FAMILY

Balita Suka Teriak dan Tantrum? Begini Cara Menghadapinya dengan Tenang

A. Firdaus
Jumat 13 Maret 2026 / 15:13
Ringkasnya gini..
  • Anak sedang belajar mengenali berbagai emosi.
  • Mencoba mengalihkan perhatian anak.
  • Salah satu cara yang bisa dicoba adalah membuat permainan.
Jakarta: Masa balita sering menjadi periode yang penuh tantangan bagi banyak keluarga. Pada usia ini, anak sedang belajar mengenali berbagai emosi, mulai dari senang, marah, hingga frustrasi.

Namun, kemampuan berbicara dan mengendalikan diri belum berkembang sepenuhnya, sehingga perasaan tersebut sering ditunjukkan melalui perilaku seperti berteriak atau tantrum.

Situasi ini, bisa membuat suasana rumah terasa lebih ramai dan kadang melelahkan. Meski begitu, perilaku tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak.
  Dengan pendekatan yang tenang dan penuh kesabaran, balita dapat belajar memahami emosi mereka serta menemukan cara yang lebih baik untuk mengekspresikannya.

Dilansir dari BabyCenter, berikut dua perilaku yang sering muncul pada balita, dan cara menghadapinya.
 

Berteriak


Balita sering berteriak karena kemampuan berbicara mereka masih terbatas. Saat tidak menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan perasaan, teriakan menjadi cara yang paling mudah untuk mengekspresikan emosi. Teriakan bisa muncul saat anak merasa senang, marah, kesal, atau sangat bersemangat.

Tidak ada cara yang benar-benar pasti untuk menghentikan kebiasaan ini. Jika teriakan muncul karena anak merasa kesal atau tidak bahagia, mencoba mengajak anak berbicara tentang perasaannya bisa membantu, meskipun tidak selalu langsung berhasil.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah membuat permainan, yang mendorong anak berbicara pelan. Misalnya permainan berbisik seperti 'permainan diam'. Mulailah berbicara dengan suara pelan atau berbisik, lalu lihat apakah anak tertarik menirukan.

Hal penting yang perlu diingat adalah tidak merespons teriakan dengan menaikkan suara. Jika orang dewasa ikut berteriak, anak justru bisa menganggap itu sebagai cara yang benar untuk berkomunikasi.

Perlu diingat bahwa fase berteriak cukup umum terjadi pada balita. Seiring bertambahnya kosakata dan kemampuan berbicara, kebiasaan ini biasanya akan berkurang dengan sendirinya.
 

Tantrum


Tantrum merupakan salah satu perilaku yang paling sering terjadi pada balita. Biasanya muncul ketika anak merasa lelah, terlalu banyak rangsangan, atau emosinya sedang tidak stabil.

Walau kadang terlihat seperti upaya untuk mendapatkan keinginan mereka, tantrum sebenarnya bukan cara anak memanipulasi orang dewasa. Anak hanya belum mampu mengendalikan emosi yang sedang dirasakan.

Mengetahui batas kemampuan anak dapat membantu mengurangi kemungkinan tantrum. Misalnya dengan memastikan anak tidak terlalu lapar, tidak terlalu lelah, dan tidak berada di lingkungan yang terlalu ramai atau melelahkan.

Memberikan pujian atau perhatian saat anak menunjukkan perilaku baik juga penting. Hal ini membantu anak memahami, bahwa perhatian tidak hanya didapat saat sedang menangis atau marah.

Jika tantrum terjadi, mencoba mengalihkan perhatian anak bisa menjadi salah satu cara yang membantu. Memberikan pilihan sederhana seperti memilih camilan atau mainan, juga dapat membantu anak menenangkan diri.

Pada saat yang sama, tetap perlu menjelaskan bahwa perilaku berbahaya seperti memukul, menggigit, atau melempar benda tidak dapat diterima, bahkan saat sedang marah.

Tetaplah tenang dan tunjukkan dukungan dengan kalimat sederhana, seperti bahwa anak sedang kesal dan akan dibantu untuk menenangkan diri. Kehadiran orang dewasa di dekat anak, sering kali sudah cukup membantu sampai emosi anak mereda.

Kabar baiknya, sebagian besar anak mulai lebih jarang mengalami tantrum, ketika memasuki usia sekitar tiga hingga empat tahun. 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH