Kepala BKPDM Toni Toharudin. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Kepala BKPDM Toni Toharudin. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Engga Cuma Lihat Layar! Belajar Coding AI di Sekolah Fokus ke Logic dan Problem Solving

Ilham Pratama Putra • 04 September 2026 15:10
Ringkasnya gini..
  • Koding dan AI untuk siswa SD-SMP bisa diajarkan tanpa gawai.
  • Pembelajaran fokus pada berpikir komputasional dan pemecahan masalah.
  • Kemendikdasmen tegaskan siswa tak boleh bergantung pada AI generatif.
Jakarta: Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) bakal menjadi mapel pilihan untuk siswa SD dan SMP. Kekhawatiran mengenai mapel tersebut bukan hanya terkait pemanfaatan teknologi, namun juga ketergantungan anak pada gawai yang belakangan makin memprihatinkan. 

Namun, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) tidak diarahkan agar siswa bergantung pada teknologi atau AI generatif. Bahkan kata dia pelajaran KKA tidak selalu harus dilakukan menggunakan komputer, tablet, maupun telepon pintar.

"(Pembelajaran KKA) dapat dilakukan tanpa gawai," kata Toni kepada Medcom.id, Jumat 4 September 2026.  Sebaliknya, pembelajaran KKA kata dia dirancang untuk membangun kemampuan berpikir yang menjadi dasar bagi pelajar dalam memahami teknologi. Beberapa di antaranya ialah berpikir komputasional, pemecahan masalah, literasi digital, serta pemahaman mengenai etika penggunaan AI.

"Pembelajarannya menekankan berpikir komputasional, pemecahan masalah, literasi digital, dan etika AI," ujar Toni.

Menurut dia, pendekatan tersebut penting terutama bagi siswa usia SD dan SMP. Pembelajaran AI tidak semestinya hanya berfokus pada kemampuan menggunakan aplikasi atau menghasilkan sesuatu dengan bantuan AI generatif.

Siswa justru perlu memahami cara berpikir di balik teknologi tersebut. Dengan begitu, mereka tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

Toni menegaskan mata pelajaran pilihan KKA juga bukan bertujuan membuat peserta didik semakin bergantung pada AI generatif dalam menyelesaikan tugas sekolah. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyontek atau menggantikan proses berpikir siswa.

"AI harus menjadi alat bantu belajar, bukan jalan pintas untuk menyontek atau menggantikan proses berpikir," tegasnya.

Karena itu, penggunaan AI di lingkungan sekolah tetap perlu disesuaikan dengan usia peserta didik. Khusus siswa SD dan SMP, pemanfaatan teknologi tersebut perlu dibatasi, diarahkan, dan diawasi secara ketat oleh guru serta orang tua.

Pendekatan ini menjadi perhatian Kemendikdasmen di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah tidak memilih untuk melarang AI secara menyeluruh, tetapi mendorong pemanfaatannya agar tetap aman, sesuai usia, beretika, dan berada dalam pendampingan orang dewasa. Dengan demikian, pembelajaran KKA tidak identik dengan anak yang terus-menerus menggunakan gawai. Yang menjadi tujuan utama ialah membangun kemampuan berpikir, memahami teknologi, memecahkan masalah, serta mengetahui batas dan etika dalam menggunakan AI.

"Meski namanya Koding dan Kecerdasan Artifisial, proses belajarnya tidak harus selalu dimulai dengan membuka laptop atau menggunakan AI generatif. Konsep-konsep dasarnya dapat terlebih dahulu dikenalkan melalui aktivitas dan persoalan sederhana yang melatih cara berpikir siswa," tutupnya. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan