gini..
  • Pesisir Indramayu menghadapi abrasi, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka laut.
  • Mahasiswa IPB bersama 500 peserta menanam mangrove di pesisir Kandanghaur.
  • Mangrove penting, tetapi perawatan dan keterlibatan warga menentukan keberlanjutannya.
Jakarta: Ancaman abrasi di pesisir Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini menjadi persoalan serius. Tekanan terhadap kawasan pesisir tidak hanya berasal dari abrasi, tetapi juga penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut.
 
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University ikut turun ke pesisir guna mendorong upaya pemulihan lingkungan. Bersama pemerintah daerah, komunitas lingkungan, pelajar, dan warga, mereka menanam mangrove di kawasan Kampung Sejahtera Nelayan (KSN), Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur.
 
Sekitar 500 peserta terlibat dalam kegiatan yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu dan Asosiasi Lembaga Peduli Lingkungan (ALPL) Kabupaten Indramayu. Dua tim KKN-T Inovasi IPB dari Desa Eretan Wetan dan Desa Eretan Kulon turut bergabung dalam kegiatan tersebut. 
 
Baca juga: Bukan dari Ubi, Pakar IPB Sarankan Pakai Tepung Ini untuk Alternatif Padamkan Api  

Bagi mahasiswa, penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan menanam bibit. Tetapi bagian dari edukasi dan upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Kondisi pesisir Kandanghaur menjadi perhatian karena masyarakat di wilayah tersebut berhadapan langsung dengan berbagai tekanan lingkungan. Mengutip Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mei 2026, tercatat penurunan muka tanah di Kabupaten Indramayu sekitar 6 sentimeter per tahun. 
 
Sementara itu, laju kenaikan muka air laut di Pantai Utara Jawa berada pada kisaran 2,4-4,3 milimeter per tahun. Kondisi tersebut dapat memperluas jangkauan banjir rob dan meningkatkan kerentanan wilayah pesisir, terutama ketika penurunan muka tanah berlangsung bersamaan dengan kenaikan muka laut.
 
Persoalan lingkungan tersebut juga bersinggungan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 mencatat tingkat kemiskinan Kabupaten Indramayu mencapai 11,01 persen, tertinggi di Jawa Barat.
 
Di Desa Eretan Wetan, sebanyak 1.956 rumah tangga disebut menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan. Artinya, perubahan kondisi ekosistem pesisir berpotensi berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
 
Mahasiswa IPB menilai mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir. Vegetasi tersebut dapat membantu melindungi kawasan pantai sekaligus menjadi habitat berbagai biota seperti ikan, kepiting, dan udang.
 
Baca juga: Perang Abadi Telur Dadar vs Telur Ceplok: Beda Nutrisi atau Cuma Beda Lemak  

 
Namun, penanaman mangrove tidak serta-merta menyelesaikan persoalan abrasi. Bibit yang ditanam membutuhkan waktu untuk tumbuh dan harus dirawat agar dapat berkembang menjadi ekosistem yang berfungsi optimal.
 
“Mangrove bukan sekadar pohon yang ditanam lalu ditinggalkan. Bibit yang ditanam hari ini baru akan berfungsi menahan abrasi setelah beberapa tahun, dan itu hanya terjadi kalau ada yang memantau dan merawatnya,” ujar anggota tim KKN-T IPB dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Athalah Pasha Al Ghifari dalam keterangannya, Rabu 26 Agustus 2026.
 
Karena itu, menurut dia, keterlibatan masyarakat setelah kegiatan penanaman menjadi hal penting. Kesadaran untuk melakukan pemantauan dan perawatan diperlukan agar upaya rehabilitasi pesisir tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
 
Upaya edukasi tersebut sebelumnya juga dilakukan tim KKN-T IPB Desa Eretan Wetan melalui program PELITA (Peduli Lingkungan Tanpa Sampah). Mahasiswa mengenalkan ekosistem mangrove kepada siswa sekolah dasar di desa tersebut.
 
Materi yang diberikan mencakup fungsi mangrove sebagai salah satu pelindung kawasan pesisir, habitat biota laut, serta kaitannya dengan persoalan sampah. Penanaman mangrove kemudian menjadi praktik lapangan dari edukasi yang telah diberikan.
 
Ketua Pelaksana KKN-T Inovasi IPB Desa Eretan Wetan, Daniel Dinata, mengatakan timnya memilih bergabung dalam aksi yang telah digerakkan pemerintah daerah dan komunitas lingkungan. Menurut dia, kolaborasi lintas pihak membuat dampak kegiatan menjadi lebih luas dibandingkan jika mahasiswa menjalankan kegiatan penanaman secara mandiri.
 
Baca juga: Salut! Anak Penjual Es Sukses Jadi Lulusan Terbaik IPB University  

 
“Kami sengaja tidak membuat kegiatan penanaman sendiri. Aksi yang digerakkan DLH dan ALPL ini sudah melibatkan pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan warga sekaligus, sehingga jauh lebih berdampak daripada apa pun yang bisa kami kerjakan ber-delapan. Peran kami adalah menyambungkannya dengan program edukasi yang sudah berjalan di desa,” ujar Daniel.
 
Kolaborasi dua tim KKN-T IPB dari Eretan Wetan dan Eretan Kulon juga dilakukan karena kedua desa berada di Kecamatan Kandanghaur dan menghadapi persoalan pesisir yang serupa. Bagi mahasiswa, aksi tersebut menjadi bagian dari program pengabdian yang tidak hanya berfokus pada kegiatan lapangan, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
 
Dengan ancaman abrasi, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka air laut yang terjadi secara bersamaan, penanaman mangrove menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga pesisir. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada pemilihan lokasi yang tepat, perawatan tanaman, serta keterlibatan masyarakat dalam jangka panjang.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan