FITNESS & HEALTH
5 Kalimat soal Berat Badan yang Sebaiknya Dihindari, Meski Niatnya Baik
A. Firdaus
Kamis 11 Juni 2026 / 12:15
- Tidak semua komentar tentang berat badan berdampak positif.
- Tidak semua penurunan berat badan terjadi karena alasan yang menyenangkan.
- Kritik terhadap tubuh sendiri juga dapat memberi dampak negatif.
Jakarta: Obrolan soal berat badan sering dianggap hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari komentar tentang tubuh, pola makan, hingga tips diet, topik ini kerap muncul saat berkumpul dengan keluarga, teman, atau rekan kerja.
Namun, tidak semua komentar tentang berat badan berdampak positif. Bahkan, beberapa ucapan yang terdengar seperti perhatian atau pujian, justru bisa memicu rasa tidak nyaman, stigma, hingga gangguan pola makan.
Dilansir dari Psychology Today, Dawn Clifford, Ph.D., R.D., menjelaskan bahwa komentar tentang berat badan sering kali menyederhanakan persoalan, yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari genetika, hormon, kondisi kesehatan, obat-obatan, hingga lingkungan. Karena itu, membicarakan tubuh seseorang tanpa diminta dapat memberikan dampak emosional yang tidak disadari.
Salah satu kalimat yang sebaiknya dihindari adalah, “Wah, kelihatan lebih bagus! Turun berat badan ya?” Meski terdengar seperti pujian, komentar semacam ini dapat memperkuat anggapan bahwa penampilan fisik lebih penting, daripada kualitas diri seseorang.
Selain itu, tidak semua penurunan berat badan terjadi karena alasan yang menyenangkan. Kondisi sakit atau masalah kesehatan juga bisa menjadi penyebabnya. Sebagai gantinya, lebih baik memberikan pujian pada hal lain, seperti gaya berpakaian, kepribadian, atau pencapaian seseorang.
Kalimat lain yang perlu dihindari adalah, “Kamu harus menurunkan berat badan.” Selain berpotensi menyinggung, ucapan tersebut juga merupakan bentuk nasihat yang tidak diminta.
Daripada berfokus pada angka di timbangan, menunjukkan kepedulian terhadap kondisi seseorang secara umum dinilai lebih bijak, misalnya dengan menanyakan kabar atau kondisi kesehatannya.
Begitu pula dengan anggapan, bahwa menurunkan berat badan hanya soal makan lebih sedikit dan olahraga lebih banyak. Menurut para ahli, berat badan tidak sesederhana persamaan kalori masuk dan kalori keluar.
Faktor biologis dan psikologis, turut berperan besar dalam menentukan berat badan seseorang. Oleh karena itu, menyederhanakan persoalan tersebut, dapat menimbulkan kesalahpahaman dan penilaian yang tidak adil.
Komentar seperti “Semua tergantung niat dan kemauan” juga dianggap kurang tepat. Perubahan perilaku dan gaya hidup merupakan proses, yang kompleks dan tidak hanya ditentukan oleh kemauan semata.
Banyak faktor lain yang memengaruhi keberhasilannya, termasuk kondisi mental, lingkungan, serta faktor biologis yang tidak selalu bisa dikendalikan.
Selain mengomentari tubuh orang lain, kritik terhadap tubuh sendiri juga dapat memberi dampak negatif. Misalnya, saat seseorang berkata, “Celana ini bikin terlihat gemuk nggak?” tanpa sadar hal tersebut bisa membuat orang di sekitar, ikut mempertanyakan bentuk tubuh mereka sendiri. Kebiasaan berbicara negatif tentang tubuh, juga dapat memperkuat budaya diet dan citra tubuh yang kurang sehat.
Para ahli menyarankan agar percakapan lebih diarahkan pada kesehatan, kebahagiaan, energi, atau kualitas diri seseorang dibandingkan ukuran tubuhnya. Dengan begitu, komunikasi menjadi lebih suportif tanpa menambah tekanan terkait berat badan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Namun, tidak semua komentar tentang berat badan berdampak positif. Bahkan, beberapa ucapan yang terdengar seperti perhatian atau pujian, justru bisa memicu rasa tidak nyaman, stigma, hingga gangguan pola makan.
Dilansir dari Psychology Today, Dawn Clifford, Ph.D., R.D., menjelaskan bahwa komentar tentang berat badan sering kali menyederhanakan persoalan, yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari genetika, hormon, kondisi kesehatan, obat-obatan, hingga lingkungan. Karena itu, membicarakan tubuh seseorang tanpa diminta dapat memberikan dampak emosional yang tidak disadari.
Salah satu kalimat yang sebaiknya dihindari adalah, “Wah, kelihatan lebih bagus! Turun berat badan ya?” Meski terdengar seperti pujian, komentar semacam ini dapat memperkuat anggapan bahwa penampilan fisik lebih penting, daripada kualitas diri seseorang.
Selain itu, tidak semua penurunan berat badan terjadi karena alasan yang menyenangkan. Kondisi sakit atau masalah kesehatan juga bisa menjadi penyebabnya. Sebagai gantinya, lebih baik memberikan pujian pada hal lain, seperti gaya berpakaian, kepribadian, atau pencapaian seseorang.
Kalimat lain yang perlu dihindari adalah, “Kamu harus menurunkan berat badan.” Selain berpotensi menyinggung, ucapan tersebut juga merupakan bentuk nasihat yang tidak diminta.
Daripada berfokus pada angka di timbangan, menunjukkan kepedulian terhadap kondisi seseorang secara umum dinilai lebih bijak, misalnya dengan menanyakan kabar atau kondisi kesehatannya.
Begitu pula dengan anggapan, bahwa menurunkan berat badan hanya soal makan lebih sedikit dan olahraga lebih banyak. Menurut para ahli, berat badan tidak sesederhana persamaan kalori masuk dan kalori keluar.
Faktor biologis dan psikologis, turut berperan besar dalam menentukan berat badan seseorang. Oleh karena itu, menyederhanakan persoalan tersebut, dapat menimbulkan kesalahpahaman dan penilaian yang tidak adil.
Komentar seperti “Semua tergantung niat dan kemauan” juga dianggap kurang tepat. Perubahan perilaku dan gaya hidup merupakan proses, yang kompleks dan tidak hanya ditentukan oleh kemauan semata.
Banyak faktor lain yang memengaruhi keberhasilannya, termasuk kondisi mental, lingkungan, serta faktor biologis yang tidak selalu bisa dikendalikan.
Selain mengomentari tubuh orang lain, kritik terhadap tubuh sendiri juga dapat memberi dampak negatif. Misalnya, saat seseorang berkata, “Celana ini bikin terlihat gemuk nggak?” tanpa sadar hal tersebut bisa membuat orang di sekitar, ikut mempertanyakan bentuk tubuh mereka sendiri. Kebiasaan berbicara negatif tentang tubuh, juga dapat memperkuat budaya diet dan citra tubuh yang kurang sehat.
Para ahli menyarankan agar percakapan lebih diarahkan pada kesehatan, kebahagiaan, energi, atau kualitas diri seseorang dibandingkan ukuran tubuhnya. Dengan begitu, komunikasi menjadi lebih suportif tanpa menambah tekanan terkait berat badan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)