COMMUNITY

Saat Mangrove jadi Benteng Hidup Warga Pesisir Bali

A. Firdaus
Kamis 03 September 2026 / 15:03
Ringkasnya gini..
  • Mangrove punya banyak manfaat bagi masyarakat Bali, mulai dari menyerap karbon, melindungi pesisir dari abrasi,
  • Edukasi mengenai fungsi mangrove menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut.
  • Upaya menjaga mangrove di Pemogan pun melibatkan masyarakat lokal.
Denpasar: Mangrove bukan sekadar tanaman yang tumbuh di kawasan pesisir. Keberadaannya punya manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari membantu menjaga wilayah pantai dari ancaman bencana hingga membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan dan budaya.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, dalam kegiatan Bakti Lingkungan Djarum Foundation Green Action penanaman 5.000 mangrove di Pemogan, Bali, Rabu (3/9/2026).

Menurut Dewa, salah satu manfaat penting mangrove adalah kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon. Bahkan, kemampuan ekosistem mangrove dalam menyerap karbon disebut dapat jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah ekosistem hutan daratan.
Namun, manfaat mangrove tidak berhenti pada isu lingkungan. Di Bali, keberadaan hutan mangrove juga berkaitan erat dengan kehidupan sosial, budaya, hingga potensi ekonomi masyarakat setempat.
 

Mangrove Bisa Jadi Sumber Potensi Ekonomi Warga


Dewa menjelaskan, masyarakat lokal dapat terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan mangrove. Salah satunya melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara yang beranggotakan masyarakat setempat.

Keberadaan kawasan mangrove dapat dikembangkan menjadi berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi warga, mulai dari konservasi hingga penyediaan bibit.

“Dengan adanya situs hutan mangrove, baik yang dimiliki oleh pemerintah ataupun swasta, itu pun sebenarnya memiliki suatu potensi untuk pengembangan dari agrowisata mereka,” ujar Dewa.

Menurutnya, mangrove dapat dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata berbasis alam. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga dapat terlibat dalam menjaga dan mengelola kawasan tersebut.

Potensi tersebut bisa mencakup kegiatan konservasi, pembibitan mangrove, hingga wisata yang menggabungkan unsur alam dan budaya.
 

Ada Unsur Budaya dan Religius


Di Bali, upaya menjaga lingkungan juga tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya dan keagamaan masyarakat.

Dewa mengatakan kawasan hutan di Bali kerap memiliki keterkaitan dengan aspek religius. Hal tersebut juga terlihat di kawasan mangrove Pemogan yang memiliki situs pura di sekitar area hutan.

Keberadaan situs keagamaan tersebut secara tidak langsung dapat memperkuat upaya perlindungan kawasan mangrove.

“Ketika ada aspek budaya dan aspek religius di sana, maka secara langsung masyarakat pun akan punya upaya untuk melestarikan si hutan mangrove,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, konservasi tidak hanya dipahami sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
 

Mangrove Jadi Benteng Alami Pesisir


Dari sisi lingkungan, manfaat yang paling terasa bagi masyarakat pesisir adalah perlindungan terhadap kondisi pantai.

Dosen Udayana Dewangga
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga. Dok. A. Firdaus/Medcom

Menurut Dewa, keberadaan mangrove membantu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa wilayah pesisir harus dijaga. Terlebih, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir menjadi kelompok yang paling dekat dengan berbagai risiko bencana alam.

Mangrove selama ini dikenal memiliki peran dalam membantu mengurangi dampak abrasi. Ekosistem ini juga kerap dikaitkan dengan perlindungan alami wilayah pesisir dari gelombang dan dampak tsunami.

“Ketika masyarakat pesisir sudah tidak memiliki mangrove, maka ketika ada bencana alam, mereka sendiri yang akan pertama kali mendapatkan dampaknya,” kata Dewa.

Karena itu, edukasi mengenai fungsi mangrove menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut.

Ketika masyarakat memahami manfaatnya, konservasi tidak lagi hanya menjadi program dari pemerintah, perusahaan, atau kelompok lingkungan, tetapi dapat berubah menjadi gerakan bersama masyarakat pesisir.
 

Warga Ikut Jadi Penjaga Mangrove


Upaya menjaga mangrove di Pemogan pun melibatkan masyarakat lokal. Salah satunya terlihat dari keterlibatan pecalang desa adat dalam kegiatan konservasi tersebut.

Menurut Dewa, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting agar upaya pelestarian mangrove dapat berjalan dalam jangka panjang.

“Sekarang teman-teman kita, seperti yang di belakang itu ada pecalang desa adat, juga ikut bersama-sama kita untuk melestarikan mangrove itu,” ujarnya.

Bagi masyarakat, mangrove pada akhirnya bukan hanya kumpulan pohon di tepi pantai. Ekosistem tersebut bisa menjadi benteng alami pesisir, ruang konservasi, sumber potensi ekonomi, sekaligus bagian dari identitas budaya masyarakat Bali.

Karena itu, semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat mangrove, semakin besar pula peluang ekosistem pesisir tersebut untuk tetap terjaga.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH