FAMILY
Hubungan Terasa Baik, Tapi Kenapa Masih Merasa Kesepian?
A. Firdaus
Rabu 22 Juli 2026 / 12:14
- Para peneliti melakukan tujuh studi untuk melihat dua bentuk pemahaman dalam sebuah hubungan.
- Merasa dimengerti oleh pasangan jauh lebih menentukan kualitas hubungan.
- Banyak orang berusaha menjadi pasangan yang perhatian dan selalu hadir.
Jakarta: Tidak semua rasa sepi muncul karena tidak memiliki pasangan. Ada kalanya seseorang tetap merasa kesepian, meski sedang menjalani hubungan yang terlihat baik-baik saja.
Pasangan mungkin hadir, perhatian, dan tidak pernah melakukan hal-hal yang menyakiti. Namun, jauh di dalam hati tetap muncul perasaan seolah tidak benar-benar dimengerti.
Ambisi, impian, cara berpikir, hingga sisi diri yang belum sepenuhnya terlihat terasa tidak pernah benar-benar dipahami. Akibatnya, hubungan tetap berjalan, tetapi terasa ada bagian yang kurang pas dan sulit dijelaskan.
Selama bertahun-tahun, psikologi lebih banyak membahas penyebab hubungan berakhir, mulai dari penghinaan, pola keterikatan yang cemas, hingga sikap menghindar.
Namun, belakangan para peneliti mulai menyoroti faktor lain, yang justru berperan besar dalam membangun hubungan yang sehat. Salah satunya adalah perasaan benar-benar dipahami oleh pasangan.
Dalam studi tahun 2024 yang diterbitkan di Journal of Experimental Social Psychology, para peneliti melakukan tujuh studi untuk melihat dua bentuk pemahaman dalam sebuah hubungan.
Pertama, seberapa baik seseorang merasa mengenal pasangannya. Kedua, seberapa besar seseorang merasa dirinya dipahami oleh pasangan.
Hasil dari ketujuh studi tersebut, yang melibatkan pasangan romantis, persahabatan, hingga hubungan keluarga, menunjukkan bahwa perasaan dipahami memiliki pengaruh paling besar, terhadap kepuasan hubungan.
Dengan kata lain, merasa dimengerti oleh pasangan jauh lebih menentukan kualitas hubungan, dibandingkan sekadar merasa mengenal pasangan dengan baik.
Temuan ini memberikan sudut pandang baru tentang hubungan. Banyak orang berusaha menjadi pasangan yang perhatian dan selalu hadir. Namun, usaha tersebut belum tentu cukup, jika pasangan belum benar-benar memahami siapa diri seseorang sebenarnya.
Peneliti menjelaskan bahwa kebahagiaan dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh rasa didukung. Perasaan tersebut hanya bisa muncul ketika seseorang merasa dipahami, diterima, dan dikenali secara utuh oleh orang terdekatnya.
Oleh karena itu, hubungan yang sehat bukan hanya tentang menghindari konflik, tetapi juga tentang menciptakan ruang agar masing-masing merasa benar-benar dimengerti.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Pasangan mungkin hadir, perhatian, dan tidak pernah melakukan hal-hal yang menyakiti. Namun, jauh di dalam hati tetap muncul perasaan seolah tidak benar-benar dimengerti.
Ambisi, impian, cara berpikir, hingga sisi diri yang belum sepenuhnya terlihat terasa tidak pernah benar-benar dipahami. Akibatnya, hubungan tetap berjalan, tetapi terasa ada bagian yang kurang pas dan sulit dijelaskan.
Merasa dipahami ternyata sangat penting
Selama bertahun-tahun, psikologi lebih banyak membahas penyebab hubungan berakhir, mulai dari penghinaan, pola keterikatan yang cemas, hingga sikap menghindar.
Namun, belakangan para peneliti mulai menyoroti faktor lain, yang justru berperan besar dalam membangun hubungan yang sehat. Salah satunya adalah perasaan benar-benar dipahami oleh pasangan.
Dalam studi tahun 2024 yang diterbitkan di Journal of Experimental Social Psychology, para peneliti melakukan tujuh studi untuk melihat dua bentuk pemahaman dalam sebuah hubungan.
Pertama, seberapa baik seseorang merasa mengenal pasangannya. Kedua, seberapa besar seseorang merasa dirinya dipahami oleh pasangan.
Hasil dari ketujuh studi tersebut, yang melibatkan pasangan romantis, persahabatan, hingga hubungan keluarga, menunjukkan bahwa perasaan dipahami memiliki pengaruh paling besar, terhadap kepuasan hubungan.
Dengan kata lain, merasa dimengerti oleh pasangan jauh lebih menentukan kualitas hubungan, dibandingkan sekadar merasa mengenal pasangan dengan baik.
Bukan sekadar mengenal, tetapi benar-benar memahami
Temuan ini memberikan sudut pandang baru tentang hubungan. Banyak orang berusaha menjadi pasangan yang perhatian dan selalu hadir. Namun, usaha tersebut belum tentu cukup, jika pasangan belum benar-benar memahami siapa diri seseorang sebenarnya.
Peneliti menjelaskan bahwa kebahagiaan dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh rasa didukung. Perasaan tersebut hanya bisa muncul ketika seseorang merasa dipahami, diterima, dan dikenali secara utuh oleh orang terdekatnya.
Oleh karena itu, hubungan yang sehat bukan hanya tentang menghindari konflik, tetapi juga tentang menciptakan ruang agar masing-masing merasa benar-benar dimengerti.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)