FAMILY
Trik “Jessica” Viral karena Disebut Ampuh Redakan Tantrum Balita, Ini Penjelasan Ahli
A. Firdaus
Sabtu 09 Mei 2026 / 07:17
- Belakangan ini, media sosial ramai membahas trik Jessica.
- Metode ini masuk akal, karena tantrum anak sering dipicu hal-hal sederhana.
- Para ahli mengingatkan bahwa distraksi bukan solusi utama.
Jakarta: Belakangan ini, media sosial ramai membahas trik “Jessica”, metode sederhana yang disebut bisa membantu menghentikan tantrum balita.
Caranya cukup unik, yakni orang tua tiba-tiba memanggil nama “Jessica” saat anak sedang menangis atau mengamuk. Meski terdengar aneh, banyak orang tua mengaku anak mereka langsung berhenti menangis, karena perhatian mereka teralihkan.
Menurut Anne Josephson, PsyD, MSEd, dalam Parents, metode ini masuk akal, karena tantrum anak sering dipicu hal-hal sederhana, yang membuat mereka terjebak dalam emosi sendiri. Saat perhatian anak dialihkan ke sesuatu yang baru dan tidak terduga, intensitas emosinya bisa menurun.
Hal serupa dijelaskan Madison Szar, MD, FAAP, dari Bluebird Kids Health. Menurut Dr. Szar, anak-anak diberi fokus baru sehingga lingkaran emosinya terhenti sejenak.
“Taktik ini berhasil dengan memutus siklus tersebut melalui pengalihan perhatian,” jelasnya.
Cara orang tua menyampaikan trik ini juga dianggap penting. Anak-anak cenderung mengikuti emosi dan respons orang tua di sekitarnya.
“Orang tua akan memanggil ‘Jessica,’ seringkali dengan suara tenang, dan menunggu dengan tenang responsnya, dan anak-anak akan meniru perilaku ini,” kata Dr. Szar.
Meski viral, para ahli menegaskan tidak ada hal khusus dari nama tersebut. Menurutnya, nama lain atau ucapan tak terduga juga bisa memberikan efek serupa. Meskipun itu nama yang indah, tidak ada yang magis tentang nama ‘Jessica’.
Pendapat itu didukung Martina Nova, terapis asal Vancouver, Kanada, sekaligus penulis buku Same Page Parenting. “Tidak ada hal yang secara inheren menenangkan pada nama itu sendiri, dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa suara atau kombinasi huruf tertentu, dapat menghentikan tangisan secara signifikan,” katanya.
Nova menjelaskan, “Anak-anak secara alami tertarik pada rangsangan baru atau tidak biasa, jadi ketika orang tua tiba-tiba memanggil seseorang yang tidak ada di sana, hal itu segera menarik perhatian dan dapat meredakan intensitas emosional.”
Dibanding memberi mainan atau camilan agar anak berhenti menangis, trik ini dianggap lebih efektif karena tidak menambah stimulasi baru.
Menurut Dr. Josephson, terlalu sering mengalihkan tantrum dengan hadiah justru bisa memperkuat perilaku tersebut, sementara menjanjikan makanan dapat membangun hubungan emosional, yang kurang sehat dengan makan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa distraksi bukan solusi utama. Setelah anak lebih tenang, orang tua tetap perlu membangun koneksi emosional. Dr. Szar menyarankan memberi pelukan atau kalimat sederhana seperti, “Maaf kamu sedih. Aku mencintaimu.”
“Teknik pengalihan itu sendiri tidak buruk, dan seringkali diperlukan, tetapi harus selalu dipadukan dengan koneksi yang bermakna,” tekan Dr. Szar.
Nova juga menegaskan, “Interupsi bukanlah hal yang sama dengan regulasi,” serta “Seorang anak yang berhenti menangis tidak selalu berarti ia merasa tenang, aman, atau dipahami.”
Menurut Nova, “Tujuan selama tantrum bukan sekadar menghentikan perilaku, tetapi mendukung anak melewati pengalaman emosional tersebut, dengan cara yang terasa aman dan terkendali.”
Para ahli juga mengingatkan bahwa trik ini belum tentu berhasil pada semua anak, terutama anak neurodivergent atau yang sensitif terhadap perubahan mendadak.
“Bagi anak-anak yang neurodivergent, sangat sensitif, atau lebih mudah terganggu oleh ketidakpastian, perubahan mendadak itu bisa terasa membingungkan daripada menenangkan,” jelas Nova.
Ia juga mengingatkan, “Media sosial sering kali menyajikan strategi sebagai solusi universal, tetapi pada kenyataannya, pengasuhan anak jauh lebih bersifat individual.”
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Caranya cukup unik, yakni orang tua tiba-tiba memanggil nama “Jessica” saat anak sedang menangis atau mengamuk. Meski terdengar aneh, banyak orang tua mengaku anak mereka langsung berhenti menangis, karena perhatian mereka teralihkan.
Menurut Anne Josephson, PsyD, MSEd, dalam Parents, metode ini masuk akal, karena tantrum anak sering dipicu hal-hal sederhana, yang membuat mereka terjebak dalam emosi sendiri. Saat perhatian anak dialihkan ke sesuatu yang baru dan tidak terduga, intensitas emosinya bisa menurun.
Hal serupa dijelaskan Madison Szar, MD, FAAP, dari Bluebird Kids Health. Menurut Dr. Szar, anak-anak diberi fokus baru sehingga lingkaran emosinya terhenti sejenak.
“Taktik ini berhasil dengan memutus siklus tersebut melalui pengalihan perhatian,” jelasnya.
Cara orang tua menyampaikan trik ini juga dianggap penting. Anak-anak cenderung mengikuti emosi dan respons orang tua di sekitarnya.
“Orang tua akan memanggil ‘Jessica,’ seringkali dengan suara tenang, dan menunggu dengan tenang responsnya, dan anak-anak akan meniru perilaku ini,” kata Dr. Szar.
Meski viral, para ahli menegaskan tidak ada hal khusus dari nama tersebut. Menurutnya, nama lain atau ucapan tak terduga juga bisa memberikan efek serupa. Meskipun itu nama yang indah, tidak ada yang magis tentang nama ‘Jessica’.
Pendapat itu didukung Martina Nova, terapis asal Vancouver, Kanada, sekaligus penulis buku Same Page Parenting. “Tidak ada hal yang secara inheren menenangkan pada nama itu sendiri, dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa suara atau kombinasi huruf tertentu, dapat menghentikan tangisan secara signifikan,” katanya.
Nova menjelaskan, “Anak-anak secara alami tertarik pada rangsangan baru atau tidak biasa, jadi ketika orang tua tiba-tiba memanggil seseorang yang tidak ada di sana, hal itu segera menarik perhatian dan dapat meredakan intensitas emosional.”
Dibanding memberi mainan atau camilan agar anak berhenti menangis, trik ini dianggap lebih efektif karena tidak menambah stimulasi baru.
Menurut Dr. Josephson, terlalu sering mengalihkan tantrum dengan hadiah justru bisa memperkuat perilaku tersebut, sementara menjanjikan makanan dapat membangun hubungan emosional, yang kurang sehat dengan makan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa distraksi bukan solusi utama. Setelah anak lebih tenang, orang tua tetap perlu membangun koneksi emosional. Dr. Szar menyarankan memberi pelukan atau kalimat sederhana seperti, “Maaf kamu sedih. Aku mencintaimu.”
“Teknik pengalihan itu sendiri tidak buruk, dan seringkali diperlukan, tetapi harus selalu dipadukan dengan koneksi yang bermakna,” tekan Dr. Szar.
Nova juga menegaskan, “Interupsi bukanlah hal yang sama dengan regulasi,” serta “Seorang anak yang berhenti menangis tidak selalu berarti ia merasa tenang, aman, atau dipahami.”
Menurut Nova, “Tujuan selama tantrum bukan sekadar menghentikan perilaku, tetapi mendukung anak melewati pengalaman emosional tersebut, dengan cara yang terasa aman dan terkendali.”
Para ahli juga mengingatkan bahwa trik ini belum tentu berhasil pada semua anak, terutama anak neurodivergent atau yang sensitif terhadap perubahan mendadak.
“Bagi anak-anak yang neurodivergent, sangat sensitif, atau lebih mudah terganggu oleh ketidakpastian, perubahan mendadak itu bisa terasa membingungkan daripada menenangkan,” jelas Nova.
Ia juga mengingatkan, “Media sosial sering kali menyajikan strategi sebagai solusi universal, tetapi pada kenyataannya, pengasuhan anak jauh lebih bersifat individual.”
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)