Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski
Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski

Menyambut Taper Tantrum

Angga Bratadharma • 07 September 2021 10:12

"Dari segi mata uang rupiah, fundamental Indonesia lebih baik dari 2013 pada saat taper tantrum atau melonjaknya imbal hasil pada obligasi AS," kata dia.
 
DBS yang berkantor pusat di Singapura, meyakini Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas di pasar keuangan, meskipun sikap bank sentral dalam beberapa waktu terakhir mengarah ke kebijakan akomodatif untuk mendorong pemulihan ekonomi.
 
Di samping itu, selain ancaman dari taper tantrum akibat pemulihan ekonomi AS, Radhika berpandangan bahwa pulihnya ekonomi Indonesia akan sangat bergantung dari realisasi vaksinasi covid-19. Kesehatan masyarakat harus dikedepankan agar Indonesia segera keluar dari krisis pandemi covid-19.
 
"Vaksinasi jelas memegang peran penting dalam upaya pemulihan ekonomi dan pemetaan investasi di masa mendatang. Keuangan publik Indonesia telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama dua dekade terakhir. Pemotongan suku bunga tidak akan terjadi, akan tetapi stabilitas pasar keuangan akan menjadi prioritas," kata Radhika.
 
Tak semasif saat 2013
 
Terlepas dari itu semua, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menilai, dampak dari tapering yang dilakukan Fed kali ini tidak akan signifikan kepada Indonesia seperti di saat 2013. Hal itu lantaran arus modal yang masuk saat ini tidak sebesar saat di 2013 dan di 2018.
 
"Tapi (tapering) tidak akan berdampak semasif ketika tapering terjadi di 2013-2015. Kenapa? Karena arus modal yang masuk di 2013 itu memang sangat besar dan perbandingannya sangat besar (dengan di 2020-2021). Kalau kita lihat ke belakang arus modal tidak sebesar yang lalu, sehingga efeknya tidak setinggi yang kemarin," tuturnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika disinggung dampak tapering terhadap sektor keuangan terutama industri pasar modal, Martha mengaku tak mudah untuk diidentifikasi. "Sektor apa saja yang terdampak agak susah. Tapi dana asing biasanya mayoritasnya masuk ke saham kapitalisasi besar sehingga kalau pun terdampak adalah saham kapitalisasi besar seperti BCA, Bank Mandiri, dan Telkom," tuturnya.
 
Lebih lanjut, Martha mengatakan, kondisi itu yang membuat pihaknya sampai saat ini belum mengubah proyeksi IHSG, meski pun tapering kemungkinan diberlakukan di akhir tahun ini. "Sampai saat ini analisis kami tidak mengubah pandangan kami untuk IHSG tetap di level 6.880 (sampai akhir tahun)," pungkasnya.

 
(ABD)
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif