FITNESS & HEALTH
Mengenal Apa Itu Oversharing: Alasan Seseorang Melakukannya dan Apa Saja Risikonya?
Muhammad Syahrul Ramadhan
Selasa 09 Juni 2026 / 19:54
- Oversharing adalah kebiasaan membagikan detail informasi personal secara berlebihan di media sosial maupun obrolan langsung.
- Perilaku ini kerap dipicu oleh kebutuhan akan validasi sosial, rasa kesepian, serta ketidakmampuan mengontrol emosi secara bijak.
- Dampak buruk oversharing meliputi ancaman kebocoran privasi, risiko cyberbullying, hingga rusaknya hubungan sosial dengan orang sekitar.
Jakarta: Di era digital saat ini, membagikan momen keseharian melalui media sosial atau menceritakan keluh kesah kepada orang terdekat sudah menjadi hal yang lumrah. Aktivitas berbagi cerita sejatinya merupakan cara yang baik untuk menjalin hubungan.
Banyak penelitian bahkan membuktikan bahwa saling terbuka dapat meningkatkan keintiman, rasa percaya, serta memperkuat ikatan emosional antarindividu.
Namun, batasan antara bersosialisasi dan menjaga privasi kini kian kabur. Ketika keinginan berbagi cerita dilakukan secara berlebihan tanpa adanya filter, tindakan ini berubah menjadi sebuah fenomena yang disebut oversharing. Bukannya mendatangkan kedekatan, kebiasaan ini justru lebih banyak memberikan dampak negatif dan risiko bahaya bagi pelakunya.
Menjaga ruang privasi bukan berarti kita harus menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Kuncinya terletak pada kebijaksanaan dalam menyaring apa yang layak dikonsumsi publik dan apa yang harus tetap disimpan rapat sebagai konsumsi pribadi. Sebelum bercerita atau menekan tombol post, luangkan waktu sejenak untuk berpikir demi kenyamanan bersama.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(RUL)
Banyak penelitian bahkan membuktikan bahwa saling terbuka dapat meningkatkan keintiman, rasa percaya, serta memperkuat ikatan emosional antarindividu.
Namun, batasan antara bersosialisasi dan menjaga privasi kini kian kabur. Ketika keinginan berbagi cerita dilakukan secara berlebihan tanpa adanya filter, tindakan ini berubah menjadi sebuah fenomena yang disebut oversharing. Bukannya mendatangkan kedekatan, kebiasaan ini justru lebih banyak memberikan dampak negatif dan risiko bahaya bagi pelakunya.
Apa Itu Oversharing dan Mengapa Bisa Terjadi?
Oversharing adalah tindakan atau kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, baik secara langsung dalam percakapan tatap muka maupun melalui unggahan di media sosial. Seseorang yang melakukan oversharing kerap membeberkan detail kehidupan intim, masalah emosional, hingga data sensitif yang seharusnya konsumsi personal. Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang menjadi pemicu utama seseorang melakukan oversharingKetidaktahuan dalam Menyaring Informasi
Banyak orang terjebak oversharing hanya karena mereka menganggap informasi pribadinya menarik, penting, atau lucu untuk dibagikan, tanpa memikirkan dampak panjang dari informasi tersebut.Kebutuhan akan Validasi dan Dukungan
Kesepian atau keinginan yang kuat untuk diterima dan dimengerti oleh lingkungan sosial sering kali membuat seseorang sengaja bercerita terlalu banyak demi memancing perhatian atau simpati publik.Kontrol Emosi yang Lemah
Saat sedang mengalami tekanan emosional, amarah, atau kesedihan yang mendalam, seseorang cenderung menceritakan detail masalahnya secara impulsif tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.Risiko Nyata di Balik Kebiasaan Oversharing
Meskipun pada awalnya berbagi cerita terasa melegakan, oversharing yang tidak segera diatasi dapat memicu berbagai dampak buruk yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Berikut adalah beberapa risiko utamanya:Ancaman terhadap Keamanan dan Privasi Diri: Membagikan data pribadi seperti lokasi terkini, rutinitas harian, hingga dokumen penting secara detail membuka celah besar bagi pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kriminal, seperti penipuan atau penguntikan (stalking).Memicu Penyesalan dan Kecemasan (Post-Oversharing Anxiety)
Ketika emosi sudah mereda, pelaku oversharing sering kali didera rasa malu dan penyesalan yang mendalam karena menyadari rahasianya kini telah diketahui banyak orang, terutama jika jejak digitalnya sudah menyebar luas.Meningkatkan Risiko Cyberbullying
Detail kelemahan atau masalah pribadi yang diumbar di ruang publik digital dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh netizen atau pelaku perundungan siber (cyberbully) untuk menyerang psikologis pelaku.Menurunkan Citra Diri di Dunia Profesional
Seseorang yang gemar mengumbar masalah pribadi atau rahasia orang lain di media sosial sering kali dinilai sebagai pribadi yang kurang bijak, tidak dewasa, dan tidak mampu menjaga profesionalitas kerja.Membuat Lingkungan Sekitar Merasa Tidak Nyaman
Dari sudut pandang sosial, mendengar informasi yang terlalu personal atau emosional dari orang lain dapat memberikan beban mental tersendiri bagi pendengarnya (trauma dumping), sehingga membuat orang lain perlahan memilih untuk menjauh.Menjaga ruang privasi bukan berarti kita harus menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Kuncinya terletak pada kebijaksanaan dalam menyaring apa yang layak dikonsumsi publik dan apa yang harus tetap disimpan rapat sebagai konsumsi pribadi. Sebelum bercerita atau menekan tombol post, luangkan waktu sejenak untuk berpikir demi kenyamanan bersama.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)