BEAUTY

Gak Perlu Panik Bolak-balik RS, AI Buatan Lokal Ini Bisa Deteksi Gagal Jantung

Yatin Suleha
Selasa 14 Juli 2026 / 21:59
Ringkasnya gini..
  • Teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menghadirkan harapan baru di dunia kesehatan.
  • ali ini, tim peneliti dari Indonesia mengembangkan alat berbasis AI.
  • Dirancang untuk membantu mendeteksi penumpukan cairan di paru-paru, pada pasien gagal jantung yang bernama NAVI-HF.
Jakarta: Teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menghadirkan harapan baru di dunia kesehatan.

Kali ini, tim peneliti dari Indonesia mengembangkan alat berbasis AI, yang dirancang untuk membantu mendeteksi penumpukan cairan di paru-paru, pada pasien gagal jantung yang bernama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF).

Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu dokter mengambil keputusan, yang lebih akurat sebelum pasien dipulangkan, sekaligus memungkinkan pemantauan kondisi pasien dari rumah, sehingga risiko rawat inap berulang dapat ditekan.

Penelitian ini dikembangkan untuk pasien gagal jantung, yakni kondisi ketika fungsi pompa jantung menurun, sehingga jantung membesar dan tidak mampu memompa darah secara optimal.
 
Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes, penyakit jantung koroner, hingga gangguan katup jantung. Akibatnya, pasien kerap mengalami sesak napas, kaki bengkak, serta kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Indonesia memiliki jumlah pasien penyakit jantung yang sangat tinggi di Asia. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu membantu pelayanan kesehatan, terutama di fasilitas yang belum memiliki alat pemeriksaan gagal jantung yang lengkap.

"Penelitian ini adalah bagaimana kita menciptakan sebuah alat baru untuk membantu pelayanan dokter, terutama dokter di tempat di mana alat untuk pemeriksaan kesehatan gagal jantung itu tidak ada," ujar Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung, Sub Spesialis Konsultan Kardiovaskular Intervensi, Konsultan Kedokteran Vaskular dalam acara Inovasi AI Karya Dokter Indonesia Berpotensi Membantu Menekan Risiko Rawat Ulang Pasien Gagal Jantung di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Selasa (14/05/26).

"Jadi fokus daripada penelitian ini adalah pada pasien-pasien gagal jantung," tambah Dr. dr. Rony lagi.

Ia menambahkan, salah satu persoalan terbesar pada pasien gagal jantung, adalah tingginya angka rehospitalisasi atau rawat inap berulang. Banyak pasien yang sudah diperbolehkan pulang, tetapi harus kembali dirawat beberapa minggu kemudian.

"Ternyata salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi, yaitu kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinikal," kata dr. Rony.
 

AI bantu dokter mendeteksi cairan yang tak terdengar dengan stetoskop


Dr. Rony menjelaskan bahwa cairan di paru-paru sering kali tidak terdeteksi, saat pemeriksaan menggunakan stetoskop, karena keterbatasan kemampuan pendengaran manusia, maupun pengalaman masing-masing dokter.


(AI buatan dokter Indonesia ini bantu deteksi gagal jantung tanpa perlu rawat inap berulang lagi. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)

Oleh karena itu, tim peneliti mengembangkan alat berbasis AI yang mampu mengenali suara paru-paru, dan mendeteksi adanya cairan yang belum terlihat secara klinis.

"Nah, itulah mengapa kita pakai AI. Kita mencoba membuat alat, yang bisa membantu dokter untuk mengatasi hal tersebut, yang bisa membedakan ini masih ada air, ini masih ada cairan, sehingga pasien yang kita periksa kalau dia bilang positif artinya jangan dipulangin dulu," ujar dr. Rony.

Ke depan, alat tersebut dirancang dalam bentuk stetoskop portabel, yang dapat dihubungkan ke ponsel melalui aplikasi. Pasien nantinya bisa melakukan pemeriksaan sendiri di rumah. 

Bila hasil menunjukkan adanya cairan, aplikasi akan memberikan peringatan, agar pasien segera berkonsultasi ke rumah sakit.

Selain itu, pengembangan berikutnya akan menghubungkan alat ke sistem cloud, sehingga hasil pemeriksaan dapat dipantau secara jarak jauh, sebagai bagian dari layanan telemedicine dan home-based monitoring.
 

Diuji pada hampir 300 pasien di tiga rumah sakit


Penelitian tersebut melibatkan hampir 300 pasien gagal jantung yang berasal dari tiga rumah sakit, yakni Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RS Kemenkes Sitanala, serta Primaya Hospital Tangerang.

Dr. Rony mengatakan algoritma AI yang dikembangkan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. 

Pada tahap pelatihan (training set), akurasinya mencapai sekitar 97-99 persen. Sementara pada pengujian terhadap populasi yang berbeda (testing set), rata-rata akurasinya mencapai sekitar 86 persen dengan Negative Predictive Value (NPV) sebesar 94 persen.
 
"Pada testing set hasilnya memang sedikit turun, tetapi nilainya masih cukup baik. Akurasi rata-ratanya adalah 86 persen dan Negative Predictive Value-nya 94 persen," ujar dr. Rony.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa alat tersebut masih berada pada tahap penelitian, dan belum ditujukan sebagai pengganti dokter.

"Alat ini adalah pendamping dokter. Dengan alat yang simpel dan sederhana, kita bisa membantu menggantikan peran pemeriksaan lung ultrasound, di tempat-tempat yang tidak memiliki fasilitas tersebut," kata dr. Rony.


Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH