Para siswa yang harus mendayung sendiri perahu-perahu tersebut mengarungi perairan. (Foto: YELLOW BOAT OF HOPE FOUNDATION)
Para siswa yang harus mendayung sendiri perahu-perahu tersebut mengarungi perairan. (Foto: YELLOW BOAT OF HOPE FOUNDATION)

Mengais Ilmu di Atas Perahu Kuning

Rona kisah inspiratif
Dhaifurrakhman Abas • 03 Februari 2019 19:02
Zamboanga: Bayangkan jika pergi ke sekolah berarti Anda harus menyisiri hutan bakau. Anda juga harus mengarungi sungai deras agar sampai tepat waktu di bangku kelas.
 
Buku sekolah mesti diikat dalam kantong plastik di atas kepala. Sementara itu, Anda juga harus menjaga wajah tetap berada di atas air sambil berjuang melawan arus kencang.
 
Ya, ini bukan lah cerita haru dari dongeng ataupun novel. Inilah yang selama ini dirasakan beberapa anak di Zamboanga, Filipina dalam menjalankan rutinitas sehari-hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beruntung kini anak-anak tadi semakin mudah dalam mendapatkan akses pendidikan. Sebuah badan amal, The Yellow Boat of Hope Foundation, mencurahkan bantuan kepada para siswa dengan menyediakan perahu berwarna kuning.

Bermula dari postingan di media sosial

 
Sore itu, sebuah informasi masuk ke akun media sosial Jay Jaboneta, sang pendiri The Yellow Boat of Hope Foundation. Informasi tersebut menyiarkan kondisi anak-anak di Filipina yang harus berenang mengarungi air dalam, sejauh satu kilometer hanya untuk sampai ke sekolah.
 
"Itu berbahaya dan tidak aman bahkan jika mereka adalah perenang yang handal," ucap Jaboneta, dikutip BBC.
 
Mengais Ilmu di Atas Perahu Kuning
Dulu siswa di sana harus mengangkat tinggi-tinggi tas mereka untuk menyeberang hutan mangrove. (Foto: BBC)
 
Sebetulnya di lokasi itu terdapat perahu yang dapat digunakan. Namun oleh masyarakat sekitar perahu-perahu tersebut digunakan buat memancing.
 
Maklum, mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Tak ada jalan pintas. Para bocah mau tidak mau harus membundel buku dan seragam mereka di dalam kantong plastik agar tetap kering saat sampai ke sekolah.
 
"Saya tidak tahu tentang situasi ini. Ketika saya tahu, saya terkejut dan mempostingnya di Facebook," ungkap Jaboneta.
 

Baca juga: Bernostalgia dengan Tsugaru, Kereta Klasik Jepang

Berbagai hal terjadi pasca Jaboneta memposting ulang informasi yang didapatnya melalui akun facebook miliknya. Beragam respons lantas berdatangan.
 
Beberapa orang bahkan ada yang langsung menjanjikan bantuan berupa uang. Lantas yayasan ini mendonorkan sebagian uang tersebut untuk keperluan membeli perahu-perahu.
 
"Semuanya dicat dengan warna kuning cerah sesuai dengan warna bus sekolah negara itu," katanya.
 
Mengais Ilmu di Atas Perahu Kuning
Perahu yang bisa memudahkan para siswa menuju sekolah mereka, tanpa harus menerjang air (Foto: YELLOW BOAT OF HOPE FOUNDATION)
 
Sebuah perahu kecil berharga sekitar USD200 dan dapat memuat sekitar enam hingga delapan anak. Hanya saja, belum ada yang bersedia menjadi nakhoda. Para siswa yang harus mendayung sendiri perahu-perahu tersebut mengarungi perairan.
 
Perahu yang lebih besar, beberapa di antaranya bahkan memiliki mesin. Dikemudikan oleh siswa yang lebih tua, para guru hingga orang tua.
 

Perahu, asrama, dan ruang kelas bergerak

 
Seiring berkembangnya waktu, The Yellow Boat of Hope Foundation juga mengambil beberapa proyek lain untuk membantu masyarakat miskin atau terpencil dalam mengakses pendidikan. Saat ini mereka tengah membangun asrama buat para siswa.
 
“Ini agar memudahkan anak-anak tidak perlu berjalan berjam-jam untuk sampai ke sekolah,” ujar Jaboneta.
 
Selain itu, salah satu proyek terbaru yang tengah dikembangkan adalah perahu besar yang dilengkapi dengan materi pendidikan. Perahu rencananya bakal bergerak mengarung ke daerah terpencil dengan seorang guru di atasnya.
 
“Ini akan berfungsi sebagai ruang kelas bergerak,” ujarnya.
 
Mengais Ilmu di Atas Perahu Kuning
Ketakukan tatkala menyeberangi hutan bakau, kini berubah menjadi senyum di wajah para siswa (Foto: YELLOW BOAT OF HOPE FOUNDATION)
 
Secara keseluruhan, badan amal ini telah bekerja dengan hampir 200 komunitas terhitung sejak 2010. Badan amal ini juga seringkali menggaet para tokoh masyarakat atau otoritas sekolah dalam mengembangkan program-programnya.
 
"Setelah kami mendanai perahu, mereka kemudian dapat mengambil alih proyek dan mengoperasikan sendiri," tandasnya.
 
Menjajal Wisata Ekstrem di Rampi Luwu Utara

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif