Pimpinan LKSA YUSOLI, Muhammad Yusuf Djamal
Pimpinan LKSA YUSOLI, Muhammad Yusuf Djamal

Berangkat dari Hobi, Djamal Kini Bina 81 Anak Yatim dan Dhuafa Sejak 1989

Bramcov Stivens Situmeang • 07 Maret 2026 15:10
Ringkasnya gini..
  • Muhammad Yusuf Djamal, mendirikan lembaga sosial anak justru berawal dari hobi dan kecintaannya pada dunia sosial sejak muda.
  • Sudah lebih dari t3 iga dekade Yusuf mengelola LKSA YUSOLI dan mengasuh puluhan anak yatim serta dhuafa di Jakarta.
  • Di bulan Ramadan ini, LKSA YUSOLI kembali mendapat kunjungan dari SMAN 34 Jakarta dalam kegiatan Social Teaching.
Jakarta: Tak semua pengabdian lahir dari panggilan profesi. Bagi Muhammad Yusuf Djamal, mendirikan lembaga sosial anak justru berawal dari hobi dan kecintaannya pada dunia sosial sejak muda.
 
Kini, sudah lebih dari tiga dekade ia mengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) YUSOLI dan mengasuh puluhan anak yatim serta dhuafa di Jakarta. Djamal menjelaskan, anak dhuafa adalah anak yang masih memiliki ayah, ibu, atau anggota keluarga lainnya, tetapi berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lemah.
 
Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, termasuk pendidikan dan biaya hidup. Ia sendiri mulai aktif di dunia sosial sejak bergabung dengan Karang Taruna pada 1984.

Latar belakang pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial Muhammadiyah semakin mempertebal minatnya untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. “Saya bergerak sebetulnya dari hobi. Sosial senang aja,” ujar Yusuf kepada Medcom.id dalam acara Social Teaching yang diselenggarakan SMAN 34 Jakarta di LKSA YUSOLI Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026.
 
Titik baliknya datang saat Djamal menjalani praktikum mahasiswa di Panti Asuhan Al-Mubarokah, yang membuatnya tergerak untuk mendirikan lembaga serupa. Dorongan untuk mendirikan yayasan datang dari warga sekitar Lebak Lestari yang selama ini menyaksikan konsistensi Yusuf dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari acara santunan hingga pengajian.
 
Atas dukungan warga itulah, LKSA YUSOLI resmi berdiri pada 1989. Nama YUSOLI merupakan singkatan dari Yayasan Ukhuwah Sosial Lestari.
 
Berbeda dengan panti asuhan pada umumnya, LKSA YUSOLI beroperasi sebagai lembaga non-panti sesuai Permensos Nomor 30 Tahun 2011. Sistem ini memungkinkan penanganan anak-anak tidak hanya yang tinggal di dalam panti.
 
Namun juga mereka yang berada di lingkungan sekitar, seperti di tingkat RT dan RW setempat. “Untuk kependidikan, sementara kita masih dalam rangka bagaimana donatur. Misalnya donatur, Pak Jamal saya menyumbang. Misalnya, nyumbang anak-anak sekolah, ada enggak yang sekolah? Ini Pak, data-data anaknya, sekian anak, silakan,” ujar Djamal, sapaan karib Muhammad Yusuf Djamal.
 
Dengan pengalamannya yang telah merentang dari era Orde Baru hingga kini, Djamal yang juga menjabat sebagai koordinator 333 panti asuhan se-DKI Jakarta ini berharap pemerintah lebih serius memperhatikan lembaga-lembaga sosial anak. Ia menilai kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan sosial di masa lalu lebih terasa nyata dibanding saat ini.
 
“Kalau di zaman dulu, sosial politik itu benar-benar lekat. Kalau sekarang terbalik, politik sosial,” kenang dia.
 
Di bulan Ramadan ini, LKSA YUSOLI kembali mendapat kunjungan dari SMAN 34 Jakarta dalam kegiatan Social Teaching. Yusuf menyambut positif keterlibatan pihak luar, termasuk institusi pendidikan dan media, yang dinilainya turut berperan dalam memperkenalkan lembaganya kepada masyarakat luas.
Baca juga:  Kisah Laurent Simons, Si Anak Ajaib Belgia Lulus PhD Fisika Kuantum di Usia 15 Tahun


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan