FAMILY
Keputihan saat Hamil Makin Banyak? Ini Penjelasan Dokter
A. Firdaus
Sabtu 16 Mei 2026 / 14:17
- Produksi cairan vagina memang cenderung meningkat selama masa kehamilan.
- Keputihan saat hamil justru termasuk hal yang normal terjadi, akibat perubahan hormon dalam tubuh.
- Keputihan selama hamil memang tidak bisa dicegah sepenuhnya,
Jakarta: Selama hamil, tubuh mengalami banyak perubahan yang kadang bikin kaget, termasuk soal keputihan yang tiba-tiba jadi lebih banyak dari biasanya. Banyak ibu hamil mengira kondisi ini berbahaya, padahal dalam banyak kasus, keputihan saat hamil justru termasuk hal yang normal terjadi, akibat perubahan hormon dalam tubuh.
Produksi cairan vagina memang cenderung meningkat selama masa kehamilan, terutama saat memasuki trimester ketiga. Kondisi ini dikenal sebagai leukorea, yaitu keputihan yang muncul karena peningkatan hormon estrogen dan aliran darah ke area vagina.
“Peningkatan kadar estrogen, terutama pada trimester ketiga, menyebabkan vagina memproduksi lebih banyak sekresi dan keputihan,” kata Laura Riley, MD, direktur persalinan dan kelahiran di Massachusetts General Hospital di Boston dan penulis buku You and Your Baby: Healthy Eating During Pregnancy dalam Parents
.
Keputihan normal selama kehamilan umumnya berwarna putih susu atau bening, tidak berbau menyengat, dan tidak menimbulkan rasa gatal maupun perih. Bentuknya juga mirip seperti cairan, yang biasanya muncul saat masa ovulasi.
Meski tergolong normal, kondisi ini tetap bisa membuat tidak nyaman, karena area kewanitaan terasa lebih lembap sepanjang hari. Banyak ibu hamil akhirnya memilih menggunakan panty liner, untuk membantu menjaga area tetap kering dan nyaman selama beraktivitas.
Keputihan selama hamil memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, karena merupakan bagian alami dari perubahan tubuh. Namun, ada beberapa cara sederhana, yang bisa membantu mengurangi rasa lembap dan iritasi.
Menggunakan celana dalam berbahan katun, bisa membantu area intim tetap lebih sejuk, karena bahan ini lebih mudah menyerap keringat dibanding bahan sintetis. Selain itu, panty liner juga boleh digunakan, tetapi sebaiknya rutin diganti agar tidak terlalu lembap. dr. Riley mengingatkan, “Pembalut yang lembap dapat menggesek kulit dan menyebabkan iritasi.”
Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi rutin juga penting. Namun, area dalam vagina tidak perlu dibersihkan secara berlebihan, karena tubuh sudah memiliki sistem alami untuk menjaga keseimbangannya sendiri. ACOG juga tidak menyarankan douching maupun penggunaan tampon selama kehamilan, karena bisa meningkatkan risiko infeksi.
Walaupun kebanyakan keputihan saat hamil termasuk normal, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika cairan berubah warna menjadi kehijauan, kekuningan, atau abu-abu, mengeluarkan bau tajam, terasa gatal, panas, atau menyebabkan nyeri, kondisi tersebut perlu segera diperiksa ke tenaga kesehatan.
Gejala seperti ini bisa menandakan adanya infeksi jamur, vaginosis bakterial, atau infeksi menular seksual. Kabar baiknya, sebagian besar kondisi tersebut tetap bisa ditangani dengan aman selama kehamilan, menggunakan pengobatan yang sesuai.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Produksi cairan vagina memang cenderung meningkat selama masa kehamilan, terutama saat memasuki trimester ketiga. Kondisi ini dikenal sebagai leukorea, yaitu keputihan yang muncul karena peningkatan hormon estrogen dan aliran darah ke area vagina.
“Peningkatan kadar estrogen, terutama pada trimester ketiga, menyebabkan vagina memproduksi lebih banyak sekresi dan keputihan,” kata Laura Riley, MD, direktur persalinan dan kelahiran di Massachusetts General Hospital di Boston dan penulis buku You and Your Baby: Healthy Eating During Pregnancy dalam Parents
.
Keputihan normal selama kehamilan umumnya berwarna putih susu atau bening, tidak berbau menyengat, dan tidak menimbulkan rasa gatal maupun perih. Bentuknya juga mirip seperti cairan, yang biasanya muncul saat masa ovulasi.
Meski tergolong normal, kondisi ini tetap bisa membuat tidak nyaman, karena area kewanitaan terasa lebih lembap sepanjang hari. Banyak ibu hamil akhirnya memilih menggunakan panty liner, untuk membantu menjaga area tetap kering dan nyaman selama beraktivitas.
Cara mengurangi rasa tidak nyaman akibat keputihan
Keputihan selama hamil memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, karena merupakan bagian alami dari perubahan tubuh. Namun, ada beberapa cara sederhana, yang bisa membantu mengurangi rasa lembap dan iritasi.
Menggunakan celana dalam berbahan katun, bisa membantu area intim tetap lebih sejuk, karena bahan ini lebih mudah menyerap keringat dibanding bahan sintetis. Selain itu, panty liner juga boleh digunakan, tetapi sebaiknya rutin diganti agar tidak terlalu lembap. dr. Riley mengingatkan, “Pembalut yang lembap dapat menggesek kulit dan menyebabkan iritasi.”
Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi rutin juga penting. Namun, area dalam vagina tidak perlu dibersihkan secara berlebihan, karena tubuh sudah memiliki sistem alami untuk menjaga keseimbangannya sendiri. ACOG juga tidak menyarankan douching maupun penggunaan tampon selama kehamilan, karena bisa meningkatkan risiko infeksi.
Kapan keputihan harus diperiksakan?
Walaupun kebanyakan keputihan saat hamil termasuk normal, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Jika cairan berubah warna menjadi kehijauan, kekuningan, atau abu-abu, mengeluarkan bau tajam, terasa gatal, panas, atau menyebabkan nyeri, kondisi tersebut perlu segera diperiksa ke tenaga kesehatan.
Gejala seperti ini bisa menandakan adanya infeksi jamur, vaginosis bakterial, atau infeksi menular seksual. Kabar baiknya, sebagian besar kondisi tersebut tetap bisa ditangani dengan aman selama kehamilan, menggunakan pengobatan yang sesuai.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)