FAMILY
Plot Twist! Anak Sering "Cranky" dan Susah Tidur Ternyata Berawal dari Masalah Perut
A. Firdaus
Sabtu 06 Juni 2026 / 08:10
- Sistem pencernaan anak memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi tubuh secara keseluruhan.
- Gangguan pencernaan pada anak cukup umum terjadi.
- Gangguan pencernaan pada anak secara umum dibagi menjadi dua, yaitu karena sakit dan karena faktor non-penyakit.
Jakarta: Masalah pencernaan pada anak, ternyata bukan sekadar urusan sakit perut atau susah makan. Di balik gangguan pencernaan, ada banyak dampak lain yang bisa memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari perubahan mood, kualitas tidur, hingga penyerapan nutrisi yang tidak maksimal.
Sistem pencernaan anak memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi tubuh secara keseluruhan. Saat pencernaan terganggu, efeknya bisa langsung terasa pada aktivitas sehari-hari anak.
“Kalau seorang anak mengalami gangguan pencernaan, efeknya bisa ke mana-mana. Mood anak jadi rewel, clingy, gampang nangis, makannya jadi susah, sampai tidurnya terganggu,” jelas dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, Dokter Anak dalam acara Lactogrow Digestion Expert Lab di Mall Kota Kasablanka Jakarta, Jum'at (05/06/26).
Dokter. Miza menyebut bahwa gangguan pencernaan pada anak cukup umum terjadi. Bahkan menurut data yang ia sampaikan, sekitar 1 dari 4 anak memiliki masalah pada saluran cerna.
Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan sakit perut, tetapi juga berpengaruh pada proses penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Padahal, anak membutuhkan asupan gizi optimal untuk mendukung pertumbuhan.
“Kadang orang tua merasa anaknya makannya banyak dan semuanya terlihat oke, tapi pertumbuhannya tidak bagus. Ternyata gizinya tidak terserap secara sempurna,” kata dr. Miza.
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti makanan yang hanya “menumpang lewat” di saluran cerna tanpa benar-benar diserap tubuh dengan baik.
Dokter. Miza menjelaskan bahwa gangguan pencernaan pada anak secara umum dibagi menjadi dua, yaitu karena sakit dan karena faktor non-penyakit.

dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, Dokter Anak dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mall Kota Kasablanka Jakarta, Jum'at (05/06/26). Dok. Secillia/Medcom
Jika anak mengalami muntah hebat, nyeri perut, atau kondisi medis tertentu, maka perlu penanganan dokter. Namun tantangan terbesar justru muncul saat anak terlihat sehat, tetapi sebenarnya mengalami gangguan keseimbangan di dalam saluran cerna.
Keberadaan mikrobiota atau bakteri baik, di dalam tubuh manusia berjumlah lebih banyak dibanding jumlah sel tubuh manusia sendiri.
Bakteri baik tersebut berperan penting membantu berbagai fungsi tubuh, terutama pada sistem pencernaan. Ketika keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat terganggu, masalah pencernaan pun mulai muncul.
Probiotik merupakan bakteri baik, yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Salah satu probiotik yang paling banyak diteliti adalah Lactobacillus reuteri.
dr. Miza mengatakan bahwa Lactobacillus reuteri, sudah dikenalkan sejak bayi masih di dalam kandungan melalui air ketuban, lalu terus hadir melalui ASI setelah lahir.
“Lactobacillus reuteri ini bisa menempel di seluruh saluran pencernaan manusia, mulai dari mulut sampai usus besar. Makanya manfaatnya sangat banyak,” ungkap dr. Miza.
Menurutnya, probiotik tersebut dapat membantu berbagai masalah pencernaan seperti perut kembung, muntah, diare, hingga gangguan lambung pada anak.
Di akhir sesi, dr. Miza mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi saluran cerna anak sejak dini. Gangguan kecil yang terlihat sepele bisa berdampak panjang jika terus dibiarkan.
Ia menekankan bahwa menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam tubuh, menjadi salah satu kunci utama, agar anak bisa tumbuh optimal, aktif, dan nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
“Gangguan pencernaan itu sesuatu yang harus dihindari bersama. Karena penyerapan gizi sangat penting untuk tumbuh kembang anak,” tutup dr. Miza.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Sistem pencernaan anak memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi tubuh secara keseluruhan. Saat pencernaan terganggu, efeknya bisa langsung terasa pada aktivitas sehari-hari anak.
“Kalau seorang anak mengalami gangguan pencernaan, efeknya bisa ke mana-mana. Mood anak jadi rewel, clingy, gampang nangis, makannya jadi susah, sampai tidurnya terganggu,” jelas dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, Dokter Anak dalam acara Lactogrow Digestion Expert Lab di Mall Kota Kasablanka Jakarta, Jum'at (05/06/26).
Dokter. Miza menyebut bahwa gangguan pencernaan pada anak cukup umum terjadi. Bahkan menurut data yang ia sampaikan, sekitar 1 dari 4 anak memiliki masalah pada saluran cerna.
Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan sakit perut, tetapi juga berpengaruh pada proses penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Padahal, anak membutuhkan asupan gizi optimal untuk mendukung pertumbuhan.
“Kadang orang tua merasa anaknya makannya banyak dan semuanya terlihat oke, tapi pertumbuhannya tidak bagus. Ternyata gizinya tidak terserap secara sempurna,” kata dr. Miza.
Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti makanan yang hanya “menumpang lewat” di saluran cerna tanpa benar-benar diserap tubuh dengan baik.
Penyebab gangguan pencernaan tidak selalu karena sakit
Dokter. Miza menjelaskan bahwa gangguan pencernaan pada anak secara umum dibagi menjadi dua, yaitu karena sakit dan karena faktor non-penyakit.

dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, Dokter Anak dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mall Kota Kasablanka Jakarta, Jum'at (05/06/26). Dok. Secillia/Medcom
Jika anak mengalami muntah hebat, nyeri perut, atau kondisi medis tertentu, maka perlu penanganan dokter. Namun tantangan terbesar justru muncul saat anak terlihat sehat, tetapi sebenarnya mengalami gangguan keseimbangan di dalam saluran cerna.
Apa itu bakteri baik?
Keberadaan mikrobiota atau bakteri baik, di dalam tubuh manusia berjumlah lebih banyak dibanding jumlah sel tubuh manusia sendiri.
Bakteri baik tersebut berperan penting membantu berbagai fungsi tubuh, terutama pada sistem pencernaan. Ketika keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat terganggu, masalah pencernaan pun mulai muncul.
Probiotik merupakan bakteri baik, yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna. Salah satu probiotik yang paling banyak diteliti adalah Lactobacillus reuteri.
dr. Miza mengatakan bahwa Lactobacillus reuteri, sudah dikenalkan sejak bayi masih di dalam kandungan melalui air ketuban, lalu terus hadir melalui ASI setelah lahir.
“Lactobacillus reuteri ini bisa menempel di seluruh saluran pencernaan manusia, mulai dari mulut sampai usus besar. Makanya manfaatnya sangat banyak,” ungkap dr. Miza.
Menurutnya, probiotik tersebut dapat membantu berbagai masalah pencernaan seperti perut kembung, muntah, diare, hingga gangguan lambung pada anak.
Orang tua perlu lebih peka dengan kondisi pencernaan anak
Di akhir sesi, dr. Miza mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi saluran cerna anak sejak dini. Gangguan kecil yang terlihat sepele bisa berdampak panjang jika terus dibiarkan.
Ia menekankan bahwa menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam tubuh, menjadi salah satu kunci utama, agar anak bisa tumbuh optimal, aktif, dan nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
“Gangguan pencernaan itu sesuatu yang harus dihindari bersama. Karena penyerapan gizi sangat penting untuk tumbuh kembang anak,” tutup dr. Miza.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)