COMMUNITY
IdeaFest 2026 Usung Re:Humanize, Saatnya Kembali Menempatkan Manusia di Pusat AI
A. Firdaus
Jumat 04 September 2026 / 19:19
- IdeaFest 2026 mengusung tema Re:Humanize untuk membahas peran manusia di tengah perkembangan AI.
- Pemilihan tema Re bukan tanpa alasan. Perkembangan AI memang semakin terasa dalam berbagai aktivitas manusia.
- IdeaFest 2026 menghadirkan berbagai pengalaman langsung melalui experiential activations, kolaborasi komunitas, hingga creative marketplace.
Jakarta: Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu pekerjaan, mencari informasi, membuat konten, sampai mendukung proses kreatif.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat itu, IdeaFest 2026 justru mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan melihat kembali satu hal yang tidak boleh hilang: peran manusia.
Memasuki penyelenggaraan ke-15, IdeaFest mengusung tema “Re” pada 4–6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Selatan.
Tema tersebut menjadi ajakan untuk mengeksplorasi kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI, mulai dari kreativitas, empati, koneksi, hingga kemampuan menentukan arah.
Tahun ini, IdeaFest menghadirkan lebih dari 500 pembicara dalam lebih dari 160 sesi, lengkap dengan berbagai experiential activations, creative marketplace, dan kolaborasi lintas industri.
Co-Chair IdeaFest, Ben Soebiakto, mengatakan tema Re diangkat untuk mengajak publik melihat teknologi bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat yang dapat memperluas potensi manusia.
“Melalui Re, kami ingin mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI dan bagaimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben.
Pemilihan tema Re bukan tanpa alasan. Perkembangan AI memang semakin terasa dalam berbagai aktivitas manusia.
PwC mencatat 69 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari.
Di sisi lain, ekonomi kreatif juga menjadi salah satu sektor penting bagi Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat ekonomi kreatif telah berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja.
Kondisi tersebut membuat hubungan antara manusia, teknologi, dan industri kreatif menjadi semakin menarik untuk dibicarakan.
IdeaFest pun mencoba melihatnya dari berbagai sudut. Bukan hanya soal bagaimana AI bekerja, tetapi juga bagaimana manusia tetap menjadi pihak yang menentukan ide, tujuan, konteks, dan dampak dari teknologi tersebut.
Semangat Re kemudian diterjemahkan dalam lebih dari 160 sesi IdeaTalks.
Berbagai topik dibahas, mulai dari AI, kreativitas, bisnis, entertainment, budaya, teknologi, komunitas, hingga perubahan cara manusia bekerja dan menghasilkan karya.
Sejumlah nama yang hadir antara lain Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga.

Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest. Dok. Ist
Keragaman pembicara tersebut membuat pembahasan AI tidak hanya dilihat dari sisi teknologi. Dampaknya terhadap budaya, kreativitas, bisnis, hiburan, dan kehidupan sehari-hari juga ikut menjadi bagian dari percakapan.
Content Lead & BrainTrust IdeaFest, Firdza Radiany, mengatakan proses kurasi tahun ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana manusia tetap menjadi pusat ketika teknologi berkembang semakin cepat?
Karena itu, berbagai perspektif dari lintas industri dan generasi dipertemukan untuk membicarakan seperti apa masa depan yang ingin dibangun bersama teknologi.
Pandangan serupa juga datang dari industri teknologi.
Indosat Ooredoo Hutchison yang mendukung IdeaFest 2026 membawa filosofi “Heartware Inside Hardware” untuk menekankan pentingnya kemampuan manusia dalam menentukan arah perkembangan teknologi.
SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia, mengatakan AI memang memungkinkan manusia melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih cepat.
Namun, menurutnya, manusia tetap memiliki peran dalam menentukan tujuan dan dampak teknologi tersebut.
“AI memberi kita kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya,” ujar Ovidia.
Dari sisi industri kreatif, CEO sekaligus Co-Founder Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, juga melihat AI sebagai alat yang dapat mempercepat proses kreatif dan membuka ruang eksplorasi ide.
Meski begitu, pengalaman, emosi, intuisi, perspektif, dan kemampuan memahami konteks tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan karya yang memiliki identitas.
Dengan kata lain, AI mungkin bisa membantu menghasilkan sesuatu dengan cepat. Tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan mengapa sesuatu itu dibuat dan apa makna di baliknya.
Pesan Re juga tidak hanya disampaikan lewat sesi diskusi. IdeaFest 2026 menghadirkan berbagai pengalaman langsung melalui experiential activations, kolaborasi komunitas, hingga creative marketplace.
Salah satunya adalah IdeaFest Picks, hasil kolaborasi dengan JKTGo, yang mempertemukan pengunjung dengan berbagai brand lokal, UMKM, dan pelaku kreatif.
Pengunjung tidak hanya bisa melihat produk, tetapi juga mengenal cerita, nilai, dan proses kreatif di balik karya yang ditampilkan.
IdeaFest juga berkolaborasi dengan Collect Con, yang mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
![[Ki-Ka] Firdza Radiany - Content Lead and Braintrust of IdeaFest, Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest, Patricia Davina, Collect Con Partner Representative, Verren Ornela, ESCAPE Representative1](https://cdn.medcom.id/images/library/img/gaya/2026/%5BKi-Ka%5D%20Firdza%20Radiany%20-%20Content%20Lead%20and%20Braintrust%20of%20IdeaFest%2C%20Olivia%20Febrina%2C%20Festival%20Director%20of%20IdeaFest%2C%20Patricia%20Davina%2C%20Collect%20Con%20Partner%20Representative%2C%20Verren%20Ornela%2C%20ESCAPE%20Representative1.jpg)
[Ki-Ka] Firdza Radiany - Content Lead and Braintrust of IdeaFest, Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest, Patricia Davina, Collect Con Partner Representative, Verren Ornela, ESCAPE Representative
Sementara melalui IdeaFest X, ESCAPE menghadirkan pengalaman interaktif yang memungkinkan pengunjung ikut menjadi bagian dari aktivitas, bukan hanya menjadi penonton.
Festival Director of IdeaFest, Olivia Febrina, mengatakan pengalaman langsung menjadi bagian penting karena ide baru sering kali muncul dari pertemuan dan interaksi yang tidak direncanakan.
“Sering kali, ide baru muncul dari pertemuan dan pengalaman yang tidak kita rencanakan,” ujarnya.
Pada akhirnya, Re menjadi pengingat bahwa secanggih apa pun teknologi yang hadir, manusia tetap memiliki posisi penting sebagai creator, thinker, collaborator, dan decision-maker.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi AI, pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan hidup berdampingan dengan teknologi, tetapi bagaimana manusia menentukan arah teknologi agar tetap membawa makna bagi kehidupan.
(FIR)
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat itu, IdeaFest 2026 justru mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan melihat kembali satu hal yang tidak boleh hilang: peran manusia.
Memasuki penyelenggaraan ke-15, IdeaFest mengusung tema “Re” pada 4–6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Selatan.
Tema tersebut menjadi ajakan untuk mengeksplorasi kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI, mulai dari kreativitas, empati, koneksi, hingga kemampuan menentukan arah.
Tahun ini, IdeaFest menghadirkan lebih dari 500 pembicara dalam lebih dari 160 sesi, lengkap dengan berbagai experiential activations, creative marketplace, dan kolaborasi lintas industri.
Co-Chair IdeaFest, Ben Soebiakto, mengatakan tema Re diangkat untuk mengajak publik melihat teknologi bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat yang dapat memperluas potensi manusia.
“Melalui Re, kami ingin mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI dan bagaimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben.
AI Makin Dekat dengan Dunia Kerja
Pemilihan tema Re bukan tanpa alasan. Perkembangan AI memang semakin terasa dalam berbagai aktivitas manusia.
PwC mencatat 69 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari.
Di sisi lain, ekonomi kreatif juga menjadi salah satu sektor penting bagi Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat ekonomi kreatif telah berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja.
Kondisi tersebut membuat hubungan antara manusia, teknologi, dan industri kreatif menjadi semakin menarik untuk dibicarakan.
IdeaFest pun mencoba melihatnya dari berbagai sudut. Bukan hanya soal bagaimana AI bekerja, tetapi juga bagaimana manusia tetap menjadi pihak yang menentukan ide, tujuan, konteks, dan dampak dari teknologi tersebut.
500 Pembicara, dari Kreativitas hingga Teknologi
Semangat Re kemudian diterjemahkan dalam lebih dari 160 sesi IdeaTalks.
Berbagai topik dibahas, mulai dari AI, kreativitas, bisnis, entertainment, budaya, teknologi, komunitas, hingga perubahan cara manusia bekerja dan menghasilkan karya.
Sejumlah nama yang hadir antara lain Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga.

Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest. Dok. Ist
Keragaman pembicara tersebut membuat pembahasan AI tidak hanya dilihat dari sisi teknologi. Dampaknya terhadap budaya, kreativitas, bisnis, hiburan, dan kehidupan sehari-hari juga ikut menjadi bagian dari percakapan.
Content Lead & BrainTrust IdeaFest, Firdza Radiany, mengatakan proses kurasi tahun ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana manusia tetap menjadi pusat ketika teknologi berkembang semakin cepat?
Karena itu, berbagai perspektif dari lintas industri dan generasi dipertemukan untuk membicarakan seperti apa masa depan yang ingin dibangun bersama teknologi.
AI Jadi Alat, Manusia Tetap Penentu
Pandangan serupa juga datang dari industri teknologi.
Indosat Ooredoo Hutchison yang mendukung IdeaFest 2026 membawa filosofi “Heartware Inside Hardware” untuk menekankan pentingnya kemampuan manusia dalam menentukan arah perkembangan teknologi.
SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia, mengatakan AI memang memungkinkan manusia melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih cepat.
Namun, menurutnya, manusia tetap memiliki peran dalam menentukan tujuan dan dampak teknologi tersebut.
“AI memberi kita kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya,” ujar Ovidia.
Dari sisi industri kreatif, CEO sekaligus Co-Founder Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, juga melihat AI sebagai alat yang dapat mempercepat proses kreatif dan membuka ruang eksplorasi ide.
Meski begitu, pengalaman, emosi, intuisi, perspektif, dan kemampuan memahami konteks tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan karya yang memiliki identitas.
Dengan kata lain, AI mungkin bisa membantu menghasilkan sesuatu dengan cepat. Tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan mengapa sesuatu itu dibuat dan apa makna di baliknya.
Tak Cuma Duduk dan Mendengarkan
Pesan Re juga tidak hanya disampaikan lewat sesi diskusi. IdeaFest 2026 menghadirkan berbagai pengalaman langsung melalui experiential activations, kolaborasi komunitas, hingga creative marketplace.
Salah satunya adalah IdeaFest Picks, hasil kolaborasi dengan JKTGo, yang mempertemukan pengunjung dengan berbagai brand lokal, UMKM, dan pelaku kreatif.
Pengunjung tidak hanya bisa melihat produk, tetapi juga mengenal cerita, nilai, dan proses kreatif di balik karya yang ditampilkan.
IdeaFest juga berkolaborasi dengan Collect Con, yang mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
![[Ki-Ka] Firdza Radiany - Content Lead and Braintrust of IdeaFest, Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest, Patricia Davina, Collect Con Partner Representative, Verren Ornela, ESCAPE Representative1](https://cdn.medcom.id/images/library/img/gaya/2026/%5BKi-Ka%5D%20Firdza%20Radiany%20-%20Content%20Lead%20and%20Braintrust%20of%20IdeaFest%2C%20Olivia%20Febrina%2C%20Festival%20Director%20of%20IdeaFest%2C%20Patricia%20Davina%2C%20Collect%20Con%20Partner%20Representative%2C%20Verren%20Ornela%2C%20ESCAPE%20Representative1.jpg)
[Ki-Ka] Firdza Radiany - Content Lead and Braintrust of IdeaFest, Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest, Patricia Davina, Collect Con Partner Representative, Verren Ornela, ESCAPE Representative
Sementara melalui IdeaFest X, ESCAPE menghadirkan pengalaman interaktif yang memungkinkan pengunjung ikut menjadi bagian dari aktivitas, bukan hanya menjadi penonton.
Festival Director of IdeaFest, Olivia Febrina, mengatakan pengalaman langsung menjadi bagian penting karena ide baru sering kali muncul dari pertemuan dan interaksi yang tidak direncanakan.
“Sering kali, ide baru muncul dari pertemuan dan pengalaman yang tidak kita rencanakan,” ujarnya.
Pada akhirnya, Re menjadi pengingat bahwa secanggih apa pun teknologi yang hadir, manusia tetap memiliki posisi penting sebagai creator, thinker, collaborator, dan decision-maker.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi AI, pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan hidup berdampingan dengan teknologi, tetapi bagaimana manusia menentukan arah teknologi agar tetap membawa makna bagi kehidupan.
(FIR)