Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski
Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski

Menyambut Taper Tantrum

Angga Bratadharma • 07 September 2021 10:12

Artinya, sehingga BI perlu mengintervensi pasar domestik melalui spot, Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder. "Semua ini telah kami pelajari dari krisis-krisis yang lalu," jelas Perry.
 
Dengan seluruh kebijakan moneter tersebut, Perry optimistis stabilisasi ekonomi akan lebih baik dan berdaya tahan dalam menghadapi tapering The Fed nantinya. Selain itu, kebijakan makroprudensial BI juga di relaksasi dalam menghadapi situasi saat ini karena kebijakan moneter tak bisa berdiri sendirian, melalui pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) dan lainnya.
 
Krisis kali ini berbeda
 
Meski dihadapkan pada krisis dan ancaman tapering, namun Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee berpendapat krisis yang terjadi kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya. Saat ini orang memiliki dana namun tidak bisa berbelanja karena dibatasinya aktivitas dan bisnis tidak berjalan dengan optimal.
 
Bahkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan saat ini meningkat yang kemudian berdampak pada meningkatnya jumlah investor di pasar modal. "Ada orang di rumah tidak ngapa-ngapain tapi dia punya tabungan, dia transaksi di pasar saham. Jadi ketika tapering terjadi, pasarnya koreksi, orang akan kembali lagi masuk ke pasar sehingga harganya bergerak naik," ujar Hans.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat kenaikan jumlah rekening simpanan nasabah per Juli 2021 sebanyak 12,6 persen (40.251.228 rekening) secara tahun ke tahun (yoy) menjadi 359.949.911 rekening. Kenaikan ini cukup signifikan dibandingkan dengan posisi Juli tahun lalu yang berada pada posisi 319.698.683 rekening.
 
Selanjutnya, distribusi kenaikan simpanan nasabah secara yoy terpantau cukup merata. Per Juli 2021, semua kategori (tier) simpanan mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tier dengan saldo rekening di atas Rp5 miliar. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada industri perbankan nasional.
 
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pada Juli 2021 secara yoy nominal simpanan pada umumnya memang mengalami kenaikan. Namun secara bulan ke bulan (mtm), terjadi penurunan nominal simpanan dengan tiering di atas Rp2 miliar yakni sebesar minus 0,1 persen setara dengan Rp3,83 triliun.
 
"Artinya, dana pada tiering tersebut yang mayoritas merupakan dana milik korporasi mulai terdistribusi merata. Hal ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi nasional tengah bergerak ke arah yang lebih baik, terlihat dari dunia usaha yang mulai bersiap untuk kembali melakukan ekspansi," ujar Purbaya.
 
Lebih baik ketimbang 2013
 
Sementara itu, Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao berpendapat, fundamental ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan saat taper tantrum pada 2013. Hal itu ketika modal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, terserap oleh kenaikan imbal hasil surat utang Pemerintah Amerika Serikat.
 
"Hal ini menunjukkan bahwa meski ada beberapa dampak dari aset emerging markets yang diakibatkan oleh penurunan (taper), (faktor) ini tidak lantas menjadi signifikan setelah adanya volatilitas," kata Radhika Rao.
 
Radhika melihat fundamental nilai tukar rupiah sudah lebih baik, jika menghadapi gejolak karena adanya arus modal keluar, seperti wacana yang muncul dalam beberapa waktu terakhir karena gestur The Federal Reserve menyikapi laju pemulihan ekonomi AS.
 
 
Halaman Selanjutnya
"Dari segi mata uang rupiah,…
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif