FAMILY
Main Padel Sambil Kampanye Kesehatan Perempuan? Ternyata Bisa
A. Firdaus
Jumat 15 Mei 2026 / 12:22
- Program ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kesehatan, hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
- Tidak hanya fokus pada kampanye kesadaran, tetapi juga pelayanan kesehatan komprehensif.
- Perempuan sebenarnya memiliki kekuatan, tetapi membutuhkan ruang, akses, dan kepercayaan diri
Jakarta: Isu kesehatan dan pemberdayaan perempuan kembali menjadi perhatian serius, lewat gerakan SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), resmi memperkenalkan program Youth SPRINTER (Kader SPRINTER/SPRIN Volunteer). Peluncuran program ini dilakukan dalam rangkaian acara Launching Youth SPRINTER & SPRIN Padel Fun Game 2026.
Program Youth SPRINTER menjadi salah satu dari empat pilar utama gerakan SPRIN, yang dirancang untuk melibatkan anak muda dalam menyebarkan kesadaran mengenai kesehatan perempuan.
Melalui pendekatan komunitas yang lebih dekat, inklusif, dan sesuai dengan gaya hidup generasi saat ini, program ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kesehatan, hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
“Ada tiga hal yang kami lakukan dengan jalanan sprint ini, yang pertama adalah simpatikulitis. Kita ingin meningkatkan kesadaran masyarakat, bahwa kesehatan perempuan itu adalah masalah kita semuanya,” ujar Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dalam acara SPRIN POGI luncurkan Youth SPRINTER lewat Padel Fun Game 2026 di Grand Padel Pulo Mas, Jakarta, Kamis (14/05/26).
Ia menjelaskan gerakan tersebut tidak hanya fokus pada kampanye kesadaran, tetapi juga pelayanan kesehatan komprehensif bagi perempuan, sejak lahir hingga menopause.
Selain itu, pihaknya juga ingin meningkatkan, kualitas layanan kesehatan dan sumber daya manusia di bidang kesehatan perempuan. Dalam acara tersebut juga digelar friendship tournament, peluncuran youth sprinter, hingga kompetisi school movement yang melibatkan pelajar.
Prof. Iko menegaskan olahraga dan gaya hidup aktif, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan perempuan. “Kenapa lewat bermain padel? Karena menyelamatkan perempuan dimulai dari bergerak,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menilai isu kesehatan perempuan perlu menjadi perhatian serius karena perempuan memiliki posisi strategis di Indonesia. Berdasarkan data BPS, populasi perempuan mencapai 49,83 persen, sementara populasi anak berada di angka 31 persen.
“Kenapa perempuan harus mendapatkan prioritas terutama dengan kesehatan? Karena perempuan adalah nilai utama dalam perannya. Perempuan yang akan melahirkan generasi-generasi berkualitas. Kalau perempuan yang sehat, bangsanya akan kuat,” ujar Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI dalam kesempatan yang sama.

Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si. Dok. Secil/Medcom
Ia juga mengapresiasi inisiasi gerakan tersebut, dan menyebut program serupa akan dilakukan di beberapa provinsi, sebagai bagian dari kampanye nasional penyelamatan kesehatan perempuan Indonesia.
Arifatul menilai isu kesehatan perempuan masih menjadi tantangan besar. Ia menyoroti tingginya angka kematian ibu melahirkan, hingga kasus stunting yang masih terus terjadi.
“Saat ini kita fokus pada angka kematian ibu dimana 30 menit sekali, ada ibu yang meninggal karena melahirkan. Setiap 20 menit ada perempuan, yang meninggal karena kanker serviks,” katanya.
Tak hanya soal kesehatan, isu kekerasan dan pemberdayaan perempuan juga menjadi perhatian dalam gerakan ini.
“1 dari 2 anak yang mengalami kekerasan, 1 dari 4 perempuan juga mengalami kekerasan,” ujar Veronica Tan selaku Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia dalam kesempatan yang sama pula.
Menurut Veronica, perempuan sebenarnya memiliki kekuatan, tetapi membutuhkan ruang, akses, dan kepercayaan diri untuk berkembang. Oleh karena itu, pihaknya kini mendorong program ketahanan pangan berbasis perempuan, melalui pemanfaatan lahan dan komunitas lokal.
“Hanya perlu dikasih kepercayaan diri. Hanya perlu dikasih tahu, bahwa kita sebagai perempuan punya hak atas reproduksi kita. Kita punya hak bersuara atas diri kita sendiri,” katanya.
Ia berharap gerakan kolaboratif seperti ini dapat terus diperluas hingga ke desa-desa, agar perempuan mendapatkan akses kesehatan, edukasi, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik.
“Jadi mantap, kita bilang when we educate a woman, we educate a nation. Mari jadikan ini gerakan kolaborasi bersama,” tutup Veronica.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Program Youth SPRINTER menjadi salah satu dari empat pilar utama gerakan SPRIN, yang dirancang untuk melibatkan anak muda dalam menyebarkan kesadaran mengenai kesehatan perempuan.
Melalui pendekatan komunitas yang lebih dekat, inklusif, dan sesuai dengan gaya hidup generasi saat ini, program ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi kesehatan, hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
“Ada tiga hal yang kami lakukan dengan jalanan sprint ini, yang pertama adalah simpatikulitis. Kita ingin meningkatkan kesadaran masyarakat, bahwa kesehatan perempuan itu adalah masalah kita semuanya,” ujar Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dalam acara SPRIN POGI luncurkan Youth SPRINTER lewat Padel Fun Game 2026 di Grand Padel Pulo Mas, Jakarta, Kamis (14/05/26).
Ia menjelaskan gerakan tersebut tidak hanya fokus pada kampanye kesadaran, tetapi juga pelayanan kesehatan komprehensif bagi perempuan, sejak lahir hingga menopause.
Selain itu, pihaknya juga ingin meningkatkan, kualitas layanan kesehatan dan sumber daya manusia di bidang kesehatan perempuan. Dalam acara tersebut juga digelar friendship tournament, peluncuran youth sprinter, hingga kompetisi school movement yang melibatkan pelajar.
Prof. Iko menegaskan olahraga dan gaya hidup aktif, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan perempuan. “Kenapa lewat bermain padel? Karena menyelamatkan perempuan dimulai dari bergerak,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menilai isu kesehatan perempuan perlu menjadi perhatian serius karena perempuan memiliki posisi strategis di Indonesia. Berdasarkan data BPS, populasi perempuan mencapai 49,83 persen, sementara populasi anak berada di angka 31 persen.
“Kenapa perempuan harus mendapatkan prioritas terutama dengan kesehatan? Karena perempuan adalah nilai utama dalam perannya. Perempuan yang akan melahirkan generasi-generasi berkualitas. Kalau perempuan yang sehat, bangsanya akan kuat,” ujar Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI dalam kesempatan yang sama.

Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si. Dok. Secil/Medcom
Ia juga mengapresiasi inisiasi gerakan tersebut, dan menyebut program serupa akan dilakukan di beberapa provinsi, sebagai bagian dari kampanye nasional penyelamatan kesehatan perempuan Indonesia.
Arifatul menilai isu kesehatan perempuan masih menjadi tantangan besar. Ia menyoroti tingginya angka kematian ibu melahirkan, hingga kasus stunting yang masih terus terjadi.
“Saat ini kita fokus pada angka kematian ibu dimana 30 menit sekali, ada ibu yang meninggal karena melahirkan. Setiap 20 menit ada perempuan, yang meninggal karena kanker serviks,” katanya.
Tak hanya soal kesehatan, isu kekerasan dan pemberdayaan perempuan juga menjadi perhatian dalam gerakan ini.
“1 dari 2 anak yang mengalami kekerasan, 1 dari 4 perempuan juga mengalami kekerasan,” ujar Veronica Tan selaku Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia dalam kesempatan yang sama pula.
Menurut Veronica, perempuan sebenarnya memiliki kekuatan, tetapi membutuhkan ruang, akses, dan kepercayaan diri untuk berkembang. Oleh karena itu, pihaknya kini mendorong program ketahanan pangan berbasis perempuan, melalui pemanfaatan lahan dan komunitas lokal.
“Hanya perlu dikasih kepercayaan diri. Hanya perlu dikasih tahu, bahwa kita sebagai perempuan punya hak atas reproduksi kita. Kita punya hak bersuara atas diri kita sendiri,” katanya.
Ia berharap gerakan kolaboratif seperti ini dapat terus diperluas hingga ke desa-desa, agar perempuan mendapatkan akses kesehatan, edukasi, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik.
“Jadi mantap, kita bilang when we educate a woman, we educate a nation. Mari jadikan ini gerakan kolaborasi bersama,” tutup Veronica.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)