FAMILY
Overthinking Pasangan Lihat Proses Lahiran? Rasa Cemas Itu Ternyata Wajar
A. Firdaus
Selasa 19 Mei 2026 / 15:11
- Salah satu kekhawatiran yang cukup sering muncul, adalah rasa canggung atau takut ketika pasangan ikut menyaksikan
- Menentukan batas kenyamanan bersama.
- Ketakutan biasanya berubah saat persalinan dimulai.
Jakarta: Menjelang persalinan, banyak calon ibu mulai memikirkan berbagai hal, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Salah satu kekhawatiran yang cukup sering muncul, adalah rasa canggung atau takut ketika pasangan ikut menyaksikan proses melahirkan secara langsung.
Bukan hanya soal rasa sakit, tetapi juga karena persalinan identik dengan situasi yang sangat intens, emosional, dan penuh perubahan pada tubuh.
Proses melahirkan memang bukan momen yang selalu terlihat “rapi”. Ada darah, air mata, keringat, tubuh yang kelelahan, hingga kemungkinan situasi tak terduga selama persalinan berlangsung. Oleh karena itu, tidak sedikit ibu hamil yang merasa gugup, membayangkan pasangan melihat seluruh proses tersebut dari dekat.
Meski terdengar sepele, rasa khawatir seperti ini ternyata sangat normal. Banyak orang takut pasangan akan merasa kaget, kehilangan ketertarikan, atau tidak nyaman setelah melihat proses persalinan secara langsung. Padahal, dalam banyak kasus, pengalaman menyambut kelahiran bayi, justru membuat hubungan terasa lebih emosional dan dekat.
Untuk membantu mengurangi rasa cemas, komunikasi terbuka dengan pasangan sangat dianjurkan. Bicarakan apa yang dirasakan, termasuk ketakutan atau rasa tidak nyaman yang muncul menjelang hari persalinan.
“Bicaralah dengan pasangan kamu. Beritahu mereka tentang kekhawatiranmu dan tanyakan pendapat mereka,” kata Marjorie Greenfield, MD, profesor asisten obstetri dan ginekologi di Case School of Medicine dan University Hospitals di Cleveland, serta penulis buku The Working Woman's Pregnancy Book dalam Parents.
Banyak pasangan sebenarnya ingin tetap mendampingi selama proses persalinan, karena merasa itu adalah momen penting yang ingin dilewati bersama. Dukungan emosional dari pasangan, juga sering membantu ibu merasa lebih tenang, saat menghadapi kontraksi dan proses melahirkan.
Namun, ada juga pasangan yang mengaku sama-sama gugup menghadapi suasana ruang persalinan. Jika itu terjadi, tidak ada salahnya mencari jalan tengah agar kedua pihak tetap merasa nyaman.
Mengikuti kelas persalinan bersama, dapat membantu memberi gambaran lebih jelas, tentang apa yang akan terjadi saat proses melahirkan berlangsung. Dengan begitu, rasa takut akibat bayangan yang berlebihan bisa sedikit berkurang.
Sebagian pasangan memilih tetap berada di samping kepala ibu selama persalinan, sementara sebagian lainnya merasa lebih nyaman tidak melihat proses kelahiran, secara langsung dari ujung tempat tidur. Semua keputusan tersebut sah selama disepakati bersama, dan membuat proses persalinan terasa lebih tenang.
Banyak kekhawatiran yang muncul sebelum melahirkan, sebenarnya perlahan menghilang ketika proses persalinan benar-benar terjadi. Fokus biasanya berubah sepenuhnya pada keselamatan ibu, dukungan selama kontraksi, dan momen menyambut bayi lahir ke dunia.
Oleh karena itu, menjaga komunikasi yang jujur sebelum hari persalinan, menjadi langkah penting agar kedua pihak lebih siap secara mental. Pada akhirnya, banyak pasangan justru mengingat proses kelahiran sebagai pengalaman emosional, yang mempererat hubungan dan menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidup.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Bukan hanya soal rasa sakit, tetapi juga karena persalinan identik dengan situasi yang sangat intens, emosional, dan penuh perubahan pada tubuh.
Proses melahirkan memang bukan momen yang selalu terlihat “rapi”. Ada darah, air mata, keringat, tubuh yang kelelahan, hingga kemungkinan situasi tak terduga selama persalinan berlangsung. Oleh karena itu, tidak sedikit ibu hamil yang merasa gugup, membayangkan pasangan melihat seluruh proses tersebut dari dekat.
Meski terdengar sepele, rasa khawatir seperti ini ternyata sangat normal. Banyak orang takut pasangan akan merasa kaget, kehilangan ketertarikan, atau tidak nyaman setelah melihat proses persalinan secara langsung. Padahal, dalam banyak kasus, pengalaman menyambut kelahiran bayi, justru membuat hubungan terasa lebih emosional dan dekat.
Komunikasi jadi kunci penting
Untuk membantu mengurangi rasa cemas, komunikasi terbuka dengan pasangan sangat dianjurkan. Bicarakan apa yang dirasakan, termasuk ketakutan atau rasa tidak nyaman yang muncul menjelang hari persalinan.
“Bicaralah dengan pasangan kamu. Beritahu mereka tentang kekhawatiranmu dan tanyakan pendapat mereka,” kata Marjorie Greenfield, MD, profesor asisten obstetri dan ginekologi di Case School of Medicine dan University Hospitals di Cleveland, serta penulis buku The Working Woman's Pregnancy Book dalam Parents.
Banyak pasangan sebenarnya ingin tetap mendampingi selama proses persalinan, karena merasa itu adalah momen penting yang ingin dilewati bersama. Dukungan emosional dari pasangan, juga sering membantu ibu merasa lebih tenang, saat menghadapi kontraksi dan proses melahirkan.
Namun, ada juga pasangan yang mengaku sama-sama gugup menghadapi suasana ruang persalinan. Jika itu terjadi, tidak ada salahnya mencari jalan tengah agar kedua pihak tetap merasa nyaman.
Menentukan batas kenyamanan bersama
Mengikuti kelas persalinan bersama, dapat membantu memberi gambaran lebih jelas, tentang apa yang akan terjadi saat proses melahirkan berlangsung. Dengan begitu, rasa takut akibat bayangan yang berlebihan bisa sedikit berkurang.
Sebagian pasangan memilih tetap berada di samping kepala ibu selama persalinan, sementara sebagian lainnya merasa lebih nyaman tidak melihat proses kelahiran, secara langsung dari ujung tempat tidur. Semua keputusan tersebut sah selama disepakati bersama, dan membuat proses persalinan terasa lebih tenang.
Ketakutan biasanya berubah saat persalinan dimulai
Banyak kekhawatiran yang muncul sebelum melahirkan, sebenarnya perlahan menghilang ketika proses persalinan benar-benar terjadi. Fokus biasanya berubah sepenuhnya pada keselamatan ibu, dukungan selama kontraksi, dan momen menyambut bayi lahir ke dunia.
Oleh karena itu, menjaga komunikasi yang jujur sebelum hari persalinan, menjadi langkah penting agar kedua pihak lebih siap secara mental. Pada akhirnya, banyak pasangan justru mengingat proses kelahiran sebagai pengalaman emosional, yang mempererat hubungan dan menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidup.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)