Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski
Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski

Menyambut Taper Tantrum

Angga Bratadharma • 07 September 2021 10:12

Ia mengingatkan pembelajaran berharga yang pernah terjadi ketika tapering dilakukan pada 2013 di mana saat itu terjadi pembalikan arus modal dari negara berkembang termasuk dari Indonesia pergi ke negara utama. Dengan pengalaman itu, setidaknya Indonesia bisa memprediksi dampaknya seperti apa terhadap struktur perekonomian.
 
"Hal ini menjadi pelajaran berharga dan perhatian pemerintah dan Bank Indonesia. Apabila benar-benar terjadi, maka pemerintah dan Bank Indonesia harus sudah siap untuk menangkalnya," tegas Ibrahim.
 
Strategi hadapi risiko ketidakpastian

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untungnya, Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan tak tinggal diam dan cukup responsif melihat adanya ketidakpastian di pasar keuangan global. Berdasarkan pandangannya, risiko ketidakpastian pasar keuangan global bakal berlanjut maka pemerintah mematok asumsi suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 di 2022 di kisaran 6,32-7,27 persen.

"Tingkat suku bunga atau yield ditentukan oleh mekanisme pasar. Asumsi tingkat suku bunga SUN 10 tahun pada 2022 mencerminkan kebutuhan pembiayaan APBN serta risiko ketidakpastian pasar keuangan global yang diperkirakan masih akan berlangsung," ucap Sri Mulyani.
 
Dengan kondisi masih tak menentu, dia menekankan, salah satu risiko yang harus diwaspadai terhadap tingkat imbal hasil SUN adalah perubahan kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang didorong oleh pemulihan ekonomi yang cepat serta stimulus fiskal yang besar.
 
"Kita pernah belajar dari fenomena terdahulu seperti taper tantrum di 2013, dengan ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS dapat mendorong pembalikan arus modal dari negara berkembang," paparnya.
 
Menyambut <i>Taper Tantrum</i>
 
Atas kondisi itu, ia mengaku, pemerintah akan terus bersinergi dengan otoritas moneter dan jasa keuangan dalam melakukan pemantauan dan mengambil langkah-langkah kebijakan secara antisipatif dan terkoordinasi. Salah satu langkah sinergi dengan otoritas lain seperti BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah pendalaman dan pengembangan pasar keuangan.
 
Sri Mulyani sepakat bahwa pasar keuangan domestik yang dalam, aktif, dan likuid sangat diperlukan dalam meningkatkan stabilitas pasar. Karena dengan begitu, maka pada gilirannya akan menurunkan yield SUN.
 
"Pasar keuangan yang dalam, aktif, dan likuid, akan menjadi sumber pembiayaan yang stabil, efisien, dan berkesinambungan. Hal ini akan meminimalkan dampak risiko volatilitas aliran modal investor asing terhadap yield SUN," tutur Sri Mulyani.
 
Tak hanya dari sisi fiskal, ibarat dua sisi mata uang koin, kebijakan moneter juga diperkuat untuk menghadapi tapering. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku telah menyusun berbagai langkah dalam menghadapi kemungkinan perubahan kebijakan pengurangan likuiditas alias tapering pada tahun ini.
 
Nantinya, bank sentral tak hanya akan mengandalkan kebijakan suku bunga acuan tapi juga menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil. Adapun efisiensi kurs rupiah dan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tidak bisa dilihat dari sudut pandang teori.
 
 
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif