FITNESS & HEALTH
Kenapa Film "Backrooms" Bikin Tidak Nyaman? Psikolog Ungkap Makna di Balik Teror yang Tak Terlihat
A. Firdaus
Kamis 11 Juni 2026 / 11:15
- Bukan sekadar menghadirkan sosok mengerikan, film ini justru mengajak penonton masuk ke dalam ruang-ruang asing.
- Dari sudut pandang psikologi, ketakutan yang muncul dalam film ini bukan berasal dari ancaman fisik semata.
- Seorang mantan arsitek yang kini memiliki toko furnitur dan berjuang menghadapi alkoholisme.
Jakarta: Film horor biasanya identik dengan monster, jumpscare, atau adegan menegangkan yang membuat penonton terkejut. Namun, film Backrooms karya sutradara Kane Parsons, menawarkan jenis ketakutan yang berbeda.
Bukan sekadar menghadirkan sosok mengerikan, film ini justru mengajak penonton masuk ke dalam ruang-ruang asing, yang terasa familiar sekaligus mengganggu.
Dari sudut pandang psikologi, ketakutan yang muncul dalam film ini bukan berasal dari ancaman fisik semata, melainkan dari pertemuan seseorang dengan trauma, penyesalan, dan potensi hidup yang belum pernah terwujud.
Dilansir dari Psychology Today, terapis dan penulis Ira Israel LMFT menjelaskan bahwa Backrooms, dapat dipahami sebagai gambaran perjalanan menuju alam bawah sadar.
Ceritanya mengikuti Clark, seorang mantan arsitek yang kini memiliki toko furnitur dan berjuang menghadapi alkoholisme. Hidupnya berubah setelah menemukan portal misterius, yang membawanya ke labirin lorong dan ruangan tanpa ujung. Di sana, ia ditemani terapisnya, Dr. Mary Kline.
Menurut Ira, dunia dalam Backrooms bukan sekadar lokasi horor, melainkan representasi visual dari alam bawah sadar, yang selama ini menyimpan berbagai ketakutan, luka batin, dan konflik yang ditekan.
Film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam pikirannya sendiri, menghadapi keputusan-keputusan masa lalu, serta berhadapan dengan versi diri yang sebenarnya ingin dicapai, namun tidak pernah terwujud.
Konsep tersebut juga dikaitkan dengan pemikiran Jacques Lacan, tentang kondisi ketika seseorang kehilangan gambaran ideal tentang dirinya, dan harus berhadapan dengan kenyataan yang selama ini dihindari. Dalam kisah Clark, ancaman terbesar bukanlah makhluk menyeramkan, melainkan kesadaran bahwa hidupnya tidak berjalan sesuai harapan.
Ira menilai Backrooms juga mengangkat tema tentang penyesalan dan potensi diri yang tidak pernah terwujud. Oleh karena itu, ketakutan yang ditampilkan terasa lebih dekat, dengan pengalaman manusia sehari-hari. Film ini seolah mengajak penonton bertanya tentang pilihan hidup, kesempatan yang terlewat, dan versi diri yang mungkin tidak pernah tercapai.
Melalui pendekatan psikologis tersebut, Backrooms menjadi lebih dari sekadar film horor. Teror yang ditawarkan bukan hanya berasal dari ruang-ruang kosong, yang membingungkan, tetapi juga dari pertemuan seseorang dengan trauma, penyesalan, dan sisi terdalam dirinya sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Bukan sekadar menghadirkan sosok mengerikan, film ini justru mengajak penonton masuk ke dalam ruang-ruang asing, yang terasa familiar sekaligus mengganggu.
Dari sudut pandang psikologi, ketakutan yang muncul dalam film ini bukan berasal dari ancaman fisik semata, melainkan dari pertemuan seseorang dengan trauma, penyesalan, dan potensi hidup yang belum pernah terwujud.
Dilansir dari Psychology Today, terapis dan penulis Ira Israel LMFT menjelaskan bahwa Backrooms, dapat dipahami sebagai gambaran perjalanan menuju alam bawah sadar.
Ceritanya mengikuti Clark, seorang mantan arsitek yang kini memiliki toko furnitur dan berjuang menghadapi alkoholisme. Hidupnya berubah setelah menemukan portal misterius, yang membawanya ke labirin lorong dan ruangan tanpa ujung. Di sana, ia ditemani terapisnya, Dr. Mary Kline.
Menurut Ira, dunia dalam Backrooms bukan sekadar lokasi horor, melainkan representasi visual dari alam bawah sadar, yang selama ini menyimpan berbagai ketakutan, luka batin, dan konflik yang ditekan.
Film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam pikirannya sendiri, menghadapi keputusan-keputusan masa lalu, serta berhadapan dengan versi diri yang sebenarnya ingin dicapai, namun tidak pernah terwujud.
Konsep tersebut juga dikaitkan dengan pemikiran Jacques Lacan, tentang kondisi ketika seseorang kehilangan gambaran ideal tentang dirinya, dan harus berhadapan dengan kenyataan yang selama ini dihindari. Dalam kisah Clark, ancaman terbesar bukanlah makhluk menyeramkan, melainkan kesadaran bahwa hidupnya tidak berjalan sesuai harapan.
Ira menilai Backrooms juga mengangkat tema tentang penyesalan dan potensi diri yang tidak pernah terwujud. Oleh karena itu, ketakutan yang ditampilkan terasa lebih dekat, dengan pengalaman manusia sehari-hari. Film ini seolah mengajak penonton bertanya tentang pilihan hidup, kesempatan yang terlewat, dan versi diri yang mungkin tidak pernah tercapai.
Melalui pendekatan psikologis tersebut, Backrooms menjadi lebih dari sekadar film horor. Teror yang ditawarkan bukan hanya berasal dari ruang-ruang kosong, yang membingungkan, tetapi juga dari pertemuan seseorang dengan trauma, penyesalan, dan sisi terdalam dirinya sendiri.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)