Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski
Ilustrasi. AFP PHOTO/Brendan Smialowski

Menyambut Taper Tantrum

Angga Bratadharma • 07 September 2021 10:12
KEBIJAKAN Federal Reserve di sisa tahun ini atau di awal tahun menjadi sorotan utama para pelaku pasar, pemangku kepentingan, para ekonom, hingga para pengambil kebijakan utama di hampir semua negara di dunia. Adapun kebijakan itu terkait rencana mengetatkan kebijakan moneternya atau memberlakukan taper tantrum.
 
Sebagai gambaran umum, tapering merupakan kebijakan mengurangi nilai program pembelian aset atau Quantitative Easing (QE) oleh The Fed. Ketika hal tersebut dilakukan, maka aliran modal akan keluar dari negara emerging market dan kembali ke Negeri Paman Sam sehingga hal tersebut dapat memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum.
 
Pada 2013, dengan ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS, mendorong pembalikan arus modal dari negara-negara berkembang, sehingga nilai tukar rupiah merosot tajam. Kondisi tersebut yang ditakutkan kembali terjadi dengan The Fed diperkirakan bakal melakukannya di sisa tahun ini atau di awal tahun depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu diperkuat dengan pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mulai melakukan tapering pembelian aset di tahun ini. "Pandangan saya adalah bahwa tes progres lebih lanjut yang substansial telah dipenuhi untuk inflasi. Ada juga progres yang jelas menuju lapangan kerja maksimum," kata Powell.
 
Meski mengurangi pembelian aset, The Fed memastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level terendah atau mendekati nol, sambil melanjutkan program pembelian aset sebesar USD120 miliar per bulan. Karena itu, Fed meminta pergerakan memulai tapering tidak boleh diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera menyusul.
 
Menyambut <i>Taper Tantrum</i>

Ketua Federal Reserve Jerome Powell. FOTO: AFP
 
"Waktu dan laju pengurangan pembelian aset yang akan datang tidak akan ditujukan untuk membawa sinyal langsung mengenai waktu kenaikan suku bunga, di mana kami telah mengartikulasikan tes yang berbeda dan secara substansial lebih ketat," jelas Powell.
 
Adapun risalah pertemuan The Fed pada Juli mengindikasikan bahwa tapering pembelian aset tahun ini sudah tepat bagi bank sentral. Namun, tidak ada keputusan mengenai pembelian aset baru pada pertemuan itu.
 
"Saya berpandangan, seperti sebagian besar peserta bahwa jika ekonomi berkembang luas seperti yang diantisipasi, maka bisa jadi tepat untuk mulai mengurangi laju pembelian aset tahun ini," terang Powell.
 
"Bulan intervensi telah membawa lebih banyak progres dalam bentuk laporan ketenagakerjaan yang kuat pada Juli, namun pada penyebaran lebih lanjut varian delta. Kami akan berhati-hati menilai data yang masuk dan risiko yang berkembang," tambahnya.
 
Dengan kondisi itu, tentunya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus mempersiapkan strategi kebijakan atau bauran ekonomi yang bisa menangkal apabila benar-benar terjadi tapering oleh The Fed. Untuk mengantisipasinya, pemerintah harus sudah mempersiapkan beberapa instrumen yang perlu disiapkan sedini mungkin.
 
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi meminta pemerintah mewaspadai kemungkinan The Fed yang bakal mengurangi pembelian aset atau memberlakukan taper tantrum dan menaikkan suku bunga di 2022. Hal itu mengingat data ekonomi AS yang kian kinclong dan berdampak terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
 
Imbasnya bank sentral AS mulai membuka wacana soal pengetatan kebijakan. "Tanda-tanda tersebut sudah terlihat dari inflasi yang tinggi setelah Pemerintah AS melakukan stimulus jumbo yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maka, ini merupakan ancaman yang sangat nyata. Indonesia tidak boleh lengah, harus selalu waspada," tegas Ibrahim.

 
 
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif