FAMILY
Free Birth atau Tren Melahirkan Tanpa Bantuan Medis, Aman atau Berisiko?
A. Firdaus
Selasa 28 April 2026 / 13:15
- Konsep ini justru semakin dikenal dan menarik perhatian sebagian orang tua.
- Orang tua yang memilih metode ini menjalani seluruh proses kehamilan hingga persalinan, tanpa pengawasan medis.
- Hingga saat ini, free birth belum banyak diteliti secara mendalam.
Jakarta: Belakangan ini, istilah “free birth” atau “unassisted birth”, mulai sering muncul di berbagai komunitas parenting dan media sosial. Istilah ini merujuk pada proses melahirkan tanpa kehadiran tenaga medis, yang tentu menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus kekhawatiran.
Beberapa pemberitaan bahkan menyoroti sisi tragis dari praktik ini, seperti laporan tahun 2020 yang mengisahkan seorang ibu, yang kehilangan bayinya saat menjalani “free birth”. Kisah-kisah seperti ini, membuat banyak orang menilai bahwa praktik tersebut sangat berbahaya.
Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir, konsep ini justru semakin dikenal dan menarik perhatian sebagian orang tua. Walaupun tenaga medis secara umum tidak menyarankan metode ini, ada berbagai alasan yang membuat sebagian orang tertarik, untuk melahirkan di luar sistem medis yang lebih terstruktur.
Untuk memahami fenomena ini, para bidan dan profesional di bidang persalinan mencoba menjelaskan, apa sebenarnya daya tarik di balik free birth, sekaligus risiko yang menyertainya.
Dilansir dari BabyCenter, fee birth, atau yang juga dikenal sebagai persalinan tanpa bantuan, adalah proses kehamilan dan melahirkan tanpa keterlibatan tenaga medis sama sekali.
Sara Holt, CNM, MS, PMH-C, bidan bersertifikat dan pemilik Byenveni Baby, LLC, menjelaskan bahwa istilah lain, seperti “wild birth” juga digunakan untuk menggambarkan kondisi “kehamilan yang secara sengaja tanpa perawatan pranatal, USG, pemeriksaan laboratorium, atau pemantauan.”
Dalam praktiknya, orang tua yang memilih metode ini menjalani seluruh proses kehamilan hingga persalinan, tanpa pengawasan medis. Selama proses kelahiran, mereka mungkin hanya didampingi oleh pasangan, keluarga, atau teman terdekat. Namun, tidak ada tenaga kesehatan terlatih yang hadir untuk membantu proses tersebut, seperti yang dijelaskan oleh Tania Lopez, CNM, bidan bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Fort Worth, Texas.
Hingga saat ini, free birth belum banyak diteliti secara mendalam, sehingga data mengenai seberapa sering praktik ini dilakukan masih terbatas. Sebuah studi tahun 2024, yang diterbitkan dalam Midwifery memperkirakan bahwa free birth berada di kisaran 3-20%, dari total persalinan di rumah.
Namun, angka ini hanya berupa estimasi. Mengingat persalinan di rumah sendiri hanya mencakup sekitar 1% dari seluruh proses kelahiran, jumlah orang yang memilih free birth sebenarnya tergolong sangat kecil.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Beberapa pemberitaan bahkan menyoroti sisi tragis dari praktik ini, seperti laporan tahun 2020 yang mengisahkan seorang ibu, yang kehilangan bayinya saat menjalani “free birth”. Kisah-kisah seperti ini, membuat banyak orang menilai bahwa praktik tersebut sangat berbahaya.
Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir, konsep ini justru semakin dikenal dan menarik perhatian sebagian orang tua. Walaupun tenaga medis secara umum tidak menyarankan metode ini, ada berbagai alasan yang membuat sebagian orang tertarik, untuk melahirkan di luar sistem medis yang lebih terstruktur.
Untuk memahami fenomena ini, para bidan dan profesional di bidang persalinan mencoba menjelaskan, apa sebenarnya daya tarik di balik free birth, sekaligus risiko yang menyertainya.
Apa itu free birth?
Dilansir dari BabyCenter, fee birth, atau yang juga dikenal sebagai persalinan tanpa bantuan, adalah proses kehamilan dan melahirkan tanpa keterlibatan tenaga medis sama sekali.
Sara Holt, CNM, MS, PMH-C, bidan bersertifikat dan pemilik Byenveni Baby, LLC, menjelaskan bahwa istilah lain, seperti “wild birth” juga digunakan untuk menggambarkan kondisi “kehamilan yang secara sengaja tanpa perawatan pranatal, USG, pemeriksaan laboratorium, atau pemantauan.”
Dalam praktiknya, orang tua yang memilih metode ini menjalani seluruh proses kehamilan hingga persalinan, tanpa pengawasan medis. Selama proses kelahiran, mereka mungkin hanya didampingi oleh pasangan, keluarga, atau teman terdekat. Namun, tidak ada tenaga kesehatan terlatih yang hadir untuk membantu proses tersebut, seperti yang dijelaskan oleh Tania Lopez, CNM, bidan bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Fort Worth, Texas.
Hingga saat ini, free birth belum banyak diteliti secara mendalam, sehingga data mengenai seberapa sering praktik ini dilakukan masih terbatas. Sebuah studi tahun 2024, yang diterbitkan dalam Midwifery memperkirakan bahwa free birth berada di kisaran 3-20%, dari total persalinan di rumah.
Namun, angka ini hanya berupa estimasi. Mengingat persalinan di rumah sendiri hanya mencakup sekitar 1% dari seluruh proses kelahiran, jumlah orang yang memilih free birth sebenarnya tergolong sangat kecil.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)