FAMILY
Misteri Tangisan Tengah Malam: Kenalan Sama Penyebab Kolik
Yatin Suleha
Senin 09 Maret 2026 / 17:36
- Kolik sering disebut sebagai salah satu misteri terbesar dalam dunia bayi.
- Penelitian menemukan hubungan antara gangguan kecemasan pada ibu dan tangisan berlebihan pada bayi.
- Bayi yang lahir dari ibu yang merokok selama kehamilan atau setelah persalinan, diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kolik.
Jakarta: Tangisan bayi yang berlangsung lama sering kali memicu banyak pertanyaan. Ketika si kecil sudah kenyang, popok bersih, dan tidak demam tetapi tetap menangis berjam-jam, rasa khawatir pun muncul.
Kolik menjadi salah satu kondisi yang paling membingungkan di masa awal kehidupan bayi, karena penyebab pastinya belum benar-benar diketahui. Meski tergolong umum dan tidak berbahaya dalam jangka panjang, kolik tetap bisa menguras energi fisik serta emosi keluarga.
Banyak penelitian telah mencoba mengungkap alasan di balik kondisi ini. Hasilnya menunjukkan bahwa kolik kemungkinan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa hal yang saling berkaitan.
Kolik sering disebut sebagai salah satu misteri terbesar dalam dunia bayi. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi pertama maupun berikutnya, pada bayi laki-laki maupun perempuan, serta pada bayi yang mendapat ASI maupun susu formula.
Tidak ada satu pun faktor pasti, yang membuat sebagian bayi lebih rentan dibanding yang lain. Namun, para ahli memiliki sejumlah teori, yang dianggap berperan dalam munculnya kolik.
Dilansir dari BabyCenter, berikut sembilan kemungkinan penyebab kolik pada bayi yang wajib Moms ketahui.
.jpg)
(Paparan asap rokok (perokok aktif/pasif) dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kolik, yaitu tangisan berkepanjangan akibat perut tidak nyaman, karena nikotin dan bahan kimia beracun mengiritasi saluran pencernaan. Foto: Ilustrasi/Dok. Pexels.com)
Bayi yang lahir dari ibu yang merokok selama kehamilan atau setelah persalinan, diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kolik. Risiko ini cenderung lebih rendah jika bayi mendapatkan ASI. Paparan zat kimia dari rokok, diduga memengaruhi sistem pencernaan dan saraf bayi.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kolik merupakan bentuk pelepasan ketegangan pada bayi, yang sensitif terhadap rangsangan. Sepanjang hari, bayi menerima banyak rangsangan seperti cahaya, suara, sentuhan, dan perubahan lingkungan.
Faktor saluran cerna juga sering dikaitkan dengan kolik. Perut kembung, pemberian susu yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, serta sistem pencernaan yang belum matang dapat memicu ketidaknyamanan.
Sekitar 2 hingga 3% bayi mengalami nyeri perut akibat intoleransi atau alergi terhadap protein susu sapi. Kondisi ini bisa terjadi pada bayi yang mengonsumsi susu formula, berbahan dasar susu sapi.
Pada bayi yang mendapat ASI, zat dari makanan tertentu dapat ikut masuk melalui ASI dan memicu ketidaknyamanan. Produk susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai, dan ikan termasuk yang paling sering dikaitkan.
Kondisi ini dikenal juga sebagai refluks asam. Bayi dengan GERD biasanya sering muntah, tampak tidak nyaman setelah menyusu, dan terkadang pertumbuhannya kurang optimal.
Teori lain menyebutkan bahwa kolik mungkin berkaitan, dengan komposisi bakteri baik di dalam usus. Penelitian menemukan bahwa bayi dengan kolik memiliki mikroflora usus, yang berbeda dibanding bayi yang tidak mengalami kolik.
Serotonin adalah zat kimia yang membantu komunikasi, antara otak dan tubuh serta berperan dalam kontraksi otot usus. Beberapa penelitian menemukan bahwa sebagian bayi kolik, menghasilkan serotonin dalam jumlah lebih tinggi.
Penelitian menemukan hubungan antara gangguan kecemasan pada ibu dan tangisan berlebihan pada bayi. Ketegangan emosional atau depresi selama kehamilan, juga diduga memiliki kaitan dengan kolik.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Kolik menjadi salah satu kondisi yang paling membingungkan di masa awal kehidupan bayi, karena penyebab pastinya belum benar-benar diketahui. Meski tergolong umum dan tidak berbahaya dalam jangka panjang, kolik tetap bisa menguras energi fisik serta emosi keluarga.
Banyak penelitian telah mencoba mengungkap alasan di balik kondisi ini. Hasilnya menunjukkan bahwa kolik kemungkinan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa hal yang saling berkaitan.
Baca Juga :
Yuk Kenalan Sama 3 Bagian Utama Otak Anak
Apa penyebab kolik?
Kolik sering disebut sebagai salah satu misteri terbesar dalam dunia bayi. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi pertama maupun berikutnya, pada bayi laki-laki maupun perempuan, serta pada bayi yang mendapat ASI maupun susu formula.
Tidak ada satu pun faktor pasti, yang membuat sebagian bayi lebih rentan dibanding yang lain. Namun, para ahli memiliki sejumlah teori, yang dianggap berperan dalam munculnya kolik.
Dilansir dari BabyCenter, berikut sembilan kemungkinan penyebab kolik pada bayi yang wajib Moms ketahui.
1. Paparan asap rokok
.jpg)
(Paparan asap rokok (perokok aktif/pasif) dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kolik, yaitu tangisan berkepanjangan akibat perut tidak nyaman, karena nikotin dan bahan kimia beracun mengiritasi saluran pencernaan. Foto: Ilustrasi/Dok. Pexels.com)
Bayi yang lahir dari ibu yang merokok selama kehamilan atau setelah persalinan, diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kolik. Risiko ini cenderung lebih rendah jika bayi mendapatkan ASI. Paparan zat kimia dari rokok, diduga memengaruhi sistem pencernaan dan saraf bayi.
2. Stimulasi berlebihan
Beberapa ahli berpendapat bahwa kolik merupakan bentuk pelepasan ketegangan pada bayi, yang sensitif terhadap rangsangan. Sepanjang hari, bayi menerima banyak rangsangan seperti cahaya, suara, sentuhan, dan perubahan lingkungan.
3. Masalah pada sistem pencernaan
Faktor saluran cerna juga sering dikaitkan dengan kolik. Perut kembung, pemberian susu yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, serta sistem pencernaan yang belum matang dapat memicu ketidaknyamanan.
4. Intoleransi atau alergi protein susu
Sekitar 2 hingga 3% bayi mengalami nyeri perut akibat intoleransi atau alergi terhadap protein susu sapi. Kondisi ini bisa terjadi pada bayi yang mengonsumsi susu formula, berbahan dasar susu sapi.
5. Sensitivitas terhadap makanan ibu menyusui
Pada bayi yang mendapat ASI, zat dari makanan tertentu dapat ikut masuk melalui ASI dan memicu ketidaknyamanan. Produk susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai, dan ikan termasuk yang paling sering dikaitkan.
6. Refluks gastroesofageal (GERD)
Kondisi ini dikenal juga sebagai refluks asam. Bayi dengan GERD biasanya sering muntah, tampak tidak nyaman setelah menyusu, dan terkadang pertumbuhannya kurang optimal.
7. Ketidakseimbangan bakteri usus
Teori lain menyebutkan bahwa kolik mungkin berkaitan, dengan komposisi bakteri baik di dalam usus. Penelitian menemukan bahwa bayi dengan kolik memiliki mikroflora usus, yang berbeda dibanding bayi yang tidak mengalami kolik.
8. Kadar serotonin yang lebih tinggi
Serotonin adalah zat kimia yang membantu komunikasi, antara otak dan tubuh serta berperan dalam kontraksi otot usus. Beberapa penelitian menemukan bahwa sebagian bayi kolik, menghasilkan serotonin dalam jumlah lebih tinggi.
9. Stres dalam keluarga
Penelitian menemukan hubungan antara gangguan kecemasan pada ibu dan tangisan berlebihan pada bayi. Ketegangan emosional atau depresi selama kehamilan, juga diduga memiliki kaitan dengan kolik.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)