FITNESS & HEALTH

Perang Abadi Telur Dadar vs Telur Ceplok: Beda Nutrisi atau Cuma Beda Lemak

Yatin Suleha
Senin 24 Agustus 2026 / 13:05
Ringkasnya gini..
  • Mending telur ceplok apa telur dadar, ya?
  • Pertanyaan klasik ini sering banget bikin galau, apalagi buat kamu yang lagi on track jaga pola makan sehat.
  • Menurut penjelasan Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, sebenarnya kedua olahan telur ini punya kandungan gizi yang kurang lebih sama.
Jakarta: Mending telur ceplok apa telur dadar, ya? Pertanyaan klasik ini sering banget bikin galau, apalagi buat kamu yang lagi on track jaga pola makan sehat.

Menurut penjelasan Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, seorang dosen dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, sebenarnya kedua olahan telur ini punya kandungan gizi yang kurang lebih sama persis.

Bedanya itu cuma terletak di jumlah minyak dan tambahan bahan yang kamu pakai pas proses masaknya, Bestie. Jadi, mau pilih yang mana, balik lagi seberapa banyak minyak yang kamu tuang ke wajan!
 
“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” ujarnya seperti dilansir dari laman resmi IPB.

Soal kalori, telur dadar tuh emang agak "berdosa" dibanding ceplok karena karakternya yang doyan banget nyerap minyak pas digoreng. 

Belum lagi kalau kamu demen nambahin topping gurih kayak keju melted, tepung biar makin kriuk, sosis, atau daging cincang—wah, dijamin angka kalorinya langsung melonjak drastis, Bestie!

Tapi tenang, di balik minyaknya yang melimpah, proses masak pakai panas kompor ini justru punya plot twist positif buat tubuh kita, lho. 


(Kuncinya cuma satu dalam mengonsumsi telur, tetep mindful dan pinter-pinter milih cara masaknya biar manfaatnya kena, tapi gak berlebihan di minyak ya! Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Menurut Dr. Karina, panas api justru bikin protein di dalam telur ngalamin denaturasi alias terurai dengan cantiknya.

Hasilnya? Protein jadi jauh lebih gampang dicerna dan diserap optimal sama tubuh kita! Jadi, gak rugi-rugi banget, kan?

“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen,” jelasnya lagi.

Tapi, ada catatan penting nih, Bestie! Jangan sampai kamu masaknya pakai api super kepanasan atau kelamaan gosong. 

Dr. Karina ngingetin kalau suhu ideal buat masak telur itu cukup di kisaran 60–80 derajat Celsius aja.

Kalau kamu nekat manggang atau goreng di atas suhu 150–160 derajat Celsius, siap-siap aja asam amino yang bagus di dalamnya malah rusak dan kualitas gizinya jadi ambyar alias turun drastis.
 
Nah, buat kamu yang lagi on track diet atau pengin nurunin berat badan, ia juga nyaranin buat beralih ke metode masak yang minim atau zero minyak. 

Kamu bisa cobain bikin telur rebus, poached egg yang ala kafe-kafe hits itu, atau dikukus sekalian. Dijamin tetap sehat, enak, dan bebas rasa bersalah!

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH