FAMILY

Pasangan Terlalu Posesif? Psikolog Sebut Bisa Jadi Red Flag Hubungan Toxic

A. Firdaus
Kamis 25 Juni 2026 / 13:08
Ringkasnya gini..
  • Perilaku posesif perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi pola hubungan yang penuh kontrol dan membatasi kebebasan pasangan.
  • Perlahan-lahan, korban dapat kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak mampu mengambil keputusan tanpa persetujuan pasangannya.
  • Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk fisik.
Jakarta: Banyak orang menganggap sikap posesif sebagai tanda cinta dan perhatian. Padahal, jika dilakukan secara berlebihan, perilaku tersebut bisa menjadi sinyal awal hubungan yang tidak sehat dan berpotensi mengarah pada kekerasan.

Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto mengingatkan bahwa perilaku posesif perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi pola hubungan yang penuh kontrol dan membatasi kebebasan pasangan.

"Dalam psikologi hubungan, perilaku tersebut dapat menjadi tanda bahaya yang mengarah pada hubungan yang tidak sehat atau bahkan kekerasan dalam hubungan," kata Kasandra melansir Antara.
 

Hubungan sehat dibangun dengan kepercayaan


Menurut Kasandra, hubungan yang sehat seharusnya dilandasi oleh rasa saling percaya, menghormati, dan menghargai batasan pribadi masing-masing.

Ketika salah satu pihak mulai mendominasi kehidupan pasangannya dan mengurangi ruang untuk mengambil keputusan sendiri, hubungan tersebut berisiko kehilangan fondasi yang sehat.

Dalam kondisi seperti ini, perilaku yang awalnya terlihat sebagai perhatian dapat berubah menjadi bentuk kontrol yang merugikan kesehatan mental pasangan.
 

Awalnya terlihat peduli


Kasandra menjelaskan bahwa dalam konsep kontrol koersif (coercive control), perilaku posesif biasanya muncul secara bertahap sehingga sulit dikenali.

Pada tahap awal, pasangan mungkin terlihat sangat perhatian. Mereka ingin selalu mengetahui keberadaan pasangan, meminta kabar secara terus-menerus, atau meminta laporan setiap aktivitas yang dilakukan.

"Pada tahap awal, perilaku ini sering tampak sebagai perhatian, misalnya selalu ingin mengetahui keberadaan pasangan, meminta laporan setiap aktivitas, atau menunjukkan kekhawatiran berlebihan dengan alasan peduli," jelasnya.

Namun seiring waktu, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi pengawasan yang berlebihan, pembatasan pergaulan, hingga upaya mengontrol aktivitas sehari-hari pasangan.
 

Tidak selalu berupa kekerasan fisik


Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk fisik.

Menurut Kasandra, individu yang posesif juga dapat melakukan kekerasan psikologis, seperti manipulasi emosional, intimidasi, ancaman terselubung, atau membuat pasangan merasa bersalah ketika ingin memiliki ruang pribadi.

Perlahan-lahan, korban dapat kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak mampu mengambil keputusan tanpa persetujuan pasangannya.

"Karena terjadi secara bertahap, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam hubungan yang mengandung unsur kekerasan," katanya.
 

Mengapa korban sering tidak menyadarinya?


Dalam banyak kasus, kontrol yang dilakukan pasangan dibungkus dengan alasan cinta, perhatian, atau rasa khawatir. Akibatnya, korban menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang normal dalam hubungan.

Padahal, ketika seseorang mulai merasa takut mengambil keputusan sendiri, kehilangan kebebasan untuk bertemu keluarga atau teman, serta selalu merasa harus mendapat izin pasangan untuk melakukan sesuatu, kondisi tersebut patut diwaspadai.

Para ahli kesehatan mental menilai bahwa hubungan yang sehat seharusnya tetap memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang, mempertahankan relasi sosial, dan mengambil keputusan secara mandiri.
 

Penting mengenali tanda bahaya sejak dini


Pernyataan Kasandra muncul di tengah perhatian publik terhadap kasus seorang perempuan berusia 29 tahun di Kabupaten Bandung yang diduga mengalami penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya selama tiga tahun.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa perilaku kontrol yang tampak kecil pada awal hubungan bisa berkembang menjadi bentuk kekerasan yang lebih serius jika tidak disadari dan dihentikan.

Karena itu, mengenali tanda-tanda posesif sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan keselamatan diri. Jika merasa berada dalam hubungan yang membuat tidak nyaman, terisolasi, atau kehilangan kebebasan, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional seperti psikolog.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH