FAMILY

Viral Kasus Daycare di Jogja, Psikolog Efnie Jelasin Cara Pilih yang Tepat

Aulia Putriningtias
Senin 27 April 2026 / 20:01
Ringkasnya gini..
  • Kasus dugaan kekerasan terjadi di daycare atau tempat pengasuhan anak di Yogyakarta sedang viral belakangan ini.
  • Banyak orang tua khawatir memilih daycare yang salah.
  • Daycare yang sedang viral tersebut diketahui melakukan aksi-aksi kejahatan terhadap anak-anak.
Jakarta: Kasus dugaan kekerasan terjadi di daycare atau tempat pengasuhan anak di Yogyakarta sedang viral belakangan ini. Banyak orang tua khawatir memilih daycare yang salah.

Daycare yang sedang viral tersebut diketahui melakukan aksi-aksi kejahatan terhadap anak-anak. Mulai dari diikat kaki anak-anak, tangannya diikat, dan beberapa dari anak di sana mengalami luka-luka.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa ini bukan soal salah pengasuhan. Namun, sudah masuk ke dalam pelanggaran serius terhadap perkembangan otak anak.

 


"Dari perspektif bio-neuropsikologi, anak usia dini (0-5 tahun) berada pada fase brain wiring yang sangat cepat. Setiap pengalaman-terutama yang emosional, akan membentuk arsitektur otak mereka," jelasnya saat diwawancarai langsung oleh tim Medcom.id, Senin, 27 April 2026.

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa ketika seorang anak diperlakukan tanpa empati, maka yang terjadi ada beberapa hal, antara lain:

- Aktivasi sistem stres kronis (HPA axis / cortisol tinggi)
- Otak "belajar" bahwa dunia tidak aman
-Terbentuk pola fear-based brain, bukan growth-based brain

Dampaknya pun akan bisa lebih panjang. Mulai dari gangguan regulasi emosi, seperti mudah tantrum atau justru sangat diam, keterlambatan bicara dan sosial.

Selain itu, bisa juga mengalami trust issue atau sulit percaya pada orang dewasa, bahkan berisiko memiliki trauma jangka panjang.
 

Apa yang anak rasakan ketika salah memilih daycare?



(Menurut Efnie, memilih daycare bukan hanya perihal "tempat penitipan". Namun, bagaimana memilih lingkungan pembentuk otak anak kedua setelah rumah. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Bagi si kecil yang sudah berbicara mungkin sedikit lebih mudah dalam mengungkapkannya. Namun, ada anak-anak yang terlalu takut, bahkan belum bisa bicara mengenai pola pengasuhan di daycare.

"Ini penting sekali, karena anak belum bisa "cerita", tapi tubuh dan otaknya selalu bicara," kata Efnie.
 

Ada hal-hal yang bisa diperhatikan, seperti:

 

1. Tanda emosi


Hal ini terjadi secara tiba-tiba, setelah sudah memulai percobaan daycare. Mulai dari tiba-tiba menangis kencang di daycare, takut ditinggal, dan terlalu diam atau freezing.
 

2. Tanda perilaku


Anak bisa terlihat dari perilakunya, seperti regresi (mengompol, rewel, sulit tidur), agresif (memukul dan menggigit), dan menolak makan atau perubahan pola makan drastis.
 

3. Tanda fisik


Orang tua bisa melihat dari anak yang kesulitan untuk tidur, sering sakit, dan nafsu makan sangat berubah.
 

4. Tanda kecil atau mikro yang jarang diamati


Ada hal-hal yang jarang diamati dan membuat si kecil takut. Mulai dari mengalihkan diri dari pengasuh, kaku saat dijemput, tidak ada ekspresi senang saat melihat daycare.
 

Apa saja yang bisa dilakukan orang tua sebelum memilih daycare?


Menurut Efnie, memilih daycare bukan hanya perihal "tempat penitipan". Namun, bagaimana memilih lingkungan pembentuk otak anak kedua setelah rumah.

Setidaknya, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam aspek bio-neuropsikologi, antara lain:
 

1. Keamanan emosi


Keamanan emosi perlu diperhatikan seperti apakah pengasuh hangat, sabar, dan responsif? Apakah perlakuannya baik dalam menenangkan anak? Otak anak akan berkembang dengan optimal jika dalam kondisi aman.
 

2. Rasio pengasuhan anak


Lihatlah daycare dan pengasuh yang sedang mengurus anak-anak lainnya. Orang tua disarankan memilih pengasuh dengan rasio anak lebih kecil, sebab dapat memenuhi kebutuhan emosional yang tepat.
 

3. Pola interaksi


Orang tua perlu melihat bagaimana pengasuh melakukan komunikasi terhadap anak. Mulai dari tatapan mata, cara berbicara, apakah anak diajak main atau tidak, dan hal-hal lain yang menopang perkembangan otak anak.
   

4. Kebijakan disiplin


Lihat bagaimana pengasuh menerapkan disiplin. Apakah ada hukuman fisik atau kekerasan baik verbal atau non-verbal? Hal ini berguna untuk mendukung perkembangan otak si kecil.
 

5. Transparansi


Jangan lupa untuk selalu memilih daycare yang melakukan transparansi. Mulai dari kehadiran CCTV, ketersediaan observasi, hingga penjelasan melalui laporan.

"Orang tua perlu ingat satu hal daycare bukan tempat 'menitipkan anak'. Daycare adalah tempat 'membentuk otak dan rasa aman anak'. Kalau lingkungan itu salah, yang rusak bukan hanya perilaku, tetapi cara otak anak memahami dunia," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH