COMMUNITY
Tarot Kian Dilirik Perempuan Modern, Jadi Ruang Refleksi di Tengah Tekanan Hidup
A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 18:24
- Tarot tidak lagi sekadar dianggap mistis, tetapi juga sebagai alat refleksi diri.
- Stigma lama tentang tarot, sering kali membuat orang salah memahami fungsi sebenarnya dari kartu tersebut.
- Tarot bekerja dengan pendekatan yang sangat subjektif.
Jakarta: Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan hidup yang semakin kompleks, banyak perempuan mulai mencari cara untuk lebih memahami diri sendiri. Salah satu yang kini semakin dilirik adalah tarot, yang tidak lagi sekadar dianggap mistis, tetapi juga sebagai alat refleksi diri.
Tarot sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dipandang negatif. Stigma lama tentang tarot, sering kali membuat orang salah memahami fungsi sebenarnya dari kartu tersebut.
“Tarot itu pada dasarnya hanya kartu. Ada 78 kartu yang masing-masing punya makna, dan bisa membantu mengurai pola-pola dalam diri, baik yang positif maupun yang perlu diperbaiki,” ujar Clariesa @tarotbyaries selaku Chinese Astrologer dan Tarot Reader dalam acara Svarna Kartini, Celebriting Her Voice, Her Power, Her Legacy di YouTube @metrotvnews, Sabtu (25/04/26).
Ia menambahkan, tarot bekerja dengan pendekatan yang sangat subjektif, karena interpretasi kartu melibatkan intuisi dan pemahaman manusia. Oleh karena itu, hasil pembacaan bukan sekadar ramalan, melainkan lebih kepada proses memahami kondisi yang sedang dialami.
Dalam praktiknya, tarot kerap dimanfaatkan untuk membantu seseorang, melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Setiap kartu memiliki arti, yang berbeda dan dapat menggambarkan kondisi tertentu yang sedang dihadapi.
Sebagai contoh, Clariesa menjelaskan salah satu kartu yang sering muncul dalam pembacaan.
“Kalau kartu ‘Strength’ keluar, biasanya itu menunjukkan bahwa seseorang sedang berada di fase, yang membutuhkan kekuatan, atau justru sedang diberi kekuatan untuk menghadapi situasi tertentu,” jelasnya.
Fenomena menarik yang ditemui Clariesa adalah mayoritas kliennya merupakan perempuan. Hal ini tidak lepas dari kecenderungan perempuan, yang lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan dan mencari pemahaman, terhadap kondisi emosional mereka.
Menurut Clariesa, banyak perempuan datang dengan membawa cerita yang beragam, mulai dari persoalan pekerjaan, hubungan, hingga tekanan sosial. Namun, yang sering terjadi adalah mereka hanya fokus pada hasil akhir dari suatu masalah, tanpa memahami akar penyebabnya.
“Banyak yang datang itu sudah tahu hasilnya, tapi belum tahu sumber masalahnya apa. Tarot membantu mengurai prosesnya, jadi bisa lebih memahami diri sendiri,” katanya.
Lebih jauh, Clariesa melihat ada pola,.yang cukup kuat di kalangan perempuan masa kini. Di tengah kesibukan mengurus pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial, sering kali kebutuhan untuk mengenal diri sendiri justru terabaikan.
“Perempuan itu biasanya sangat memahami orang lain, tapi sering lupa memahami dirinya sendiri. Padahal, banyak hal yang sebenarnya perlu diselesaikan dari dalam diri,” ungkap Clariesa.
Ia menilai, sesi membaca tarot sering kali menjadi momen jeda, yang memberi ruang untuk refleksi. Dalam proses tersebut, seseorang diajak untuk lebih jujur melihat kondisi diri dan memahami emosi, yang selama ini terpendam.
Dengan pendekatan ini, tarot tidak hanya berfungsi sebagai alat membaca situasi, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu seseorang kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
“Kadang yang dibutuhkan itu bukan jawaban instan, tapi ruang untuk refleksi. Dari situ, seseorang bisa lebih sadar dengan apa yang sedang dirasakan dan dihadapi,” tutup Clariesa.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Tarot sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dipandang negatif. Stigma lama tentang tarot, sering kali membuat orang salah memahami fungsi sebenarnya dari kartu tersebut.
“Tarot itu pada dasarnya hanya kartu. Ada 78 kartu yang masing-masing punya makna, dan bisa membantu mengurai pola-pola dalam diri, baik yang positif maupun yang perlu diperbaiki,” ujar Clariesa @tarotbyaries selaku Chinese Astrologer dan Tarot Reader dalam acara Svarna Kartini, Celebriting Her Voice, Her Power, Her Legacy di YouTube @metrotvnews, Sabtu (25/04/26).
Ia menambahkan, tarot bekerja dengan pendekatan yang sangat subjektif, karena interpretasi kartu melibatkan intuisi dan pemahaman manusia. Oleh karena itu, hasil pembacaan bukan sekadar ramalan, melainkan lebih kepada proses memahami kondisi yang sedang dialami.
Dalam praktiknya, tarot kerap dimanfaatkan untuk membantu seseorang, melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Setiap kartu memiliki arti, yang berbeda dan dapat menggambarkan kondisi tertentu yang sedang dihadapi.
Sebagai contoh, Clariesa menjelaskan salah satu kartu yang sering muncul dalam pembacaan.
“Kalau kartu ‘Strength’ keluar, biasanya itu menunjukkan bahwa seseorang sedang berada di fase, yang membutuhkan kekuatan, atau justru sedang diberi kekuatan untuk menghadapi situasi tertentu,” jelasnya.
Fenomena menarik yang ditemui Clariesa adalah mayoritas kliennya merupakan perempuan. Hal ini tidak lepas dari kecenderungan perempuan, yang lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan dan mencari pemahaman, terhadap kondisi emosional mereka.
Menurut Clariesa, banyak perempuan datang dengan membawa cerita yang beragam, mulai dari persoalan pekerjaan, hubungan, hingga tekanan sosial. Namun, yang sering terjadi adalah mereka hanya fokus pada hasil akhir dari suatu masalah, tanpa memahami akar penyebabnya.
“Banyak yang datang itu sudah tahu hasilnya, tapi belum tahu sumber masalahnya apa. Tarot membantu mengurai prosesnya, jadi bisa lebih memahami diri sendiri,” katanya.
Lebih jauh, Clariesa melihat ada pola,.yang cukup kuat di kalangan perempuan masa kini. Di tengah kesibukan mengurus pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial, sering kali kebutuhan untuk mengenal diri sendiri justru terabaikan.
“Perempuan itu biasanya sangat memahami orang lain, tapi sering lupa memahami dirinya sendiri. Padahal, banyak hal yang sebenarnya perlu diselesaikan dari dalam diri,” ungkap Clariesa.
Ia menilai, sesi membaca tarot sering kali menjadi momen jeda, yang memberi ruang untuk refleksi. Dalam proses tersebut, seseorang diajak untuk lebih jujur melihat kondisi diri dan memahami emosi, yang selama ini terpendam.
Dengan pendekatan ini, tarot tidak hanya berfungsi sebagai alat membaca situasi, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu seseorang kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
“Kadang yang dibutuhkan itu bukan jawaban instan, tapi ruang untuk refleksi. Dari situ, seseorang bisa lebih sadar dengan apa yang sedang dirasakan dan dihadapi,” tutup Clariesa.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)