Jakarta: Punya privilese minim bukan berarti harus berhenti mengejar mimpi. Hal ini dibuktikan langsung oleh Aulia Ulfa. Berasal dari keluarga sederhana di Bondowoso, Jawa Timur, ia sukses mencatatkan namanya sebagai salah satu lulusan terbaik dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University..
Di kampung halamannya, orang tua Aulia merupakan pedagang warung kecil yang menjajakan es, mi instan, hingga aneka jajanan. Namun, kondisi finansial yang pas-pasan tersebut justru diubahnya menjadi bahan bakar utama untuk mendobrak batasan dan meraih pendidikan tinggi.
“Di antara banyak karunia yang Allah berikan, menjadi bagian dari IPB adalah salah satu takdir yang paling saya syukuri. Bagi saya, kesempatan menjadi mahasiswa merupakan pertaruhan yang menggiurkan untuk menempa diri di tengah keterbatasan yang telah menjadi teman akrab saya sejak lahir,” ujar Aulia dikutip dari siaran pers IPB, Sabty, 22 Agustus 2026.
Lulusan SMAN 1 Tenggarang ini berhasil mengamankan masa depannya melalui program beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Strategi bertahan hidupnya di tanah rantau juga tertolong berkat fasilitas Asrama Pendidikan Kompetensi Umum (PKU) dan Asrama Kepemimpinan yang ia tinggali selama tiga tahun.
“Tinggal di Asrama sangat meringankan biaya hidup saya selama merantau di Bogor,” akunya.
Menariknya, Aulia bukanlah tipe mahasiswa 'kupu-kupu'. Di luar kesibukan akademik, ia rajin mengeksplorasi diri lewat program magang, konferensi, hingga berbagai riset.
Ia juga mengabdi sebagai tutor, asisten praktikum, serta aktif di organisasi IPB Sustainable Science Research Students Association (SSRS) dan LKM Birena Al-Hurriyyah. “Di IPB University, saya belajar bahwa menjadi biologist bukan hanya tentang memahami kehidupan, tetapi juga berani mempertanyakan, mengamati, dan mencari jawabannya,” katanya.
Ada benang merah yang indah antara bidang studi yang ia tekuni dengan realita kehidupannya. Lewat penelitian skripsinya, Aulia mengulik konsep plasticity, kemampuan sebuah organisme untuk merespons dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan sekitarnya. Filosofi sains ini ia maknai sebagai cerminan jalan hidupnya sendiri.
“Saya belajar bahwa bertumbuh tidak selalu membutuhkan keadaan yang ideal. Sering kali kita justru paling banyak bertumbuh setelah mampu beradaptasi, mencoba kembali, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk berkembang meskipun kondisi tidak sesuai harapan,” tuturnya.
Di balik gemilang prestasinya hari ini, Aulia tak lupa menengok ke belakang dan mengapresiasi support system yang terus menjaganya agar tidak tumbang.
“Dipertemukan dengan dosen, kakak tingkat, serta rekan-rekan yang baik dan tulus merupakan hal yang paling saya syukuri. Mereka membuat perjalanan ini terasa lebih hangat dan mengajarkan bahwa sejauh apa pun saya melangkah, pencapaian tidak pernah benar-benar berjalan sendirian,” ujarnya.
Dari sudut warung kecil di Bondowoso menuju panggung kehormatan IPB University, kisah Aulia adalah validasi nyata: selama ada daya adaptasi dan kerja keras, keterbatasan hanyalah babak awal dari sebuah keberhasilan besar.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan