FAMILY
Moms Wajib Tahu! Ini Bisa Jadi Penyebab Bayi Tidak Bertambah Berat Badan
A. Firdaus
Kamis 12 Februari 2026 / 13:10
- Bayi dapat memiliki refleks hisap yang lemah.
- Bayi mungkin mengalami masalah gastrointestinal kronis.
- Apabila bayi tidak tumbuh secara stabil.
Jakarta: Terdapat banyak kemungkinan penyebab sehingga dokter mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan untuk melakukan berbagai pemeriksaan, mempelajari pola makan bayi, meninjau riwayat kesehatan, tingkat aktivitas, serta mengidentifikasi kemungkinan faktor stres sebelum menemukan sumber masalah yang sebenarnya.
Secara umum, apabila bayi tidak tumbuh secara stabil, hal tersebut dapat berarti bahwa bayi tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup, atau tubuhnya tidak mampu menyerap maupun menggunakan nutrisi dengan baik.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah beberapa alasan yang dapat menyebabkan kondisi tersebut:
1. Bayi mungkin mudah merasa lelah dan tertidur sebelum mendapatkan ASI dalam jumlah yang cukup.
2. Bayi dapat memiliki refleks hisap yang lemah, sehingga tidak mampu mendapatkan ASI secara optimal dari payudara saat menyusu, atau bahkan dari botol, meskipun kondisi ini lebih sering terjadi pada proses menyusui.
3. Bibir sumbing atau langit-langit sumbing dapat mengganggu proses menyusui. Kondisi ini biasanya ditangani dengan penggunaan botol dan puting khusus serta bantuan dari spesialis pemberian makan.
4. Lidah terikat dapat membuat bayi kesulitan menyusu dengan efektif sehingga asupan nutrisi menjadi kurang. Kondisi ini juga dapat memengaruhi pemberian makan dengan botol, meskipun kejadiannya lebih jarang.
5. Jika bayi diberi susu formula, kesalahan dalam menyiapkan susu formula dapat menyebabkan bayi tidak memperoleh nutrisi yang cukup sehingga berat badan tidak bertambah.
6. Pada bayi yang disusui, kesulitan dalam membentuk rutinitas menyusui dapat menyebabkan asupan makanan tidak mencukupi. Dalam beberapa kasus, produksi ASI mungkin belum memenuhi kebutuhan bayi, atau ASI belakang (hindmilk) tidak keluar dengan lancar sehingga asupan kalori bayi menjadi kurang.
Sepertiga dari ASI yang diproduksi pada awal proses menyusui dikenal sebagai ASI depan, yaitu ASI yang pertama kali keluar dan mudah diakses oleh bayi. Ketika proses menyusui dimulai, tubuh ibu secara alami akan melepaskan hormon oksitosin.
Hormon ini berperan penting dalam merangsang keluarnya sisa ASI yang lebih kental dan kaya energi, yang dikenal sebagai ASI belakang. Proses alami ini disebut refleks letdown.
Refleks ini biasanya dapat dikenali melalui sensasi geli pada puting atau keluarnya ASI yang menyembur secara spontan. ASI belakang memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi dibandingkan ASI depan, sehingga sangat berperan dalam membantu kenaikan berat badan bayi.
Untuk membantu merangsang refleks letdown, disarankan menyusui di tempat yang tenang, nyaman, dan minim gangguan agar tubuh lebih rileks.
7. Beberapa bayi yang diberi makan berdasarkan jadwal yang ketat, bukan berdasarkan permintaan atau tanda lapar yang ditunjukkan bayi, berisiko mendapatkan asupan nutrisi yang lebih sedikit dari yang sebenarnya dibutuhkan.
Sebagian besar ahli menyarankan agar bayi disusui atau diberi susu botol selama dan sesering yang diinginkan, mengikuti kebutuhan alami bayi, bukan dibatasi oleh jadwal yang kaku.
1. Jika bayi sedang sakit, tubuhnya biasanya memerlukan lebih banyak kalori dan nutrisi untuk proses pemulihan. Di sisi lain, kondisi sakit juga dapat menurunkan nafsu makan bayi, sehingga asupan kalori menjadi tidak mencukupi.
2. Bayi mungkin mengalami masalah gastrointestinal kronis, seperti diare berkepanjangan, refluks, penyakit celiac, atau intoleransi terhadap susu, yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi.
3. Apabila ibu mengalami depresi pasca melahirkan atau memiliki beberapa anak kecil lain yang juga membutuhkan perhatian, fokus terhadap kebutuhan makan bayi dapat berkurang, sehingga asupan kalori bayi tidak selalu terpenuhi secara optimal.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Secara umum, apabila bayi tidak tumbuh secara stabil, hal tersebut dapat berarti bahwa bayi tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup, atau tubuhnya tidak mampu menyerap maupun menggunakan nutrisi dengan baik.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah beberapa alasan yang dapat menyebabkan kondisi tersebut:
Masalah pemberian makan
1. Bayi mungkin mudah merasa lelah dan tertidur sebelum mendapatkan ASI dalam jumlah yang cukup.
2. Bayi dapat memiliki refleks hisap yang lemah, sehingga tidak mampu mendapatkan ASI secara optimal dari payudara saat menyusu, atau bahkan dari botol, meskipun kondisi ini lebih sering terjadi pada proses menyusui.
3. Bibir sumbing atau langit-langit sumbing dapat mengganggu proses menyusui. Kondisi ini biasanya ditangani dengan penggunaan botol dan puting khusus serta bantuan dari spesialis pemberian makan.
4. Lidah terikat dapat membuat bayi kesulitan menyusu dengan efektif sehingga asupan nutrisi menjadi kurang. Kondisi ini juga dapat memengaruhi pemberian makan dengan botol, meskipun kejadiannya lebih jarang.
5. Jika bayi diberi susu formula, kesalahan dalam menyiapkan susu formula dapat menyebabkan bayi tidak memperoleh nutrisi yang cukup sehingga berat badan tidak bertambah.
6. Pada bayi yang disusui, kesulitan dalam membentuk rutinitas menyusui dapat menyebabkan asupan makanan tidak mencukupi. Dalam beberapa kasus, produksi ASI mungkin belum memenuhi kebutuhan bayi, atau ASI belakang (hindmilk) tidak keluar dengan lancar sehingga asupan kalori bayi menjadi kurang.
Sepertiga dari ASI yang diproduksi pada awal proses menyusui dikenal sebagai ASI depan, yaitu ASI yang pertama kali keluar dan mudah diakses oleh bayi. Ketika proses menyusui dimulai, tubuh ibu secara alami akan melepaskan hormon oksitosin.
Hormon ini berperan penting dalam merangsang keluarnya sisa ASI yang lebih kental dan kaya energi, yang dikenal sebagai ASI belakang. Proses alami ini disebut refleks letdown.
Refleks ini biasanya dapat dikenali melalui sensasi geli pada puting atau keluarnya ASI yang menyembur secara spontan. ASI belakang memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi dibandingkan ASI depan, sehingga sangat berperan dalam membantu kenaikan berat badan bayi.
Untuk membantu merangsang refleks letdown, disarankan menyusui di tempat yang tenang, nyaman, dan minim gangguan agar tubuh lebih rileks.
7. Beberapa bayi yang diberi makan berdasarkan jadwal yang ketat, bukan berdasarkan permintaan atau tanda lapar yang ditunjukkan bayi, berisiko mendapatkan asupan nutrisi yang lebih sedikit dari yang sebenarnya dibutuhkan.
Sebagian besar ahli menyarankan agar bayi disusui atau diberi susu botol selama dan sesering yang diinginkan, mengikuti kebutuhan alami bayi, bukan dibatasi oleh jadwal yang kaku.
Penyebab umum lainnya
1. Jika bayi sedang sakit, tubuhnya biasanya memerlukan lebih banyak kalori dan nutrisi untuk proses pemulihan. Di sisi lain, kondisi sakit juga dapat menurunkan nafsu makan bayi, sehingga asupan kalori menjadi tidak mencukupi.
2. Bayi mungkin mengalami masalah gastrointestinal kronis, seperti diare berkepanjangan, refluks, penyakit celiac, atau intoleransi terhadap susu, yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi.
3. Apabila ibu mengalami depresi pasca melahirkan atau memiliki beberapa anak kecil lain yang juga membutuhkan perhatian, fokus terhadap kebutuhan makan bayi dapat berkurang, sehingga asupan kalori bayi tidak selalu terpenuhi secara optimal.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)