FAMILY

Bukan Reog Biasa, Ini 3 Tanda Anabul Kena Rabies!

Mia Vale
Selasa 09 Juni 2026 / 17:36
Ringkasnya gini..
  • Meskipun kalau dengar kata "rabies" yang langsung kepikiran biasanya anjing, faktanya virus serem ini bisa nyerang mamalia apa aja, termasuk kucing.
  • Virus ini emang sebahaya itu karena bisa menular ke sesama hewan atau bahkan ke manusia, dan efeknya bisa fatal banget.
  • Simak beberapa tanda kucing yang telah terinfeksi rabies.
Jakarta: Meskipun kalau dengar kata "rabies" yang langsung kepikiran biasanya anjing, faktanya virus serem ini bisa nyerang mamalia apa aja, termasuk kucing anabul kesayangan lho.

Malahan di Amerika, kasus rabies ternyata lebih sering ditemukan di kucing daripada anjing, lho. Virus ini emang sebahaya itu karena bisa menular ke sesama hewan atau bahkan ke manusia, dan efeknya bisa fatal banget kalau telat ditangani sebelum gejalanya muncul.

Tapi tenang, untungnya sekarang udah ada vaksin! Berkat rajin vaksin, kasus rabies pada hewan peliharaan udah jarang banget terjadi.

Biasanya, anabul bisa ketularan rabies kalau apes digigit sama hewan liar yang udah terinfeksi—kayak kelelawar, musang, atau rubah. Dari bekas gigitan itu, virusnya bakal jalan-jalan lewat saraf sampai akhirnya nemu jalan ke otak.

Nah, begitu virusnya udah sampai di otak, anabul baru deh mulai nunjukin gejala aneh dan sayangnya biasanya gak bakal bertahan lebih dari 7 hari. Biar gak kecolongan, yuk kenali 3 red flags atau tanda kalau kucing terinfeksi rabies berikut ini!
   

1. Perubahan perilaku


Jika kucing menunjukkan perubahan perilaku yang ekstrem dan mendadak, hal ini patut kamu waspadai sebab bisa menjadi salah satu ciri kucing rabies. 

Contoh, kucing yang biasanya pendiam menjadi sangat bersemangat dan gelisah atau yang biasanya periang tiba-tiba menjadi lemas dan penyendiri. 

Hilangnya nafsu makan secara tiba-tiba dan perubahan sikap kucing ke manusia, seperti agresif dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain, juga merupakan gejala rabies pada kucing yang perlu diwaspadai.
 

2. Gangguan saraf



(Virus rabies menyerang sistem saraf pusat dan otak hewan, dan hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Penyakit rabies bisa menyerang otak dan sistem saraf, sehingga menimbulkan gejala yang berkaitan dengan gangguan tersebut.

Kucing rabies umumnya akan menunjukkan gejala berupa tidak tahan suara bising, menjauhi cahaya yang terang, kejang, pingsan, kesulitan berjalan, atau susah bergerak. 

Gangguan saraf dan otak juga menyebabkan kucing tidak dapat mengenali manusia di sekitar, sehingga ia tidak dapat mengontrol perilakunya.

Ketika sudah menyerang otak kucing, rabies bisa menyebabkan kucing tersebut suka menggigit atau mencakar.
 

3. Air liur berlebih


Mengutip laman Alodokter, ketika kucing banyak meneteskan air liur dari mulut, bisa jadi anabul kamu terkena rabies. Hal ini dikarenakan terjadinya kelumpuhan otot-otot tenggorokan dan rahang akibat kerusakan pada saraf dan otak. 

Untuk mencegah penularan rabies pada kucing kamu, berikan vaksin rabies sejak kucing berusia 8 minggu. Vaksinasi rabies dilakukan setiap 1 tahun sekali untuk melindungi kucing dari infeksi virus penyebab rabies. Vaksin kucing ini dapat ditemukan di berbagai klinik hewan.
 

Kadang gak kelihatan langsung


Rabies pada kucing dikatakan WebMD tidak langsung terlihat. Ada fase inkubasi setelah terpapar yang berlangsung beberapa minggu — bahkan hingga satu tahun — di mana kucing tidak akan menunjukkan tanda-tanda rabies, dan air liurnya tidak akan menular. 

Tidak ada tes untuk rabies pada hewan hidup. Jika kamu mencurigai kucing telah terpapar rabies, dokter hewan akan menyarankan kamu untuk mengisolasi kucing dan mengamati gejalanya. 

Vaksin penguat mungkin dapat mencegah kucing terinfeksi setelah terpapar rabies. Jika kucing mulai menunjukkan gejala, tidak ada yang dapat kamu atau dokter hewan lakukan. 

Tidak ada pengobatan atau penyembuhan untuk rabies pada kucing. Begitu gejala muncul, kesehatan kucing akan memburuk dengan cepat dan akan mati dalam beberapa hari.
 
Rabies tergolong sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit dari hewan yang dapat menular ke manusia. Oleh karena itu, bila kamu digigit oleh kucing yang memiliki gejala rabies, segeralah lakukan pertolongan pertama dengan mencuci bersih luka gigitan tersebut menggunakan sabun dan air mengalir. 

Jika kucing kamu mati mendadak karena dugaan rabies, dokter hewan mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan sampel otak kucing. Pengujian langsung pada otak adalah satu-satunya cara untuk mendiagnosis rabies secara pasti. 

Perlindungan terbaik terhadap rabies pada kucing adalah vaksin rabies secara teratur. Bicaralah dengan dokter hewan untuk memastikan si anabul mendapatkan vaksinasi rabies terbaru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH