FAMILY

Sudah Tahu Hubunganmu Toxic, Tapi Sulit Move On? Ini Saran Psikolog

A. Firdaus
Kamis 25 Juni 2026 / 11:13
Ringkasnya gini..
  • Proses mengakhiri hubungan semacam ini membutuhkan strategi yang tepat, terutama untuk menjaga keselamatan diri.
  • Kondisi ini kerap ditemukan pada hubungan yang melibatkan coercive control.
  • Kasandra menyarankan agar keputusan disampaikan secara tegas dan jelas.
Jakarta: Mengakhiri hubungan yang tidak sehat sering kali terdengar lebih mudah daripada kenyataannya. Meski tanda-tanda bahaya sudah terlihat jelas, banyak orang tetap kesulitan meninggalkan pasangan yang bersikap manipulatif, posesif, atau bahkan melakukan kekerasan.

Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa korban dalam hubungan yang tidak sehat sering kali menghadapi tekanan emosional yang membuat mereka sulit mengambil keputusan secara mandiri. Karena itu, proses mengakhiri hubungan semacam ini membutuhkan strategi yang tepat, terutama untuk menjaga keselamatan diri.

"Ketika sebuah hubungan menunjukkan banyak tanda bahaya, terutama jika sudah mengarah pada perilaku agresif, mengontrol, mengintimidasi, atau membuat seseorang merasa takut, maka keselamatan diri perlu menjadi prioritas utama," kata Kasandra melansir Antara.
 

Mengapa sulit keluar dari hubungan toxic?


Menurut Kasandra, hubungan yang mengandung unsur kontrol dan manipulasi emosional dapat secara perlahan mengikis rasa percaya diri seseorang. Akibatnya, korban sering kali merasa tidak mampu mengambil keputusan atau bahkan meragukan penilaiannya sendiri.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini kerap ditemukan pada hubungan yang melibatkan coercive control, yaitu pola perilaku mengendalikan pasangan melalui tekanan psikologis, intimidasi, hingga isolasi dari lingkungan sosial.

"Korban dalam hubungan yang mengandung unsur kontrol koersif sering kali mengalami penurunan rasa percaya diri dan merasa sulit mengambil keputusan secara mandiri," jelas Kasandra.

Tak jarang, pelaku juga berusaha membuat pasangannya bergantung secara emosional dengan menjauhkan korban dari keluarga atau teman-temannya. Situasi inilah yang membuat korban merasa sendirian dan semakin sulit keluar dari hubungan tersebut.
 

Utamakan keselamatan saat ingin mengakhiri hubungan


Kasandra menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama, terutama jika pasangan pernah menunjukkan perilaku agresif, mengancam, menguntit, atau memiliki emosi yang tidak stabil.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk mengakhiri hubungan sebaiknya tidak dilakukan secara impulsif atau tanpa persiapan.

"Jika pasangan pernah bertindak agresif, mengancam, menguntit, atau menunjukkan perilaku yang tidak stabil secara emosional, maka pemutusan hubungan sebaiknya dilakukan di tempat yang aman atau dengan dukungan orang lain yang dipercaya," ujarnya.
 

Bangun support system sebelum mengambil keputusan


Salah satu langkah penting yang disarankan adalah membangun sistem pendukung atau support system sebelum mengakhiri hubungan. Korban dianjurkan untuk memberi tahu keluarga, sahabat, atau orang terpercaya mengenai rencana yang akan dilakukan.

Dukungan sosial berperan penting karena dapat memberikan rasa aman sekaligus membantu korban tetap konsisten pada keputusan yang telah diambil.

Selain itu, pendampingan dari psikolog atau konselor profesional juga dapat membantu korban memahami dinamika hubungan yang sedang dijalani, memperkuat kepercayaan diri, serta menyusun langkah-langkah yang lebih aman untuk keluar dari situasi tersebut.
 

Tetapkan batasan yang jelas


Saat memutuskan mengakhiri hubungan, Kasandra menyarankan agar keputusan disampaikan secara tegas dan jelas. Hindari memberikan harapan yang ambigu apabila keputusan tersebut memang sudah final.

"Sampaikan keputusan secara jelas tanpa memberikan harapan yang ambigu jika memang keputusan sudah final," katanya.

Penegasan batasan ini penting untuk mengurangi peluang pasangan melakukan manipulasi emosional, seperti memanfaatkan rasa bersalah, membuat janji-janji yang sulit ditepati, atau menggunakan ancaman demi mempertahankan hubungan.
 

Jangan terpancing perdebatan


Kasandra juga mengingatkan agar korban tidak terpancing dalam perdebatan panjang ketika menyampaikan keputusan untuk berpisah. Pada beberapa kasus, pasangan yang memiliki kecenderungan agresif dapat menggunakan berbagai cara untuk mengubah keputusan korban.

Mulai dari memohon, menyalahkan diri sendiri, memainkan perasaan korban, hingga mengancam, semuanya bisa menjadi bentuk manipulasi yang perlu diwaspadai.

Karena itu, penting untuk tetap fokus pada tujuan utama, yakni menjaga keamanan, kesehatan mental, dan kesejahteraan diri.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai. Jika sebuah hubungan justru dipenuhi rasa takut, kontrol berlebihan, atau intimidasi, mencari bantuan dan mengambil langkah untuk melindungi diri bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH